- Kabar meninggalnya Ahmadinejad picu ingatan publik soal infiltrasi Mossad di Iran.
- Ahmadinejad sebut agen Israel pimpin unit khusus anti-Mossad milik pemerintah Iran.
- Infiltrasi Mossad sebabkan kebocoran data nuklir hingga pembunuhan ilmuwan senior Iran.
Itu menyiratkan bahwa Iran 'sangat kecolongan' terhadap infiltrasi Israel.
Menurut mantan presiden Iran, selain orang tersebut, ada 20 anggota lain dari unit itu yang merupakan agen Mossad.
Pernyataan Ahmadinejad tentang betapa dalamnya infiltrasi agen Israel sekarang kembali viral di media sosial.
Agen Mossad Mencuri Data
Pada tahun 2010, infiltrasi tersebut mengalami perkembangan baru dengan masuknya malware Stuxnet ke fasilitas nuklir Iran.
Dikembangkan bersama oleh badan intelijen Israel dan Amerika, malware ini dirancang untuk menyabotase sentrifugal pengayaan uranium dan berhasil menyebabkan kerusakan teknis yang signifikan selama beberapa waktu.
Awalnya, para pejabat Iran menepis insiden tersebut, dan menganggapnya sebagai "perang lunak," bahkan mengumumkan bahwa tidak ada kerusakan yang ditimbulkan pada program nuklir.
Namun seiring waktu, serangan itu diterima sebagai kejadian nyata, dan bahkan sumber internal mengakui serangan itu sebagai kegagalan intelijen besar.
Beberapa ilmuwan Iran dan petinggi militer yang tewas karena serangan Israel dicurigai berasal dari kebocoran data.
Baca Juga: Misi Damai Prabowo untuk AS-Israel-Iran Dinilai Terlalu Ambisius
Ketika Hassan Rouhani menjadi presiden, harapan akan diplomasi dan pengurangan ancaman asing sangat tinggi. Namun, di bawah kepresidenannya, salah satu pelanggaran intelijen paling signifikan terjadi - Mossad mencuri arsip nuklir Iran.
Pada 2018, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa agen Mossad telah mencuri ribuan dokumen rahasia Iran dari sebuah gudang di distrik Turquzabad, Teheran.
Dokumen-dokumen tersebut diduga merinci rencana untuk membangun setidaknya lima hulu ledak nuklir.
Awalnya, para pejabat Iran, termasuk Abbas Araghchi, menganggap insiden itu sebagai "propaganda" atau "mengejek Netanyahu."
Namun seiring waktu, tokoh-tokoh senior seperti Rouhani dan Mohsen Rezaei mengakui pelanggaran tersebut.
Rezaei mengakui, “Tingkat penyusupan ini menunjukkan pelanggaran keamanan yang serius.” Materi yang dicuri dilaporkan mencakup 55.000 halaman dan 55.000 file digital lainnya yang tersebar di 183 CD.