Gunung Anak Krakatau Apakah Berbahaya? Ini 6 Ancaman yang Patut Diwaspadai

Ruth Meliana

Senin, 07 September 2026 | 17:27 WIB
Gunung Anak Krakatau Apakah Berbahaya? Ini 6 Ancaman yang Patut Diwaspadai
Gumpalan awan menyembur saat terjadi letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Banten. [ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki]
baca 10 detik
  • Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus selama 25 jam pada awal September 2026.
  • Erupsi tersebut menyebarkan abu vulkanik ke berbagai wilayah dan memicu penetapan status Level III Siaga.
  • Badan Geologi menyatakan ukuran gunung masih relatif kecil sehingga belum berpotensi memicu tsunami besar.

Suara.com - Gunung Anak Krakatau, yang terletak di tengah Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Sumatra, kembali menjadi perhatian publik setelah rangkaian erupsi intensif pada awal September 2026.

Gunung api muda ini, yang muncul sebagai “anak” dari letusan dahsyat Krakatau 1883, memang dikenal aktif dan dinamis. Banyak orang bertanya-tanya: apakah gunung ini benar-benar berbahaya bagi masyarakat di sekitarnya, terutama penduduk pesisir Banten dan Lampung?

Sejarahnya yang kelam membuat kekhawatiran itu wajar. Pada Desember 2018, longsoran sebagian tubuh gunung memicu tsunami yang menewaskan ratusan orang di sepanjang pesisir Selat Sunda. Hingga kini, Badan Geologi dan PVMBG terus memantau gunung ini secara ketat karena potensinya yang fluktuatif.

Pada September 2026, Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam mulai 4 September malam, disertai semburan lava, suara gemuruh, dan lontaran material pijar.

Statusnya tetap di Level III (Siaga) sejak dinaikkan pada 2 Juli 2026. Meskipun episode utama telah berakhir pada dini hari 6 September, potensi letusan susulan masih tinggi. Masyarakat diminta menjauhi radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa kondisi saat ini berbeda dari 2018. Tubuh gunung yang tumbuh kembali setelah longsoran tersebut masih relatif kecil dan belum menunjukkan tanda-tanda keruntuhan besar yang berpotensi memicu tsunami signifikan.

Pemantauan intensif, termasuk seismik, deformasi, dan satelit, terus dilakukan agar ancaman bisa diantisipasi lebih baik. Berikut adalah beberapa aspek penting yang perlu dipahami tentang bahaya Gunung Anak Krakatau.

ampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi
ampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi

1. Aktivitas Vulkanik yang Sangat Dinamis dan Tidak Terduga

Anak Krakatau adalah gunung api muda yang masih dalam fase pertumbuhan. Sejak statusnya dinaikkan ke Level III pada Juli 2026, tercatat ratusan kali erupsi, dengan puncaknya pada awal September berupa erupsi menerus yang menghasilkan kolom abu hingga puluhan ribu kaki.

Karakteristik Strombolian dan lava fountain adalah hal yang biasa, tetapi suplai magma yang masih aktif membuat aktivitas bisa meningkat sewaktu-waktu.

baca juga

Gempa frekuensi rendah, hybrid, dan tremor terus terekam, menandakan pergerakan fluida vulkanik di dalam tubuh gunung. Bahaya langsung meliputi lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas, dan hujan abu lebat di sekitar kawah.

2. Ancaman Abu Vulkanik yang Meluas

Erupsi September 2026 menyebarkan abu vulkanik ke wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Abu ini mengganggu penerbangan (ratusan penerbangan terdampak), aktivitas nelayan, dan kesehatan masyarakat.

Partikel abu yang tajam dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit, terutama bagi penderita asma atau penyakit paru. Masyarakat diimbau menggunakan masker dan menghindari paparan langsung.

Dampak ini menunjukkan bahwa bahaya gunung tidak hanya terbatas di radius dekat, tetapi bisa merambah jauh melalui angin.

3. Risiko Tsunami: Masih Ada, Tapi Tidak Sama Seperti 2018

Longsoran tubuh gunung ke laut adalah ancaman klasik Anak Krakatau, seperti yang terjadi pada 2018.

Namun, evaluasi Badan Geologi terbaru menyatakan bahwa pertumbuhan tubuh gunung pasca-2018 masih relatif kecil dan belum berpotensi mengalami keruntuhan skala besar yang memicu tsunami dahsyat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

3 Cara Lindungi Kulit dan Tubuh dari Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

3 Cara Lindungi Kulit dan Tubuh dari Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Lifestyle | Senin, 07 September 2026 | 12:32 WIB

270 Ribu Orang Batal Terbang Gegara Erupsi Gunung Anak Krakatau

270 Ribu Orang Batal Terbang Gegara Erupsi Gunung Anak Krakatau

Bisnis | Senin, 07 September 2026 | 12:21 WIB

Imbas Abu Anak Krakatau, Stok Masker di Jakarta Selatan Perlahan Ludes dan Harga Mulai Naik

Imbas Abu Anak Krakatau, Stok Masker di Jakarta Selatan Perlahan Ludes dan Harga Mulai Naik

News | Senin, 07 September 2026 | 12:20 WIB

Terkini

Misi Balas Dendam! 23 Pemain Terbaik Madura United Siap Bungkam Tren Positif PSM Makassar

Misi Balas Dendam! 23 Pemain Terbaik Madura United Siap Bungkam Tren Positif PSM Makassar

Sulsel | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:29 WIB

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:40 WIB

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:28 WIB

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Jabar | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:50 WIB

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

Jakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:47 WIB

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Bogor | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:31 WIB

×