- Fosil Tyrannosaurus Rex bernama Gus dilelang di Sotheby's New York.
- Dinosaurus tersebut diberi nama Gus sesuai penemu aslinya, Gus Licking.
- Harga lelang fosil prasejarah ini dimulai dari 19 juta dolar.
Harga Lelang Fantastis
Penawaran awal untuk potongan sejarah prasejarah yang menjulang tinggi ini telah ditetapkan pada angka 19 juta dolar Amerika Serikat.
Namun, nilai spesimen ini secara keseluruhan telah ditaksir oleh para kurator berada di kisaran angka 20 juta hingga 30 juta dolar Amerika Serikat.
Dengan kurs 1 dolar AS setara Rp 18.140, nilai fosil tersebut diperkirakan hingga Rp 544 miliar.
Cassandra Hatton, Kepala Ilmu Pengetahuan dan Sejarah Alam Global Sotheby's, menjelaskan alasan di balik tingginya nilai jual kerangka tersebut.
Menurutnya, kelengkapan, kualitas, ukuran, dan tingkat pengawetan fosil adalah faktor utama yang membuat Gus menonjol sebagai barang bernilai tinggi.
Hatton juga menekankan bahwa penemuan semacam ini selalu membutuhkan penanganan dari tenaga ahli yang sangat teliti.
"Hal yang menurut saya sangat penting untuk dipahami orang-orang, saat kita membicarakan sisa-sisa fosil dinosaurus, adalah benda-benda itu tidak keluar dari tanah dalam keadaan utuh," jelas Hatton.
Ia menegaskan bahwa butuh tenaga profesional yang sangat tekun untuk membedakan antara batuan biasa dengan bagian dari hewan purba.
"Dibutuhkan orang-orang yang sangat ahli, berhati-hati, rajin, dan terampil untuk mengenali apa yang mereka lihat," tambahnya.
Dinamika Pasar Kolektor
Harga perkiraan untuk Gus dilaporkan sebagai proyeksi estimasi tertinggi yang pernah ada untuk sebuah kerangka dinosaurus di bursa lelang.
Meski demikian, rekor harga akhir tertinggi saat ini masih dipegang oleh kerangka Stegosaurus bernama Apex yang berhasil terjual senilai 44 juta dolar Amerika Serikat.
Minat terhadap peninggalan prasejarah di pasar komersial kini perlahan semakin meluas dan melampaui target kelompok pembeli tradisional.
"Pasar untuk dinosaurus saat ini lebih luas dari yang disadari banyak orang, dan semakin melebar," ungkap Hatton terkait dinamika bursa.
Perdebatan Lelang Komersial
Praktik lelang barang prasejarah secara privat ini ternyata memicu sedikit perbedaan pendapat di kalangan ilmuwan maupun pihak akademisi.
Beberapa ahli berpendapat bahwa tren pelelangan komersial dapat menghalangi museum publik atau lembaga penelitian untuk memiliki akses terhadap spesimen penting.
Namun, pihak balai lelang secara terbuka membela praktik tersebut dengan menyebutkan pentingnya peran bursa bagi kelestarian artefak.
"Penjualan ini sangat penting karena membantu kita menemukan fosil yang jika tidak, akan hilang begitu saja bagi semua orang," tutup Hatton.