facebook

Targetkan 20.000 KM Jaringan Fiber Optik dan IoT, Alita Gandeng Institusi Pendidikan

Dythia Novianty
Targetkan 20.000 KM Jaringan Fiber Optik dan IoT, Alita Gandeng Institusi Pendidikan
Ilustrasi Internet of Things (IoT). [Shutterstock]

Alita Praya Mitra bekerjasama dengan ITENAS dan ARS University untuk mengembangkan keahlian sumber daya manusia di bidang TIK.

Suara.com - Alita Praya Mitra bekerjasama dengan Institut Teknologi Nasional Bandung (ITENAS) dan ARS University untuk mengembangkan keahlian sumber daya manusia di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi.

Direktur Utama PT Alita Praya Mitra, Teguh Prasetya mengatakan, sebagai perusahaan penyedia jaringan dan solusi telematika, Alita menyadari pentingnya pengembangan kualitas sumber daya manusia untuk industri ini.

Alita memiliki tanggung jawab membangun infrastruktur digital yang saat ini sudah menjangkau 7 provinsi 63 kota/kabupaten 2547 desa dan sekitar 8000 km.

Tahun ini akan dikembangkan hingga mendekati 20.000 km untuk jaringan Fiber Optik serta beragam solusi berbasis IoT (Internet of Things) yang diperlukan.

“Kolaborasi ini diharapkan bisa mempercepat pembangunan infrastruktur digital dan penetrasi solusi IoT di seluruh wilayah Indonesia," ujar Teguh Prasetya dalam keteragan resminya, Kamis (20/1/2022).

Baca Juga: Qlue - Dell Optimalisasi AI dan IoT di Sektor Bisnis Indonesia

Hal ini, dia menambahkan, dilakukan untuk mempercepat penetrasi broadband internet yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat segera terwujud.

Alita Praya Mitra gandeng institusi pendidikan dalam kembangkan IoT dan SDM di bidang TIK. IAlita Praya Mitra]
Alita Praya Mitra gandeng institusi pendidikan dalam kembangkan IoT dan SDM di bidang TIK. IAlita Praya Mitra]

"Tentunya dengan bantuan rektor, dekan, dosen serta mahasiswa terbaik dari ITENAS dan ARS University,” katanya.

Memasuki revolusi industri 4.0, dunia pendidikan Indonesia dihadapkan pada tuntutan penyediaan sarana pendidikan berbasis kecanggihan teknologi.

Menjawab tantangan tersebut, diskursus tentang integrasi teknologi ke dunia pendidikan telah digaungkan di awal 2020 berupa kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka.

Kampus Merdeka memberikan hak kepada mahasiswa untuk belajar selama tiga semester di luar program studinya sehingga mahasiswa dapat memperkaya wawasan serta kompetensinya di dunia nyata sesuai dengan passion-nya.

Baca Juga: Pemanfaatan Teknologi IoT untuk Menghemat Energi Listrik

Teguh menambahkan, saat ini masih banyak terdengar keluhan sulitnya lulusan perguruan tinggi mencari pekerjaan.

Di sisi lain, banyak perusahaan kesulitan mendapatkan pegawai dengan kualifikasi yang memenuhi kebutuhan industri.

“Bukan karena pekerjaan tersebut memerlukan pengalaman kerja bertahun-tahun atau keahlian khusus yang sulit dipelajari, namun kebutuhan industri ternyata tidak dipelajari di kampus,” ujarnya.

Kerja sama ini merupakan kolaborasi menguntungkan bagi institusi pendidikan dan industri.

Termasuk mempersiapkan mahasiswa untuk mengukur sejauh mana implementasi ilmu yang diperoleh di kampus dengan ilmu di dunia kerja nyata.

Alita mengharapkan, kolaborasi ini berjalan dengan lancar dan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi semua pihak.

Ilustrasi Industri 4.0.(Istimewa)
Ilustrasi Industri 4.0.(Istimewa)

“Dengan kolaborasi ini kami nantikan berbagai inovasi solusi pintar dari kampus untuk kita bawa bersama, guna menjawab kebutuhan industri hingga dapat dinikmati manfaatnya segera oleh masyarakat secara meluas,” pungkasnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar