- PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk meluncurkan program transplantasi terumbu karang di Pulau Messah sejak April 2026.
- Warga Desa Pasir Putih mendapatkan pelatihan coral nursery sebelum penanaman 500 bibit terumbu karang.
- Program berdurasi empat tahun ini bertujuan memulihkan ekosistem laut serta melibatkan masyarakat secara berkelanjutan.
Suara.com - Labuan Bajo selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan Indonesia. Di balik gugusan pulau dan panorama laut biru yang menjadi daya tarik wisatawan, terdapat kehidupan bawah laut yang tak kalah memukau.
Terumbu karang menjadi salah satu ekosistem penting yang menopang kekayaan laut sekaligus kehidupan masyarakat pesisir di kawasan tersebut. Keindahan itu pula yang dapat ditemui di perairan sekitar Pulau Messah, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pulau yang berada di kawasan penyangga Taman Nasional Komodo tersebut memiliki ekosistem laut yang berperan penting bagi keanekaragaman hayati sekaligus aktivitas masyarakat, terutama nelayan.
Namun, seperti ekosistem pesisir lainnya, terumbu karang membutuhkan perhatian dan pemulihan agar dapat terus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Karena itu, upaya menjaga kawasan laut tidak hanya berbicara mengenai keindahan bawah air, tetapi juga keberlanjutan sumber daya yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Hal tersebut menjadi perhatian PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) melalui program transplantasi terumbu karang di Desa Pasir Putih, Pulau Messah.
Program tersebut merupakan bagian dari MPM Green Action 2026 dan telah diawali dengan silaturahmi serta edukasi bersama pemerintah desa, tokoh masyarakat, nelayan, dan warga sejak April 2026.
Sebelum transplantasi dilakukan, masyarakat, khususnya perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pasir Putih, mendapatkan pelatihan mengenai coral nursery.
Mereka diperkenalkan dengan proses pemilihan fragmen karang, pemasangan media, perawatan, pemantauan pertumbuhan hingga teknik transplantasi di area rehabilitasi.
Sebanyak 500 bibit terumbu karang ditargetkan ditransplantasikan menggunakan 32 spider frame. Meski demikian, upaya tersebut tidak semata-mata berhenti pada penanaman karang.
Program ini dirancang selama empat tahun dengan perhatian pada pemulihan ekosistem sekaligus keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan laut.
GM Corporate Communication & Sustainability MPMX Natalia Lusnita mengatakan, keberlanjutan lingkungan membutuhkan proses yang dilakukan secara konsisten, bukan sekadar kegiatan sesaat.
“Bagi MPMX, kepedulian terhadap lingkungan perlu diwujudkan melalui langkah nyata yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Peresmian program transplantasi terumbu karang ini menjadi kelanjutan dari proses yang telah kami mulai bersama masyarakat sejak April lalu,” ujar Natalia.
Menurutnya, masyarakat lokal memiliki peran penting dalam memastikan keberlanjutan upaya pemulihan ekosistem. Karena itu, kegiatan edukasi dan peningkatan kapasitas menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program.
“Kami ingin program ini tidak berhenti pada kegiatan transplantasi, tetapi berkembang menjadi upaya jangka panjang dalam membantu memulihkan dan menjaga ekosistem laut sekaligus membangun kapasitas serta keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting dari keberlanjutan program,” lanjutnya.