- Menkomdigi Meutya Hafid mengimbau warga tidak menyebarkan informasi hoaks terkait erupsi Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026).
- Gunung Anak Krakatau berstatus Siaga sejak Jumat (4/9) malam dan memicu pembatalan penerbangan serta sebaran abu vulkanik di Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.
- Masyarakat diminta tetap tenang, memantau sumber resmi, serta memakai masker dan kacamata pelindung untuk menghindari bahaya abu vulkanik.
Suara.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) memicu kekhawatiran hingga beredarnya isu potensi tsunami. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, meminta masyarakat tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar tidak memicu kepanikan.
Dia juga meminta masyarakat untuk tetap tenang sekaligus mengikuti perkembangan GAK melalui sumber resmi. Informasi mengenai aktivitas gunung dan sebaran abu vulkanik dapat dipantau melalui kanal pemerintah seperti PVMBG, BMKG, BNPB, pemerintah daerah, serta instansi terkait.
“Yang paling penting adalah tetap tenang, tetapi jangan mengurangi kewaspadaan. Masyarakat perlu mengikuti arahan dari otoritas terkait dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber yang dapat dipercaya,” kata Meutya.
GAK diketahui menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan sejak Jumat (4/9) malam dan kini berada pada Level III atau Siaga. Abu vulkanik terdeteksi menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Aktivitas tersebut juga berdampak pada penerbangan. Sejumlah penerbangan dibatalkan, sementara dentuman dan getaran yang terasa di sebagian wilayah Jawa Barat turut memicu kekhawatiran, termasuk beredarnya isu mengenai potensi tsunami.
Jangan Sebarkan Informasi yang Belum Jelas
![Abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terlihat menempel di meja sebuah fasilitas umum di Bandarlampung, Minggu (6/9/2026). [Suara.com/Ira]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/06/62534-abu-vulkanik-dampak-erupsi-gunung-anak-krakatau.jpg)
Dalam kondisi seperti ini, Meutya mengingatkan masyarakat untuk memastikan informasi mengenai erupsi berasal dari pihak yang memiliki kewenangan.
“Pastikan keakuratan informasi dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan terkait kebencanaan gunung berapi demi menghindari misinformasi atau misleading yang dapat menyebabkan keresahan,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang sumbernya tidak jelas.
“Dalam situasi seperti ini, informasi yang tidak benar dapat menimbulkan kepanikan. Karena itu, saring sebelum sharing. Pastikan informasi yang kita terima berasal dari sumber resmi dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Meutya, Senin (7/9/2026).
Warga Diminta Waspada Abu Vulkanik
Selain soal informasi, masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik diminta memperhatikan keselamatan dan kesehatan.
Masyarakat disarankan menggunakan masker N95 atau KN95 saat berada di luar ruangan, memakai kacamata pelindung, serta menghindari penggunaan lensa kontak. Aktivitas di ruang terbuka juga sebaiknya dikurangi jika tidak mendesak.
Bagi yang harus berkendara, Meutya mengingatkan agar mengurangi kecepatan karena abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan membuat jalan menjadi licin.
Masyarakat juga diminta mencuci tangan dan wajah setelah beraktivitas di luar serta menjaga sumber air bersih agar tidak terkena abu vulkanik.
Sementara itu, masyarakat, wisatawan, dan nelayan diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif sesuai rekomendasi PVMBG.
![Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid. [Komdigi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/27/61604-menteri-komunikasi-dan-digital-menkomdigi-meutya-hafid.jpg)
“Keselamatan adalah yang utama. Tidak perlu panik, namun tetap selalu waspada dan menjaga keselamatan serta kesehatan,” tutup Meutya.