- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus selama 25 jam pada awal September 2026.
- Erupsi tersebut menyebarkan abu vulkanik ke berbagai wilayah dan memicu penetapan status Level III Siaga.
- Badan Geologi menyatakan ukuran gunung masih relatif kecil sehingga belum berpotensi memicu tsunami besar.
Suara.com - Gunung Anak Krakatau, yang terletak di tengah Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Sumatra, kembali menjadi perhatian publik setelah rangkaian erupsi intensif pada awal September 2026.
Gunung api muda ini, yang muncul sebagai “anak” dari letusan dahsyat Krakatau 1883, memang dikenal aktif dan dinamis. Banyak orang bertanya-tanya: apakah gunung ini benar-benar berbahaya bagi masyarakat di sekitarnya, terutama penduduk pesisir Banten dan Lampung?
Sejarahnya yang kelam membuat kekhawatiran itu wajar. Pada Desember 2018, longsoran sebagian tubuh gunung memicu tsunami yang menewaskan ratusan orang di sepanjang pesisir Selat Sunda. Hingga kini, Badan Geologi dan PVMBG terus memantau gunung ini secara ketat karena potensinya yang fluktuatif.
Pada September 2026, Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam mulai 4 September malam, disertai semburan lava, suara gemuruh, dan lontaran material pijar.
Statusnya tetap di Level III (Siaga) sejak dinaikkan pada 2 Juli 2026. Meskipun episode utama telah berakhir pada dini hari 6 September, potensi letusan susulan masih tinggi. Masyarakat diminta menjauhi radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa kondisi saat ini berbeda dari 2018. Tubuh gunung yang tumbuh kembali setelah longsoran tersebut masih relatif kecil dan belum menunjukkan tanda-tanda keruntuhan besar yang berpotensi memicu tsunami signifikan.
Pemantauan intensif, termasuk seismik, deformasi, dan satelit, terus dilakukan agar ancaman bisa diantisipasi lebih baik. Berikut adalah beberapa aspek penting yang perlu dipahami tentang bahaya Gunung Anak Krakatau.

1. Aktivitas Vulkanik yang Sangat Dinamis dan Tidak Terduga
Anak Krakatau adalah gunung api muda yang masih dalam fase pertumbuhan. Sejak statusnya dinaikkan ke Level III pada Juli 2026, tercatat ratusan kali erupsi, dengan puncaknya pada awal September berupa erupsi menerus yang menghasilkan kolom abu hingga puluhan ribu kaki.
Karakteristik Strombolian dan lava fountain adalah hal yang biasa, tetapi suplai magma yang masih aktif membuat aktivitas bisa meningkat sewaktu-waktu.
Gempa frekuensi rendah, hybrid, dan tremor terus terekam, menandakan pergerakan fluida vulkanik di dalam tubuh gunung. Bahaya langsung meliputi lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas, dan hujan abu lebat di sekitar kawah.
2. Ancaman Abu Vulkanik yang Meluas
Erupsi September 2026 menyebarkan abu vulkanik ke wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Abu ini mengganggu penerbangan (ratusan penerbangan terdampak), aktivitas nelayan, dan kesehatan masyarakat.
Partikel abu yang tajam dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit, terutama bagi penderita asma atau penyakit paru. Masyarakat diimbau menggunakan masker dan menghindari paparan langsung.
Dampak ini menunjukkan bahwa bahaya gunung tidak hanya terbatas di radius dekat, tetapi bisa merambah jauh melalui angin.
3. Risiko Tsunami: Masih Ada, Tapi Tidak Sama Seperti 2018
Longsoran tubuh gunung ke laut adalah ancaman klasik Anak Krakatau, seperti yang terjadi pada 2018.
Namun, evaluasi Badan Geologi terbaru menyatakan bahwa pertumbuhan tubuh gunung pasca-2018 masih relatif kecil dan belum berpotensi mengalami keruntuhan skala besar yang memicu tsunami dahsyat.