facebook

Penelitian: Telehealth Jarak Jauh, Hampir Sepertiga Tenaga Medis Membahayakan Data Pasien

Dythia Novianty
Penelitian: Telehealth Jarak Jauh, Hampir Sepertiga Tenaga Medis Membahayakan Data Pasien
Telehealth. (Elements Envanto)

Sebanyak 30 persen penyedia layanan kesehatan pernah mengalami kasus, di mana karyawan mereka membahayakan informasi pribadi pasien selama konsultasi jarak jauh.

Suara.com - Penelitian Global Kaspersky mengungkap bahwa 30 persen penyedia layanan kesehatan pernah mengalami kasus, di mana karyawan mereka membahayakan informasi pribadi pasien selama konsultasi jarak jauh.

Selain itu, hampir setengah dari penyedia layanan setuju bahwa dokter mereka tidak memahami dengan jelas bagaimana data pasien dilindungi.

Namun, 67 persen dari mereka percaya bahwa penting bagi sektor kesehatan untuk mengumpulkan lebih banyak informasi pribadi demi pengembangan industri lebih lanjut.

Pelanggaran data tidak selalu terjadi sebagai akibat dari aksi para pelaku kejahatan siber. Cukup sering, informasi dapat dikompromikan oleh pihak internal.

Baca Juga: Kaspersky Temukan Ratusan Ribu Berkas Berbahaya per Hari di Internet selama 2021

Organisasi medis mengumpulkan, memproses, hingga berbagi sejumlah besar data sensitif dan oleh karena itu mereka harus memberikan perhatian penuh pada keamanan informasi yang diterima.

Sejak transisi massal ke kesehatan digital, Kaspersky menyurvei para pembuat keputusan layanan kesehatan di seluruh dunia untuk mendapatkan masukan tentang masalah keamanan dari kesehatan jarak jauh saat ini dan solusi untuk mengatasinya.

Kemampuan dokter saat melakukan telehealth. [Keaspersky]
Kemampuan dokter saat melakukan telehealth. [Keaspersky]

Penelitian menunjukkan bahwa hanya 17 persen penyedia layanan kesehatan, meyakini sebagian besar dokter mereka yang melakukan sesi jarak jauh memiliki wawasan penuh tentang perlindungan data pasien.

Ini terlepas dari kenyataan bahwa sebanyak 70 persen organisasi medis telah mendedikasikan pelatihan kesadaran keamanan TI.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar praktik edukasi keamanan siber yang diterapkan, tidak sesuai dengan kenyataan dan gagal merangkul topik yang paling penting untuk praktik tenaga medis (dokter) sehari-hari.

Baca Juga: Catatan 2021: File Berbahaya Tumbuh Sebesar 5,7 Persen Setiap Hari

Sebanyak 54 persen responden mengakui bahwa beberapa dokter mereka melakukan sesi jarak jauh menggunakan aplikasi yang tidak dirancang khusus untuk telehealth, seperti FaceTime, Facebook Messenger, WhatsApp, Zoom, dan lainnya.

Menggunakan aplikasi yang tidak diperuntukkan bagi perawatan kesehatan memiliki risiko, seperti yang ditunjukkan oleh Dr. Peter Zeggel, CEO arztkonsultation.de, penyedia telehealth terkemuka Jerman.

"Aplikasi Telehealth secara khusus dirancang dan disertifikasi untuk melindungi data pribadi yang
sensitif," ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (6/1/2022).

Dengan melewatkan perlindungan tingkat tinggi seperti ini berarti berisiko kehilangan kepercayaan, tindakan disipliner, dan konsekuensi yang cukup besar.

"Mereka yang gagal menerapkan alat yang tepat, juga dapat melanggar persyaratan untuk telehealth dan kehilangan fitur telehealth yang dibuat secara khusus, seperti integrasi untuk catatan pasien atau berbagi data langsung secara aman dari perangkat jarak jauh,” beber dia.

Tenaga kesehatan percaya bahwa pengumpulan data adalah salah satu aspek terpenting dari perkembangan teknologi medis, meskipun ada kekhawatiran terhadap keamanan data.

Hampir tujuh dari sepuluh (67 persen) responden setuju bahwa industri perlu mengumpulkan lebih banyak informasi pribadi daripada yang mereka miliki saat ini, untuk melatih AI dan memastikan diagnosis yang andal.

Ilustrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). [Shutterstock]
Ilustrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). [Shutterstock]

Itu berarti, penyedia layanan kesehatan perlu memperkuat langkah-langkah keamanan siber mereka untuk mempersiapkan era baru kedokteran digital.

“Untuk mempercepat evolusi kesehatan digital, kita harus berhati-hati dalam menyusun, mengelola, dan mengatur data kesehatan yang sensitif.

Informasi ini juga berharga bagi individu dan sistem perawatan kesehatan untuk meningkatkan hasil yang efektif dan alokasi biaya yang efisien.

"Kami dapat memanfaatkan teknologi untuk memberikan manfaat sembari mengutamakan privasi, misalnya, menggunakan langkah-langkah privasi tambahan untuk memfasilitasi adopsi AI,” kata Prof. Chengyi Lin, Profesor Strategi Afiliasi di INSEAD dan pakar terkemuka dalam transformasi digital.

Menurutnya, semakin kompleks dan kritis teknologi, semakin dibutuhkan kesadaran dari orang-orang yang menggunakannya.

"Ini sangat penting bagi industri perawatan kesehatan yang memasuki tahap digital baru dan semakin menghadapi masalah terkait dengan privasi dan keamanan," kata Denis Barinov, Head of Kaspersky Academy.

Ilustrasi peretas (hacker). (Shutterstock/Benoit Daoust)
Ilustrasi peretas (hacker). (Shutterstock/Benoit Daoust)

Untuk meminimalkan risiko insiden yang disebabkan secara internal dan memberikan perspektif baru bagi industri, organisasi layanan kesehatan harus menyesuaikan kebijakan keamanan siber mereka dan membuatnya relevan dengan kebutuhan saat ini.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar