- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda aktif meletus dan dipantau ketat karena berpotensi memicu bencana besar.
- Erupsi gunung tersebut berpotensi menyebabkan hujan abu, gangguan penerbangan, tsunami, material panas, dan kerusakan ekosistem laut.
- Masyarakat diimbau selalu mengikuti informasi resmi Badan Geologi serta mematuhi radius aman dari kawah gunung.
Suara.com - Gunung Anak Krakatau yang terletak di tengah Selat Sunda merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Gunung ini muncul setelah letusan dahsyat Krakatau tahun 1883 dan terus tumbuh serta meletus secara berkala. Lokasinya yang strategis di antara Pulau Jawa dan Sumatera membuat setiap aktivitasnya selalu mendapat perhatian serius dari masyarakat maupun otoritas kebencanaan.
Sejarah mencatat bahwa letusan atau keruntuhan sebagian tubuh gunung ini mampu memicu dampak yang sangat luas. Peristiwa Desember 2018 menjadi pengingat pahit ketika longsoran material gunung memicu tsunami di pesisir Banten dan Lampung yang menelan ratusan korban jiwa. Meski demikian, tidak setiap erupsi berujung pada bencana sebesar itu.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau sering kali ditandai dengan letusan tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar, kolom abu, dan aliran lava.
Dalam beberapa tahun terakhir, termasuk peningkatan aktivitas yang tercatat, gunung ini tetap dipantau ketat dengan status waspada hingga siaga. Masyarakat di wilayah sekitar perlu memahami potensi bahayanya agar siap menghadapi skenario terburuk.
Memahami akibat letusan gunung ini penting bukan hanya bagi warga pesisir, tetapi juga bagi masyarakat yang lebih jauh karena sebaran abu vulkanik bisa menjangkau ratusan kilometer.
Berikut sejumlah dampak utama yang berpotensi terjadi jika Gunung Anak Krakatau meletus secara signifikan.

1. Hujan Abu Vulkanik dan Gangguan Kesehatan
Salah satu dampak paling langsung dan luas adalah hujan abu vulkanik. Abu yang mengandung silika tajam dapat menyebar ke Lampung, Banten, Jawa Barat, bahkan hingga Jakarta dan Bengkulu tergantung arah angin.
Paparan abu menyebabkan iritasi mata, kulit, saluran pernapasan, batuk, hingga memperburuk asma dan penyakit paru kronis. Dalam konsentrasi tinggi, abu juga dapat mencemari sumber air dan makanan.
2. Gangguan Penerbangan dan Transportasi
Abu vulkanik sangat berbahaya bagi mesin pesawat karena partikel silikanya dapat meleleh di suhu tinggi turbin. Akibatnya, bandara di sekitar seperti Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Raden Inten II Lampung, dan beberapa bandara lain terpaksa ditutup sementara.
Pembatalan ratusan penerbangan berdampak pada penumpang domestik maupun internasional serta rantai logistik.
3. Potensi Tsunami Akibat Longsoran Tubuh Gunung
Ini merupakan risiko paling ditakuti. Jika terjadi keruntuhan sebagian besar tubuh gunung ke laut seperti tahun 2018, gelombang tsunami dapat terbentuk dalam waktu singkat (kurang dari 30–45 menit) dan mencapai pesisir Anyer, Carita, Tanjung Lesung, hingga Lampung Selatan dengan ketinggian beberapa meter.
Tsunami vulkanik sering datang tanpa didahului gempa kuat, sehingga sistem peringatan dini sangat krusial. Namun, otoritas geologi menekankan bahwa pertumbuhan tubuh gunung saat ini masih relatif kecil sehingga risiko tsunami besar dinilai rendah pada kondisi terkini.
4. Aliran Piroklastik, Lontaran Material Panas, dan Gas Beracun
Di radius beberapa kilometer dari kawah, ancaman berupa awan panas (aliran piroklastik), lontaran batu pijar, dan lava sangat nyata. Material ini mampu menghancurkan apa pun di jalurnya.
Gas beracun seperti sulfur dioksida juga dapat menyebabkan sesak napas bagi siapa pun yang berada terlalu dekat, termasuk nelayan atau wisatawan.
5. Dampak terhadap Ekosistem Laut dan Lingkungan
Erupsi mengubah suhu air laut dan menimbun material vulkanik di dasar laut, sehingga mematikan ikan serta biota laut di sekitar Selat Sunda.