Seru, Sambil Jalan Kaki Bisa Isi Daya Ponsel Pakai Energi Angin

RR Ukirsari Manggalani | Lintang Siltya Utami
Seru, Sambil Jalan Kaki Bisa Isi Daya Ponsel Pakai Energi Angin
Pembangkit energi listrik dengan kincir angin di Westermeerdijk Urk, Belanda. Sebagai ilustrasi (Shutterstock)

Dengan berjalan kaki saja, sudah bisa recharge baterai ponsel. Keren, bukan? Begini prinsipnya.

Suara.com - Angin telah menjadi sumber energi yang dimanfaatkan di berbagai industri. Beberapa ahli menghasilkan listrik dari angin, beberapa lainnya membuat perangkat bertenaga angin, seperti yang dilakukan Ya Yang dari Beijing Institute of Nanoenergy and Nanosystems dengan membuat perangkat yang menggunakan angin.

Dalam Cell Reports Physical Science, para ahli membuat perangkat yang bisa bekerja dalam kecepatan hanya 1,6 m per detik. Besaran itu setara dengan angin yang dihasilkan ketika seseorang berjalan kaki. Dengan kata lain, jika teknologi ini ditempatkan di dalam ponsel, maka daya akan terisi ketika pemiliknya berjalan kaki.

"Kami menempatkan nanogenerator di lengan seseorang dan aliran udara lengan yang terayun sudah cukup untuk menghasilkan tenaga," kata Ya Yang dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip IFL Science pada Senin (28/9/2020).

Penemuan ini merupakan nanogenerator triboelektrik, yang berarti elektrifikasi berasal dari isolator dan pemisah permukaan lain. Prototipe yang dikenal sebagai B-TENG menghasilkan 2,5 miliWatt bahkan dalam angin kencang ms-1, satu miliar kali lebih sedikit daripada sebagian besar turbin.

Baca Juga: Kendaraan Bermodal Energi Listrik, Mampu Bersaing di Indonesia

Tenaga yang dihasilkan dari angin meniup plastik. [Chen et al, Cell Reports Physical Science/IFL Science].
Tenaga yang dihasilkan dari angin meniup plastik. [Chen et al, Cell Reports Physical Science/IFL Science].

Di sisi lain, ukurannya lebih kecil dari kartu kredit dan masih bisa menyalakan 100 lampu LED secara seri dan mengisi kapasitor yang kuat dalam tiga menit.

B-TENG tidak beroperasi seperti versi turbin sumbu horizontal yang diperkecil. Sebaliknya, terbuat dari dua strip plastik, masing-masing membawa elektroda perak yang dibatasi dalam tabung. Saat udara mengalir melalui tabung, strip saling bertabrakan dan terpisah lagi.

Potongan-potongan listrik menjadi bermuatan, seperti listrik statis yang dihasilkan dari sepatu yang bergesekan dengan karpet tertentu. Alih-laih dilepaskan dalam percikan singkat, muatan berubah menjadi arus bolak-balik berdasarkan siklus strip yang bersatu untuk menukar muatan.

"Tujuan kami bukan untuk menggantikan teknologi pembangkit listrik tenaga angin yang sudah ada. Tujuan kami untuk memecahkan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh turbin angin tradisional," tambah Ya Yang.

Selain potensi untuk bekerja dalam skala yang sangat kecil, Ya Yang mengatakan B-TENG sebagian besar bisa dibuat dari plastik murah, meskipun saat ini menggunakan beberapa bahan yang tidak cocok untuk versi skala komersial.

Baca Juga: Polusi di Jakarta Semakin Buruk, Anies Minta TJ Pakai Energi Listrik

Dalam kondisi angin optimal, B-TENG menghasilkan 3,2 persen dari energi angin yang tersedia. Ya Yang berharap untuk meningkatkannya sehingga bidangnya bisa ditempatkan di atap untuk memberi daya pada seluruh bangunan di mana situasi belum sesuai bisa dipasok tenaga surya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS