Di Tengah Pandemi, Serangan Panik Topik Paling Dicari di Google

Dythia Novianty, Lintang Siltya Utami

Senin, 31 Agustus 2020 | 15:00 WIB
Di Tengah Pandemi, Serangan Panik Topik Paling Dicari di Google
Ilustrasi Google Search. [Shutterstock]

Suara.com - Pencarian Google untuk frase "serangan panik" mencapai rekor tertinggi pada awal krisis virus Corona. Penemuan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran bahwa pandemi Covid-19 dapat memicu krisis kesehatan mental.

Namun, para ahli mengatakan bahwa menilai seberapa luas masalah kesehatan mental sulit untuk diukur.

"Pengawasan kesehatan masyarakat tradisional tidak memiliki ketangkasan untuk memberikan wawasan atas permintaan. Akibatnya, ketika pemimpin membutuhkan data real time untuk menginformasikan tanggapan mereka terhadap beban kesehatan mental akibat Covid-19, yang bisa dihimpun hanyalah spekulasi teoritis," kata Dr. John Ayers, spesialisasi dalam memantau kebutuhan kesehatan masyarakat.

Tetapi, menurut sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam JAMA Internal Medicine menemukan bukti "rekor tertinggi" dalam potensi serangan kecemasan atau serangan panik melalui pencarian Google.

Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. Ayers dan Dr. Alicia Nobles dari University of California San Diego (UCSD) menganalisis kueri penelusuran Google yang menyebutkan "serangan panik" yang muncul dari Amerika Serikat pada Januari 2004 hingga 9 Mei 2020. Ini termasuk pertanyaan seperti "Apakah saya mengalami serangan panik?", "Tanda serangan panik", atau "Gejala serangan panik".

Tim ahli mempelajari serangan panik karena itu adalah masalah kesehatan mental yang umum dan dapat menyebabkan masalah mental lainnya, seperti depresi dan dipicu oleh stresor luar, dan menular secara sosial, terutama yang relevan selama pandemi.

Dengan mengevaluasi tren setelah Presiden Trump pertama kali mengumumkan keadaan darurat nasional pada 13 Maret lalu untuk menilai dampak Covid-19, tim ahli menemukan pencarian terkait kecemasan akut yang parah mencapai rekor tertinggi.

Peningkatan terbesar dalam kueri terjadi antara 16 Maret dan 14 April, secara kumulatif meningkat 17 persen.

Peningkatan tersebut bertepatan dengan peluncuran pedoman jarak sosial nasional dan perluasannya, Amerika Serikat melampaui China dengan kasus yang paling banyak dilaporkan, merekomendasikan penggunaan masker, dan Amerika Serikat melampaui Italia untuk sebagian besar angka kematian. Kemudian kueri kembali ke level biasa pada 15 April hingga akhir studi.

baca juga

"Secara praktis, selama 58 hari pertama pandemi Covid-19 diperkirakan ada 3,4 juta pencarian total terkait dengan kecemasan akut yang parah di Amerika Serikat," kata Dr. Benjamin Althouse, ilmuwan utama di Institute for Disease Modeling, seperti dikutip Mirror, Senin (31/8/2020).

Menurut rekan penulis studi Dr. Eric Leas, asisten profesor di Department of Family Medicine and Public Health UCSD, pandemi dan respons kesehatan masyarakat dapat memiliki banyak dampak kesehatan yang tidak dinginkan.

"Serangan panik tidak bisa dianggap enteng karena bisa membuat seseorang masuk ke ruang gawat darurat dengan sesak napas, jantung berdebar-debar, nyeri dada, dan perasaan takut yang intens. Hasil penelitian kami tidak diragukan lagi, ini memerlukan peningkatan layanan kesehatan mental," tambah Dr. Ayes.

Para ilmuwan mengatakan bahwa salah satu contoh nyata adalah hotline Call4Calm di Illinois yang telah mendukung orang-orang dengan kecemasan akut.

"Saluran telepon yang serupa harus diluncurkan secara nasional dan ditampilkan secara mencolok dalam hasil pencarian mereka yang mencari bantuan online," ucap Dr. Derek Johnson, rekan penulis di Department of Medicine UCSD.

Tenang, Ini Cara Meredam Kepanikan Akibat Wabah Corona
Ilustrasi kepanikan akibat wabah corona. [Shutterstock]

Sementara menurut Dr. Adam Poliak, rekan peneliti dalam Ilmu Komputer di Barnard College, mengatakan mungkin diperlukan waktu bertahun-tahun untuk sepenuhnya memahami dampak sosial dari Covid-19.

Seiring berjalannya waktu, mungkin layanan lain akan dibutuhkan untuk menanggapi dampak tambahan dan pendekatan berbasis data cepat dapat digunakan untuk menargetkan dan memprioritaskan tanggapan terhadap dampak tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Google Rilis Daftar Film Indonesia Paling Banyak Dicari di Internet

Google Rilis Daftar Film Indonesia Paling Banyak Dicari di Internet

Tekno | Minggu, 29 Maret 2020 | 13:30 WIB

Mudah Takut dan Panik? Yuk, Kenali Cara Mengendalikannya

Mudah Takut dan Panik? Yuk, Kenali Cara Mengendalikannya

Your Say | Jum'at, 06 Maret 2020 | 09:37 WIB

Merasa Trauma, Emilia Clarke Belum Ingin Berfoto dengan Penggemar

Merasa Trauma, Emilia Clarke Belum Ingin Berfoto dengan Penggemar

Health | Selasa, 24 Desember 2019 | 14:05 WIB

Nah, Google Segera Batasi Iklan Berbau Politik

Nah, Google Segera Batasi Iklan Berbau Politik

Tekno | Jum'at, 22 November 2019 | 10:00 WIB

Kata Warganet, Mandi Air Hangat Tidak Bikin Menggigil saat Panic Attack

Kata Warganet, Mandi Air Hangat Tidak Bikin Menggigil saat Panic Attack

Health | Kamis, 14 November 2019 | 15:15 WIB

Cara Menyaring Konten Negatif Saat Pencarian

Cara Menyaring Konten Negatif Saat Pencarian

Tekno | Kamis, 14 November 2019 | 14:09 WIB

Terkini

Siap Sambut Pengunjung Mulai 2 November, Eiger Nature Wadahi Konservasi dan Pemberdayaan Warga Bogor

Siap Sambut Pengunjung Mulai 2 November, Eiger Nature Wadahi Konservasi dan Pemberdayaan Warga Bogor

Bogor | Rabu, 28 Oktober 2026 | 00:28 WIB

Kapolres Bogor: Terduga Pelaku Pembunuh Bobotoh Cilik Bukan Suporter Bola

Kapolres Bogor: Terduga Pelaku Pembunuh Bobotoh Cilik Bukan Suporter Bola

Jabar | Rabu, 28 Oktober 2026 | 00:05 WIB

13 Hari Kasus Pengeroyokan Jurnalis Palembang Belum Tuntas, Koalisi Pers Desak Kapolda Dicopot

13 Hari Kasus Pengeroyokan Jurnalis Palembang Belum Tuntas, Koalisi Pers Desak Kapolda Dicopot

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:58 WIB

Pimpinan Natura City Disebut Tak Akan Hadiri Mediasi Sengketa Tanah 14 Hektare di Bogor

Pimpinan Natura City Disebut Tak Akan Hadiri Mediasi Sengketa Tanah 14 Hektare di Bogor

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Palembang hingga OKI Diguyur Hujan Buatan, TNI AU Kerahkan Hercules dan Casa untuk Atasi Karhutla

Palembang hingga OKI Diguyur Hujan Buatan, TNI AU Kerahkan Hercules dan Casa untuk Atasi Karhutla

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:38 WIB

Natura City Tolak Proposal Damai PT SIR dalam Sengketa Tanah 14 Hektare di Gunung Sindur

Natura City Tolak Proposal Damai PT SIR dalam Sengketa Tanah 14 Hektare di Gunung Sindur

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:35 WIB

Tekanan Outflow Asing, Investor Diminta Hati-hati Pilih Saham Perbankan

Tekanan Outflow Asing, Investor Diminta Hati-hati Pilih Saham Perbankan

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:55 WIB

Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet

Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet

Jawa Tengah | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar

Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Satu Tahun Sekolah Rakyat Berjalan, Pemerintah Terus Berupaya Benahi Layanan Siswa

Satu Tahun Sekolah Rakyat Berjalan, Pemerintah Terus Berupaya Benahi Layanan Siswa

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:32 WIB

×