Tiket ke Pulau Komodo Selangit, Pengelolaan Situs Warisan Dunia Bukan Cuma Soal Tarif

Liberty Jemadu

Senin, 01 Agustus 2022 | 22:07 WIB
Tiket ke Pulau Komodo Selangit, Pengelolaan Situs Warisan Dunia Bukan Cuma Soal Tarif
Taman Nasional Pulau Komodo. (Dok: Kemenparekraf)

Suara.com - Kisruh naiknya tarif wisata ke Pulau Komodo dan Pulau Padar di Manggarai Barat, NTT semakin keruh. Hari ini (1/8/2022) para pelaku bisnis wisata di Labuan Bajo menggelar aksi mogok sebagai bentuk protes. Pemerintah provinsi NTT mengerahkan polisi dan brimob untuk menjaga keamanan, meski sejumlah pelaku aksi mogok dianiaya dan ditahan. Bagaimana sebaiknya pengelolaan situs warisan dunia seperti Pulau Komodo? Berikut uraian dari Sukma Winarya, mahasiswa doktoral pada University of Angers:

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan dukungannya untuk rencana penambahan tarif di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, yang akan berlaku pada 1 Agustus mendatang.

Penambahan yang dimaksud adalah adanya pengenaan tarif tambahan sebesar Rp 3,75 juta bagi pelancong yang ingin mendatangi Pulau Padar dan Pulau Komodo. Dalam kebijakan saat ini, wisatawan hanya perlu membayar Rp 150.000.

Jokowi menganggap ini adalah upaya menyeimbangkan aspek konservasi dan pariwisata yang berkelanjutan di TN Komodo. Dia juga sempat menyentil pentingnya perhitungan return (imbal balik) dari sederet proyek infrastruktur yang sudah dikeluarkan pemerintah di kawasan strategis pariwisata nasional tersebut.

Taman Nasional Pulau Komodo. (Dok: Kemenparekraf)
Taman Nasional Pulau Komodo. (Dok: Kemenparekraf)

Alasan ini mirip dengan dalih yang diungkapkan seorang pejabat pemerintah dalam wacana kenaikan tarif masuk kompleks Candi Borobudur di Jawa Tengah. Lantaran menimbulkan polemik, wacana ini pun kemudian dibatalkan.

Berkaca dari dua kejadian tersebut, pemerintah nampaknya berpandangan bahwa aspek tarif memegang kunci utama dalam mewujudkan target pariwisata yang berkelanjutan di situs warisan dunia. Padahal, pengembangan pariwisata yang terlalu bertumpu pada tarif berpotensi mengurangi akses kunjungan masyarakat baik lokal maupun mancanegara.

Pemerintah dapat belajar dari Pemerintah Perancis, yang juga mengelola situs warisan dunia, tapi justru bahkan tak mematok sepeser pun biaya kepada pengunjungnya.

Opsi berbayar atau tidak?

Badan PBB untuk urusan pendidikan dan kebudayaan, UNESCO, menyatakan, demi pembangunan yang berkelanjutan konservasi warisan budaya dan alam bersama dengan nilai universal yang luar biasa dapat dilakukan manajemen pariwisata yang tepat.

baca juga

Pengelolaan situs warisan budaya yang berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan adalah upaya penyelarasan kepentingan ekonomi, sosial-budaya masyarakat, serta pelestarian situs berikut lingkungannya.

Pulau Padar (Suara.com/Risna Halidi)
Pulau Padar (Suara.com/Risna Halidi)

Terkait hal ini, komersialisasi dan konservasi situs warisan dunia adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Berdasarkan laporan UNESCO tahun 2014, situs warisan dunia memiliki risiko ancaman yang harus dikelola dengan cermat. Ancaman ini seperti kepadatan pengunjung yang melampaui daya tampung dan perilaku pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Di sisi lain, keberlanjutan sebuah situs warisan juga sangat ditentukan dari apresiasi pengunjung maupun masyarakat lokal terhadap nilai-nilai sejarah, budaya, sains hingga manfaat ekonomi. Apresiasi ini terwujud dalam bentuk kunjungan dan terbentuknya pariwisata sebagai sebuah industri.

Kunjungan wisatawan di lokasi situs dan daerah sekitar berkontribusi besar terhadap aspek pembangunan lokal yang mencakup keterlibatan masyarakat secara ekonomi, menjadi pemicu pengembangan infrastruktur daerah hingga pembiayaan konservasi situs.

Pertanyaannya, mungkinkah menemukan titik imbang dari komersialisasi dan kapasitas tersebut?

Pengelolaan situs warisan dunia Mont Saint Michel di Normandi, Perancis, dapat menjadi contoh.

Situs yang dibangun di tahun 708 ini terbentang di atas bebatuan seluas 98 hektar. Tiap tahun, situs ini didatangi sekitar 2,8 juta pengunjung.

Untuk memasuki situs ini, pengunjung tidak wajib membayar. Kawasan pariwisata ini bahkan terbuka 24 jam. Namun untuk memasuki tempat khusus, seperti gereja, pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar 11 euro (setara Rp. 167.000).

Dari sini kita melihat bahwa pengenaan tarif tidak selalu menjadi opsi yang dipilih untuk memastikan aspek keberlanjutan sebuah situs warisan. Memastikan daya tarik kawasan sekitar seperti restoran, areal perkemahan, resort, fasilitas, dan aksesibilitas tampaknya menjadi pilihan yang diambil untuk mendapatkan kontribusi secara ekonomi dari pengunjung.

Meski demikian, tidak sedikit situs yang berbayar di Perancis, seperti Istana Versailles. Besaran tarifnya bervariasi mulai dari 18 euro (setara Rp. 273.000), hingga 108 euro (setara Rp. 1.639.000).

Adapun variasi ini tergantung dari pilihan paket kunjungan yang tersedia. Ada 13 paket yang bisa dipilih pengunjung berdasarkan bujetnya. Misalnya paket tanpa harus ikut antrean, ketersediaan audio visual berbagai bahasa, ditemani pemandu resmi yang profesional, tiket terusan situs sekitarnya hingga jamuan hidangan mewah ala kerajaan.

Komodo di Pulau Rinca (Suara.com/Risna Halidi)
Komodo di Pulau Rinca (Suara.com/Risna Halidi)

Variasi paket ini membuat pesona Istana Versailles tetap bisa dinikmati pengunjung dari berbagai kalangan di seluruh dunia. Tiap tahun situs ini kedatangan sekitar 10 juta pengunjung.

Sedangkan untuk memastikan pengelolaan situs yang berdasarkan konsepsi pembangunan berkelanjutan, tindakan terukur secara rutin dilakukan oleh pengelola dengan memublikasikan hasil kerja serta strategi-strategi untuk mencapainya. Publikasi ini tentu sebagai cerminan keseriusan pengelola terhadap nilai pembangunan berkelanjutan yang terintegrasi dalam strategi operasional mereka.

Dua contoh ini membuktikan bahwa pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan tak selamanya membutuhkan tarif yang tinggi. Alih-alih mematok harga selangit, akses gratis dan diferensiasi paket kunjungan ditambah dengan peningkatan daya tarik di sekitar situs menjadi pilihan mereka dalam pengelolaan situs-situs tersebut.

Sebaliknya, penetapan harga yang terlalu tinggi tanpa diimbangi dengan standarisasi kualitas pelayanan bisa berdampak buruk bagi pengalaman pengunjung. Perbandingan harga dengan nilai pelayanan tambahan seperti daya tarik, fasilitas, dan sulitnya aksesibilitas berpotensi memunculkan ulasan buruk terhadap suatu situs warisan budaya.

Rekomendasi untuk model pengelolaan yang berkelanjutan

Untuk desain jangka panjang, pengelolaan pariwisata tak bisa hanya berlandaskan kepentingan ekonomi. Aspek lainnya seperti pengalaman wisatawan, pelestarian situs-lingkungan, inklusivitas, dan aksesibilitas publik harus menjadi kesatuan yang utuh untuk dipahami bersama. Untuk itu penulis menyampaikan beberapa rekomendasi yaitu:

1) mendefinisikan ulang kedudukan situs warisan Indonesia di tengah lembaga pendidikan formal. Ini penting untuk menumbuhkan rasa memiliki, apresiasi, dan kebanggan terhadap warisan bangsa.

2) inovasi pengelola diperlukan untuk memberikan opsi-opsi kunjungan wisatawan. Kreativitas tersebut dapat berbentuk pengembangan, ekspansi atraksi dan wilayah sekitar situs, dan penyusunan itenerary (rencana perjalanan) kepada pengunjung. Tujuannya untuk membagi kelompok pengunjung sesuai minat kunjungan mereka. Apakah untuk sekadar berkunjung dan berekreasi, mempelajari cerita dan sejarah atau untuk pendalaman hingga memerlukan kunjungan langsung ke dalam atau ke atas situs;

3) penyesuaian tarif mungkin diperlukan namun dengan pertimbangan kelayakan daya beli dan perbandingan dengan situs sejenis di dunia, dengan menghindari pematokan tarif yang terlalu tinggi namun melakukan diferensiasi harga sesuai paketnya.

4) strategi redistribusi ruang dan waktu melalui penjualan tiket secara online. Penjualan secara online akan menghasilkan laporan yang cepat dan tepat sehingga pengelola dapat mengatur alur pergerakan wisatawan di area situs tersebut.

5) mendorong dibentuknya satu unit di dalam struktur pengelola yang memiliki tugas dan fungsi untuk menyusun strategi dan pelaporan pengelolaan situs yang berbasis konsep pembangunan yang berkelanjutan.

6) khusus untuk TN Komodo, pemerintah dan pengelola secara serius harus menemukan solusi ekonomi yang adil bagi masyarakat terutama di Pulau Padar dan Pulau Komodo, yang selama ini berkecimpung dalam jasa pelayanan.

Artikel ini sebelumnya tayang di The Conversation.

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rumah Satwa Endemik Tergerus Saat Perlindungan Konservasi Hanya di Kertas

Rumah Satwa Endemik Tergerus Saat Perlindungan Konservasi Hanya di Kertas

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 12:50 WIB

Terjebak Karhutla, Induk dan Anak Orangutan Diselamatkan

Terjebak Karhutla, Induk dan Anak Orangutan Diselamatkan

Foto | Minggu, 20 September 2026 | 09:00 WIB

Bantuan IPB University dan ARM HA-IPB Tiba di Labuan Bajo, Ribuan Paket Pangan Siap Disalurkan

Bantuan IPB University dan ARM HA-IPB Tiba di Labuan Bajo, Ribuan Paket Pangan Siap Disalurkan

Your Say | Jum'at, 18 September 2026 | 10:32 WIB

Karhutla Kepung Pusat Konservasi Gajah Padang Sugihan

Karhutla Kepung Pusat Konservasi Gajah Padang Sugihan

Foto | Jum'at, 18 September 2026 | 09:00 WIB

Cakupan Konservasi Halmahera Diperluas, Pemantauan Biodiversitas Kini Sentuh 40 Titik

Cakupan Konservasi Halmahera Diperluas, Pemantauan Biodiversitas Kini Sentuh 40 Titik

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 08:57 WIB

GeoPix Tegaskan Konservasi Harus Berpihak Nyata pada Alam dan Satwa

GeoPix Tegaskan Konservasi Harus Berpihak Nyata pada Alam dan Satwa

News | Selasa, 15 September 2026 | 16:50 WIB

Menjaga Keindahan Laut Labuan Bajo, Ketika Terumbu Karang Jadi Harapan Masyarakat Pulau Messah

Menjaga Keindahan Laut Labuan Bajo, Ketika Terumbu Karang Jadi Harapan Masyarakat Pulau Messah

Lifestyle | Senin, 07 September 2026 | 19:01 WIB

202 Ribu Hektare Lahan Terbakar! 20 Konsesi Kena Sanksi Akibat Karhutla

202 Ribu Hektare Lahan Terbakar! 20 Konsesi Kena Sanksi Akibat Karhutla

News | Kamis, 03 September 2026 | 20:47 WIB

11 Tahun Lawan Tambang, Kisah Mama Aleta dan Tenun Mollo

11 Tahun Lawan Tambang, Kisah Mama Aleta dan Tenun Mollo

Your Say | Kamis, 03 September 2026 | 09:35 WIB

Red Flag Dana Hibah Iklim Global, Mengapa Uang Konservasi Bisa Mampet?

Red Flag Dana Hibah Iklim Global, Mengapa Uang Konservasi Bisa Mampet?

Your Say | Kamis, 03 September 2026 | 11:05 WIB

Terkini

7 Sandal Gunung Harga Rp100 Ribuan, Nyaman dan Mudah Kering untuk Outdoor

7 Sandal Gunung Harga Rp100 Ribuan, Nyaman dan Mudah Kering untuk Outdoor

Lifestyle | Selasa, 29 September 2026 | 14:21 WIB

Pipi Auto Fresh! 6 Blush On Nuansa Mauve yang Elegan untuk Daily Makeup

Pipi Auto Fresh! 6 Blush On Nuansa Mauve yang Elegan untuk Daily Makeup

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 14:20 WIB

Perkuat Pengelolaan Anggaran Jelang Akhir Tahun, Imigrasi Sumut Gelar Coaching Clinic

Perkuat Pengelolaan Anggaran Jelang Akhir Tahun, Imigrasi Sumut Gelar Coaching Clinic

Sumut | Selasa, 29 September 2026 | 14:19 WIB

Bahas RUU Pemilu, DPR Buka Ruang Dengar Aspirasi Partai Non-Parlemen Akhir Pekan Ini

Bahas RUU Pemilu, DPR Buka Ruang Dengar Aspirasi Partai Non-Parlemen Akhir Pekan Ini

News | Selasa, 29 September 2026 | 14:16 WIB

Fans Malaysia Ejek Indonesia Parkir Bus, Suporter Garuda Balik Menohok: 11 Lawan 10 Saja Tak Menang

Fans Malaysia Ejek Indonesia Parkir Bus, Suporter Garuda Balik Menohok: 11 Lawan 10 Saja Tak Menang

Bola | Selasa, 29 September 2026 | 14:14 WIB

Modus Ajak Jalan Lalu Cabuli Siswinya, Guru ASN di Situbondo Terancam Dipecat

Modus Ajak Jalan Lalu Cabuli Siswinya, Guru ASN di Situbondo Terancam Dipecat

Jatim | Selasa, 29 September 2026 | 14:14 WIB

Pungutan Liar kepada UMKM Bukan Tradisi yang Harus Dimaklumi

Pungutan Liar kepada UMKM Bukan Tradisi yang Harus Dimaklumi

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 14:10 WIB

Apakah Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober Libur Nasional? Ini Jawabannya

Apakah Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober Libur Nasional? Ini Jawabannya

Lifestyle | Selasa, 29 September 2026 | 14:10 WIB

Anggaran Habis, Program Mati: Ada yang Salah dengan Cara Pemerintah Bekerja

Anggaran Habis, Program Mati: Ada yang Salah dengan Cara Pemerintah Bekerja

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 14:10 WIB

Media Belanda Angkat Topi dengan Aksi Heroik Maarten Paes saat Lawan Malaysia

Media Belanda Angkat Topi dengan Aksi Heroik Maarten Paes saat Lawan Malaysia

Bola | Selasa, 29 September 2026 | 14:08 WIB

×