- GSMA memproyeksikan sektor seluler Asia Pasifik berkontribusi 1,4 triliun dolar AS pada tahun 2030.
- Operator seluler memperluas layanan ke infrastruktur AI, cloud, dan IoT untuk meningkatkan produktivitas kawasan.
- GSMA mencatat adopsi 5G mencapai 1,5 miliar koneksi, meski 700 juta orang dewasa belum berinternet.
Suara.com - Industri seluler Asia Pasifik memasuki fase baru. Perannya tak lagi sebatas menyediakan koneksi internet, tetapi mulai menjadi fondasi bagi perkembangan AI, cloud, IoT, keamanan digital, hingga infrastruktur ekonomi digital.
Laporan terbaru GSMA, Mobile Economy Asia Pacific 2026, memproyeksikan teknologi dan layanan seluler akan memberikan kontribusi 1,4 triliun dolar AS atau sekitar Rp23 ribu triliun terhadap perekonomian Asia Pasifik pada 2030.
Angka tersebut naik sekitar 40 persen dibandingkan kontribusi sekitar 1 triliun dolar AS saat ini, sebagaimana mengurip dari keterangan resminya, Kamis (27/8/2026).
Namun, pertumbuhan tersebut tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas jaringan dibangun. Ada empat faktor utama yang dinilai bakal membentuk wajah baru industri seluler di kawasan.
1. AI Mengubah Peran Operator Seluler
Kecerdasan buatan atau AI menjadi salah satu pendorong terbesar pertumbuhan ekonomi digital Asia Pasifik.
Teknologi 5G, AI, dan Internet of Things (IoT) diperkirakan meningkatkan produktivitas, terutama di sektor manufaktur dan jasa. Kedua sektor tersebut bahkan diproyeksikan menyumbang lebih dari separuh manfaat ekonomi yang dihasilkan teknologi seluler canggih.
Perubahan ini juga membuat operator seluler mulai bergerak lebih jauh. Mereka tidak lagi hanya menjual konektivitas, tetapi ikut masuk ke infrastruktur AI, layanan cloud, dan solusi digital untuk perusahaan.
Dengan kata lain, jaringan seluler mulai menjadi bagian dari mesin komputasi dan ekosistem AI yang lebih besar.
2. Kepercayaan Digital Jadi Taruhan
Semakin banyak aktivitas berpindah ke ruang digital, semakin besar pula risiko penipuan dan serangan siber.
GSMA mencatat persentase konsumen di ASEAN yang mengaku pernah menjadi korban penipuan meningkat dari 31 persen pada 2024 menjadi 45 persen pada 2025.
Kondisi tersebut membuat keamanan digital bukan lagi sekadar fitur tambahan. Operator dituntut memperkuat sistem keamanan, pencegahan penipuan, sekaligus membangun kolaborasi dengan pemerintah dan sektor lain untuk melindungi pengguna.
Sebab, pertumbuhan ekonomi digital akan sulit berkelanjutan jika masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap layanan yang mereka gunakan.
3. Kedaulatan Digital Mulai Jadi Prioritas