- El Nino tahun ini diprediksi menjadi yang terkuat sejak 150 tahun lalu.
- Anomali suhu memicu perubahan iklim dan cuaca ekstrem di berbagai negara.
- Dampak cuaca ekstrem dapat mengakibatkan kerugian triliunan dolar bagi ekonomi global.
Suara.com - Fenomena iklim El Nino tahun ini diprediksi akan menjadi yang paling kuat dalam kurun waktu 150 tahun terakhir. Lonjakan suhu lautan yang dipadukan dengan pemanasan global akibat ulah manusia kemungkinan akan memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Berdasar pada proyeksi dari sejumlah model iklim, puncak anomali cuaca ini akan melampaui rekor sebelumnya secara signifikan seperti dikutip dari Nature.
Zeke Hausfather selaku ilmuwan iklim di lembaga penelitian Berkeley Earth menyebut bahwa puncak El Nino ini akan melampaui pemegang rekor sebelumnya "dengan selisih yang benar-benar mencengangkan."
Ia menambahkan bahwa perpaduan fenomena ini dengan perubahan iklim dapat menaikkan suhu rata-rata global pada tahun depan.
Kenaikan suhu Bumi tersebut berpotensi mencapai batas 1,7 derajat Celcius di atas rata-rata suhu lingkungan era pra-industri.
Kondisi ini tentu saja akan membawa planet kita tepat ke ambang batas kritis yang sangat berbahaya bagi kehidupan.
Hal ini berpotensi besar melanggar batas 1,5 derajat Celcius yang sebelumnya telah disepakati oleh berbagai pemerintah di bawah Perjanjian Paris.
Pola Siklus Alam yang Semakin Menguat
Terjadinya peristiwa El Nino pada saat ini sebenarnya bukanlah sebuah kejutan besar bagi para ilmuwan iklim dunia. El Nino Osilasi Selatan merupakan bentuk fluktuasi alami dari suhu permukaan laut dan arah angin di Samudra Pasifik tropis.
Secara historis, siklus iklim raksasa ini selalu berayun antara El Nino yang panas dan La Nina yang dingin setiap dua hingga tujuh tahun.
Setelah fenomena El Nino terakhir selesai bergulir, para peramal cuaca memang telah memperingatkan kemunculan fenomena cuaca yang lebih besar pada tahun ini.
Namun, deretan prediksi terbaru mulai menunjukkan bahwa dampak El Nino tahun ini bisa berkembang menjadi jauh lebih besar dari yang diantisipasi.
Justin Mankin yang merupakan seorang peneliti iklim di Dartmouth College memberikan peringatan serius terkait potensi rentetan ancaman lonjakan suhu ini.
Menurut pandangan Mankin, kondisi cuaca alam saat ini sangat mirip dengan berbagai proyeksi cuaca masa depan yang sempat dibuat oleh para ilmuwan.
Lonjakan ekstrem ini menyerupai prediksi cuaca yang secara langsung diperkuat oleh aktivitas perubahan iklim buatan manusia pada akhir abad ini.
Prakiraan Cuaca Ekstrem dan Dampak Ekonomi
Peningkatan suhu permukaan laut Samudra Pasifik dan pola angin yang menjadi ciri khas El Nino telah menguat dengan sangat cepat.
Lembaga Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memberikan peluang empat banding lima untuk terjadinya fenomena cuaca yang "sangat kuat" pada akhir tahun ini.
Mereka juga hampir memastikan bahwa kondisi cuaca panas yang menyengat ini akan terus bertahan setidaknya hingga paruh pertama tahun mendatang.
Michelle L'Heureux selaku ahli meteorologi yang memimpin tim prediksi di lembaga NOAA turut memberikan penjelasan teknis yang komprehensif mengenai anomali perairan ini.
"Saat ini, kami melihat semua tanda dari penggabungan atmosfer dan laut yang sangat kuat melintasi Samudra Pasifik ekuator, yang memberi kami keyakinan lebih bahwa pada akhirnya kami akan melihat El Nino yang 'sangat kuat' yang akan masuk dalam peringkat El Nino terkuat dalam catatan sejarah kami," jelas L'Heureux.
Prakiraan dari badan kelautan tersebut bahkan masih bisa dianggap terlalu konservatif oleh sebagian ahli sains dunia.
Hausfather lantas membandingkan proyeksi dari belasan model iklim dan menunjukkan bahwa estimasi puncaknya lebih tinggi 0,8 derajat Celcius dari rekor rekam jejak sebelumnya.
"Ini sama sekali bukan kesimpulan yang pasti, tetapi kemungkinannya telah meningkat dari bulan ke bulan," ungkap Hausfather dalam sebuah sesi paparan dengan media.
Selain meningkatkan suhu global menuju rekor baru, masih ada kemungkinan besar kondisi udara di Bumi akan terus memanas secara tidak wajar.
Lonjakan suhu yang masif ini tentu akan segera memicu pola gelombang panas yang mematikan, pristiwa kekeringan meluas, musibah banjir, dan rentetan kebakaran hutan.
Rentetan dampak cuaca ekstrem ini dipastikan akan membawa konsekuensi yang sangat buruk bagi stabilitas pertumbuhan perekonomian negara-negara global.
Jika perkiraan para ahli ini tepat sasaran, Mankin menyebut bahwa fenomena El Nino dapat menyebabkan kerugian ekonomi dunia hingga triliunan dolar.
Di luar dampak merusaknya pada kehidupan masyarakat manusia, fenomena iklim mematikan ini kemungkinan besar akan menekan keseimbangan ragam ekosistem.
Suhu perairan laut yang meningkat tajam juga menjadi kabar sangat buruk bagi kelestarian terumbu karang yang kian terancam mengalami proses pemutihan massal akibat suhu air memanas.