alexametrics

Awas, Ada Bahaya Mengintai Anak yang Belajar Gunakan Youtube dan Media Sosial

Liberty Jemadu
Awas, Ada Bahaya Mengintai Anak yang Belajar Gunakan Youtube dan Media Sosial
Anak yang belajar menggunakan Youtube dan aplikasi media sosial lebih rentang mengalami distraksi. Privasinya juga terancam. Foto: Ilustrasi belajar online (shutterstock)

Belajar menggunakan Youtube memang lebih mudah dan murah, tetapi privasi anak-anak terancam. Selain itu, fokus mereka lebih mudah terdistraksi.

Kebanyakan media sosial sebenarnya memiliki batasan usia minimal bagi seseorang untuk membuat akun secara mandiri. Ini dilakukan untuk mengurangi potensi penyalahgunaan data pribadi khususnya pada anak-anak.

Ironisnya, akibat dorongan pembelajaran di media sosial, tidak sedikit orang tua yang justru secara sadar membagikan informasi anak mereka ketika membuatkan akun di media sosial.

Yang bisa dilakukan orang tua dan guru

Beberapa hal bisa dilakukan untuk mengurangi berbagai potensi buruk di atas ketika belajar dilakukan melalui media sosial.

Baca Juga: Cara menggunakan Youtube Shorts yang Baru Meluncur di Indonesia

Pertama, sekolah harus mendorong guru untuk mampu mengidentifikasi tujuan dan kebutuhan belajar siswa, untuk memastikan apakah media sosial memang perlu digunakan atau tidak.

Riset terhadap siswa sekolah vokasi di Australia pada tahun 2017 menunjukkan bahwa keputusan memilih media sosial dalam pembelajaran hanya diambil ketika ada relevansi yang jelas antara media sosial dengan pekerjaan mereka di masa depan.

Misalnya, siswa bidang pemasaran lebih menyukai menggunakan Instagram dan Twitter karena platform ini lebih banyak digunakan publik untuk mempromosikan produk dan penyelenggaraan acara.

Media sosial juga bisa digunakan untuk mendorong siswa mengembangkan diri melalui komunitas dengan keilmuan yang sama. Saat pelajaran seni, misalnya, siswa bisa mencari jaringan komunitas seni atau tergabung dalam platform pembelajaran seni untuk belajar langsung dari sumbernya.

Kedua, guru juga harus meningkatkan kompetensi mereka untuk melakukan pendampingan dan asesmen pembelajaran melalui media sosial.

Baca Juga: Anak Bosan PJJ, Ini 5 Tips Untuk Membuatnya Tetap Termotivasi untuk Belajar

Riset tahun 2017, misalnya, menemukan bahwa sebagian besar guru di Australia berharap mendapatkan pelatihan formal terkait pembelajaran menggunakan media sosial.

Komentar