- Mahkamah Konstitusi memutuskan operator seluler wajib menyediakan pilihan layanan kuota internet rollover bagi seluruh konsumen.
- Direktur Eksekutif ATSI Marwan O Baasir menyatakan putusan tersebut tidak mewajibkan seluruh kuota otomatis diakumulasikan.
- Operator telekomunikasi perlu memperbaiki transparansi informasi produk dan memperbarui sistem billing pada aplikasi digital mereka.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kuota rollover bukan hanya soal menyediakan fitur, tetapi juga membangun pengalaman pengguna (user experience/UX) yang lebih informatif.
![Ilustrasi smartphone [Pexels/Jonathan Robles]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/08/18/11503-ilustrasi-smartphone-pexelsjonathan-robles.jpg)
Aplikasi operator seluler dinilai perlu memberikan penanda yang lebih jelas mengenai karakteristik setiap paket.
Pelanggan idealnya dapat langsung mengetahui apakah kuota yang dibeli akan hangus ketika masa berlaku berakhir atau dapat digunakan kembali pada periode selanjutnya.
Marwan mengatakan, ATSI juga melihat perlunya peningkatan komunikasi, edukasi, dan keterbukaan informasi melalui kanal digital operator.
“Kita mempertimbangkan bagaimana meningkatkan perbaikan informasi produk kepada masyarakat. Karena ketentuan atau syarat itu banyak sekali. Jadi, kami merasa bahwa dengan kondisi kasus atau gugatan kuota hangus ini, operator perlu melakukan perbaikan komunikasi, perlu memperbaiki edukasi, literasi, keterbukaan informasi, kemudian informasi di platform-platform operator, sehingga masyarakat dimudahkan,” tuturnya.
Putusan MK Mendorong Evolusi Teknologi Billing Operator
Dari sisi industri teknologi telekomunikasi, implementasi putusan MK pada akhirnya dapat mendorong operator melakukan penyesuaian pada sistem billing, katalog produk, aplikasi pelanggan, hingga mekanisme notifikasi kuota.
Pasalnya, ketika konsumen diberikan pilihan antara paket berbatas waktu dan rollover, sistem operator harus mampu mengidentifikasi jenis paket, menghitung sisa kuota, menentukan periode penggunaan, serta menginformasikan status kuota secara transparan.
Artinya, tantangannya bukan sekadar menyediakan tombol “rollover”, tetapi memastikan seluruh ekosistem digital di belakangnya mampu menjalankan aturan tersebut secara konsisten.
Di sisi lain, pelanggan juga perlu memahami bahwa paket rollover tidak serta-merta memiliki struktur harga yang sama dengan paket kuota biasa.