-
Iran bakal menerbitkan rute baru Selat Hormuz dan memblokir zona terbatas di perairan Teluk.
-
Saling gempur kapal tanker memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga menembus US$97 per barel.
-
Iran berjanji membalas keras setiap serangan AS sembari membenahi krisis ekonomi dan laju inflasi internal.
Suara.com - Pemerintah Iran bersiap merilis kawasan terbatas baru di wilayah Teluk beserta pemetaan rute pelayaran khusus yang membelah Selat Hormuz. Langkah ketat ini diambil sesaat setelah aksi saling gempur di jalur laut memicu lonjakan harga minyak dunia.
Langkah tegas Tehran menjadi sinyal perlawanan terbuka atas aksi militer dan sanksi ekonomi Amerika Serikat. Pembatasan lalu lintas kapal di koridor vital energi dunia ini diprediksi bakal memperkeruh eskalasi konflik regional.
Batas wilayah steril tersebut dirancang membentang tepat dari titik dimulainya blokade Amerika Serikat hingga meluas ke sekeliling perairan Teluk. Setiap armada kapal yang nekat melintas tanpa izin resmi dipastikan langsung masuk ke dalam daftar sanksi.
![Ilustrasi kapal tanker Pacific Topaz yang beraktivitas mengangkut minyak mentah [Unsplash/Haydn]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/13/27419-ilustrasi-kapal-tanker-ilustrasi-selat-hormuz.jpg)
"Peta koridor internasional baru yang terletak di perairan Iran dan Oman serta di bawah pengelolaan Iran telah disepakati dan harus ditandatangani dalam beberapa hari mendatang," ujar Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, pada wawancara TV pemerintah.
"Kami hanya akan berkomitmen pada dibukanya Selat Hormuz jika mereka (pihak Amerika) menghentikan sabotase, ancaman, dan serangan terhadap Iran," tegas Rezaei.
Rata-rata kapal komoditas yang sanggup melintasi Selat Hormuz merosot drastis hingga menyisa sekitar 10 kapal per hari. Situasi sulit ini mendorong harga minyak mentah Brent merangkak naik hingga menembus angka di atas US$97 per barel.
Eskalasi militer kembali membara usai Komando Pusat AS melancarkan tembakan yang merusak tiga kapal tanker minyak milik Iran. Penyerangan tersebut menyasar armada di luar Pulau Kharg sebagai pusat pengapalan minyak utama milik Tehran.
Aksi gempuran balik tersebut sengaja diluncurkan Washington usai kapal perang mereka diserang oleh Korps Pengawal Revolusi Islam Iran. Ketegangan persenjataan ini menghancurkan kesepakatan gencatan senjata sementara yang sempat dicapai pada Juni lalu.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa otoritas AS wajib menyadari pergeseran konstelasi peta konflik sebelum terlambat.
"Mulai sekarang, setiap serangan terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan mendapat respons yang lebih cepat, lebih berat, dan lebih menyakitkan," kata Qalibaf melalui saluran Telegram miliknya.
Di samping ajang pertempuran senjata, pemerintah Iran kini memfokuskan konsentrasi penuh pada sektor produksi dan pemulihan mata pencaharian warga. Tantangan berat berupa fluktuasi nilai tukar uang, tingkat pengangguran, hingga laju inflasi melonjak cukup tajam.
Menteri Ekonomi Iran, Ali Madanizadeh, menegaskan bahwa pemerintahannya memilih membalas tekanan Amerika Serikat lewat jalur reformasi struktural internal.
"Mengenai tekanan ekonomi dan isolasi, pemutusan hubungan keuangan, mereka berpikir dengan menekan ekonomi suatu negara, mereka dapat mengubah keputusan rakyatnya," kata Madanizadeh seperti dikutip media pemerintah.
"Saya harus memperjelas satu hal: Tanggung jawab untuk mereformasi ekonomi Iran berada di tangan pemerintah dan rakyatnya, bukan Departemen Keuangan AS," tambahnya.
Sebelum pecah krisis pertempuran, negara anggota OPEC ini biasa mengekspor hingga 90 persen minyak mentah secara langsung dari Pulau Kharg. Namun alur distribusi minyak terhenti total semenjak blokade Amerika Serikat mulai diberlakukan pada pertengahan April.