alexametrics

Gempa Nias Bermagnitudo 6,7 Sudah Diikuti 13 Gempa Susulan

Liberty Jemadu
Gempa Nias Bermagnitudo 6,7 Sudah Diikuti 13 Gempa Susulan
Gempa Nias dengan magnitudo 6,7 pada Jumat (14/5/2021) telah diikuti oleh 13 gempa susulan. [BMKG]

Daryono mengatakan bahwa gempa Nias bermagnitudo 6,7 pada Jumat siang berpusat di zona outer rise.

Suara.com - Gempa Nias yang bermagnitudo 6,7 (sebelumnya disebut bermagnitudo 7,2) pada Jumat (14/5/2021) telah diikuti oleh 13 gempa susulan, demikian dikatakan Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono.

Dalam keterangannya yang diperoleh via aplikasi pesan singkat, Daryono menjelaskan bahwa hingga pukul 16.18 WIB sore ini, sudah terjadi gempa susulan(aftershock) sebanyak 13 kali di Nias, Sumatra Barat. Salah satu gempa susulan itu berkekuatan di atas magnitudo 5.

Sementara BMKG, lewat akun Twitter resminya, pada pukul 16.30 WIB mengumumkan masih terjadi gempa berkekuatan 5,3 di Nias Barat, Sumatra Utara.

Bukan megathrust
Lebih lanjut Daryono menjelaskan bahwa gempa Nias yang terjadi pada sekitar pukul 13.33 WIB itu adalah jenis gempa dangkal di zona outer-rise yaitu zona sumber gempa di luar zona subduksi (megathrust).

Baca Juga: Guncangan Gempa Nias Terasa Kuat hingga ke Padang dan Mentawai

"Gempa yang terjadi bukan gempa megathrust," tegas dia.

Ini terlihat dari episenter gempa yang tampak di peta berada di luar zona subduksi. Selain itu hasil analisis BMKG menunjukkan gempa ini memiliki mekanisme sesar turun (normal fault), yang menguatkan bahwa gempa ini bersumber di zona deformasi akibat terbangunnya gaya tarikan atau regangan.

"Inilah yang menjadi ciri sumber gempa outer rise. Gaya tektonik yang bekerja di zona ini bukan kompresional atau menekan, tapi gaya ektensional atau tarikan karena merupakan zona bending (regangan)," jelas Daryono.

Diabaikan, tetapi berbahaya
Outer rise, beber Daryono, merupakan zona gempa yang selama ini terabaikan, karena kalah populer dari zona sumber gempa megathrust. Meskipun terabaikan, tetapi tidak kalah berbahaya dan dapat memicu terjadinya tsunami.

"Di Indonesia sudah dua kali terjadi tsunami akibat gempa yang bersumber di zona outer rise, yaitu Tsunami destruktif di Sumbawa 1977 dan Tsunami Jawa 1921," terang Daryono.

Baca Juga: BMKG Ralat Gempa Nias Barat Jadi Magnitudo 6,7

Tsunami Lunyuk, Sumbawa, pada 19 Agustus 1977 dipicu oleh gempa magnitudo 8,3 yang oleh para ahli gempa populer disebut sebagai The Great Sumba telah memicu tsunami setinggi sekitar 8 meter dan menewaskan lebih dari 300 orang.

Komentar