Gawat! Setengah Laut Dunia Sudah Kena Dampak Perubahan Iklim

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Gawat! Setengah Laut Dunia Sudah Kena Dampak Perubahan Iklim
Ilustrasi laut. (Pexels/Berend de Kort)

Kenaikan suhu Bumi sekarang telah menembus bagian terdalam lautan.

Suara.com - Model iklim baru menunjukkan bahwa setengah lautan di dunia telah terkena dampak perubahan iklim.

Tercatat, sejak 1950-an, laut telah menyerap sekitar 93 persen energi yang memasuki sistem iklim. Bahkan, kenaikan suhu Bumi sekarang telah menembus bagian terdalam lautan.

Data tentang laut dalam memang sulit didapat, tapi menurut perkiraan yang didasarkan pada pengukuran terbaru dan melibatkan hampir selusin model iklim, menunjukkan bahwa perubahan iklim telah berdampak pada setengah (20-55 persen) Atlantik, Pasifik, dan Samudera Hindia.

Tak hanya itu, hanya dalam enam dekade, perubahan suhu dan salinitas yang disebabkan oleh manusia dapat menyebar ke 80 persen lautan dunia.

Baca Juga: Ngeri.. Ilmuwan Beberkan Pemanasan Bumi di Masa Depan

Ilustrasi perubahan iklim. [Shutterstock]
Ilustrasi perubahan iklim. [Shutterstock]

Menggunakan pengukuran suhu dan salinitas dari laut dalam dan memasukkannya ke dalam 11 model iklim saat ini, para ilmuwan menyimulasikan lautan dan sirkulasi atmosfer selam bertahun-tahun, dengan dan tanpa kontribusi emisi manusia.

Selama paruh abad ke-20, para ahli menemukan bahwa pemanasan yang disebabkan oleh manusia bertanggung jawab atas sebagian besar perubahan laut yang diamati, secara statistik berbeda dari apa yang akan terjadi secara alami karena panas dan garam memengaruhi kepadatan dan sirkulasi lautan.

"Ini mempengaruhi sirkulasi lautan global, kenaikan permukaan laut, dan menjadi ancaman bagi masyarakat dan ekosistem manusia," kata Yona Silvy, ilmuwan iklim dari Sorbonne University di Perancis, seperti dikutip Science Alert, Selasa (25/8/2020).

Sebagian besar, panas dan garam dari permukaan laut "diangkut" relatif lambat ke bagian dalam lautan, yang berarti bahwa banyak bagian terdalam lautan mengalami kelambatan dalam perubahan yang disebabkan manusia.

Meski begitu, beberapa area yang lebih dalam bersikulasi lebih cepat dan dengan demikian merespons emisi lebih cepat.

Baca Juga: Wow, Erdogan Temukan Cadangan Gas Alam Besar di Laut Hitam

Sebagai contoh dalam model baru, Samudera Selatan yang berventilasi baik mengalami perubahan yang disebabkan oleh manusia cukup cepat, muncul pada awal tahun 1980-an.

Sementara itu, di Belahan Bumi Utara, lautan membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons, dengan sebagian besar perubahan dihitung antara 2010 dan 2040.

Bersama-sama pada 2020, model tersebut menunjukkan antara 20 persen dan 55 persen lautan dunia telah diubah oleh perubahan iklim antropogenik atau juga dikenal sebagai pemanasan global.

Pada pertengahan abad, perubahan ini dapat mencapai 50 hingga 60 persen lautan dunia dan pada 2080, menjadi 55 hingga 80 persen.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari pola perubahan yang diamati di interior laut disebabkan oleh manusia dan akan terus meningkat dengan emisi CO2 yang berkelanjutan," tulis para penulis penelitian.

Asap yang kaya karbon dioksida mengepul dari cerobong-cerobong asap pembangkit listrik tenaga batu bara (Shutterstock).
Asap yang kaya karbon dioksida mengepul dari cerobong-cerobong asap pembangkit listrik tenaga batu bara (Shutterstock).

Para ahli masih belum sepenuhnya memahami hubungan antara perubahan yang lebih dalam pada garam dan panas dan pemanasan permukaan, atau bagaimana perubahan ini berdampak pada sirkulasi laut.

Ini membutuhkan penyelidikan yang lebih jauh, terutama di Belahan Bumi Selatan di mana data laut dalam masih sangat sedikit dan jarang. Studi ini telah dipublikasikan di Nature Climate Change.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS