alexametrics

Asal-usul Air di Bumi Terungkap, Bisa Berasal dari Matahari

RR Ukirsari Manggalani | Lintang Siltya Utami
Asal-usul Air di Bumi Terungkap, Bisa Berasal dari Matahari
Ilustrasi Matahari menyinari Bumi. (pixabay.com)

Astronot mungkin dapat memproses pasokan air segar langsung dari debu di permukaan Bulan.

Suara.com - Penelitian baru berjudul Solar Wind Contributions to the Earth's Oceans yang diterbitkan di Nature Astronomy mengungkap bahwa air di Bumi kemungkinan berasal dari Matahari.

Bumi tertutup air dengan lebih dari 70 persen permukaannya terdiri dari lautan, membuat Bumi lebih kaya air daripada planet lain di tata surya. Selama ini, para ahli meneliti dari mana semua air itu terasal.

Sekarang, studi baru menyarankan kemungkinan mengejutkan bahwa semua air tersebut bisa datang ke Bumi dari Matahari.

Sampel yang diperkirakan berusia ribuan tahun sukses diambil Hayabusa 2 [Dok. JAXA].
Sampel yang diperkirakan berusia ribuan tahun sukses diambil Hayabusa 2 [Dok. JAXA].

"Teori yang ada adalah air dibawa ke Bumi pada tahap akhir pembentukannya pada asteroid tipe C, namun pengujian sebelumnya dari sidik jari isotop asteroid ini menemukan bahwa batuan tersebut rata-rata tidak cocok dengan air yang ditemukan di Bumi. Itu berarti setidaknya ada satu sumber lain yang belum ditemukan," kata Phil Bland, profesor di Curtin University, Australia.

Baca Juga: Update Akhir Bulan! Klaim Kode Redeem PUBG Mobile 30 November 2021

Penelitian Bland dan timnya menunjukkan angin Matahari menghasilkan air di permukaan butiran debu kecil dan air yang diserap isotop lebih ringan. Proses ini kemungkinan menyediakan air di Bumi.

"Teori angin Matahari baru ini didasarkan pada analisis atom demi atom yang cermat dari fragmen sangat kecil dari asteroid dekat-Bumi tipe S yang dikenal sebagai Itokawa, sampel yang dikumpulkan oleh wahana antariksa Jepang Hayabusa," kata Bland, seperti dikutip dari Independent pada Rabu (1/12/2021).

Sistem tomografi probe atom memungkinkan para ahli melihat dengan sangat detail di dalam 50 nanometer pertama atau lebih dari permukaan butiran debu Itoawa.

Dalam butiran tersebut, para ilmuwan menemukan cukup air yang jika ditingkatkan maka akan berjumlah menjadi sekitar 20 liter untuk setiap meter kubik batuan.

Bland menambahkan bahwa teknik yang sama bisa digunakan dalam misi luar angkasa di masa depan.

Baca Juga: Planet Ekstrasurya Terpanas Kedua Ditemukan, Mengorbit Hanya 16 Jam

Penelitian ini menunjukkan bahwa proses pelapukan luar angkasa yang sama yang menciptakan air di Itokawa kemungkinan terjadi di planet pengap lainnya. Artinya, astronot mungkin dapat memproses pasokan air segar langsung dari debu di permukaan objek lain, seperti Bulan.

Komentar