- Samsung Electronics Indonesia menyelenggarakan kompetisi Samsung Solve for Tomorrow 2026 yang diikuti lebih dari 4.000 pendaftar dari 27 provinsi.
- Program berbasis STEM dan kecerdasan buatan ini melibatkan pelatihan intensif selama empat bulan serta menghasilkan sepuluh tim finalis terbaik.
- Tim Bryotech Alpha dan tim I-SEUNG keluar sebagai pemenang dengan menciptakan inovasi filter udara alami dan aplikasi matematika tunanetra.
Suara.com - Samsung Electronics Indonesia memperkuat pengembangan talenta digital generasi muda melalui Samsung Solve for Tomorrow 2026, kompetisi berbasis sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) yang mendorong peserta memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan solusi inovatif bagi masyarakat.
Program tahun ini mencatat antusiasme tinggi dengan lebih dari 4.000 pendaftar dari 27 provinsi di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.600 peserta mengikuti Design Thinking Workshop, kemudian 40 tim melanjutkan ke tahap AI and Communication, hingga akhirnya 10 tim berhasil mencapai tahap penjurian akhir.
Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita, menyampaikan bahwa tingginya partisipasi tersebut mencerminkan semangat generasi muda dalam mengembangkan inovasi berbasis teknologi.
Menurutnya, teknologi akan memberikan nilai lebih ketika digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
“Teknologi memiliki potensi besar untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Namun, teknologi baru benar-benar bermakna ketika bisa menjawab kebutuhan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Melalui Samsung Solve for Tomorrow 2026, peserta tidak hanya berkompetisi untuk menghasilkan ide inovatif, tetapi juga mengikuti rangkaian pembelajaran intensif selama kurang lebih empat bulan.
Program tersebut mencakup pelatihan design thinking, pengembangan kemampuan AI, pelatihan soft skill, serta pendampingan dari mentor yang berasal dari praktisi industri dan tim Samsung R&D Institute Indonesia.
Pendekatan ini dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan mengidentifikasi masalah, berpikir kritis, berkolaborasi, serta mengembangkan gagasan menjadi solusi yang relevan dengan kebutuhan pengguna.
Anggi menegaskan bahwa proses pembelajaran menjadi bagian penting dari program tersebut, terlepas dari hasil akhir kompetisi.
“Nilai Solve for Tomorrow ini tidak hanya ada pada kompetisi atau siapa yang menjadi pemenang,” katanya.
Ia berharap pengalaman dan keterampilan yang diperoleh selama program dapat menjadi fondasi bagi peserta untuk terus mengembangkan inovasi setelah kompetisi berakhir.
AI dan Design Thinking untuk Mempercepat Inovasi
Head of Product Integration Group Samsung R&D Institute Indonesia, Banu Ahwan Pribadi, menyoroti peran AI dalam mempercepat proses inovasi.
Pemanfaatan AI dapat membantu proses identifikasi masalah dan pengembangan solusi berjalan lebih efisien, termasuk dalam proses rekayasa dan pengembangan produk.
Namun, penggunaan teknologi tersebut perlu disertai pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan pengguna. Salah satunya melalui design thinking, yang juga diterapkan dalam proses pengembangan solusi oleh tim Samsung R&D.
![Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita dalam Samsung Solve for Tomorrow 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026). [Suara.com/Rahma]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/29/30044-samsung-solve-for-tomorrow-2026.jpg)
“Dengan design thinking ini sangat penting sekali, dan itu juga diterapkan oleh engineer-engineer dari Samsung R&D,” ujarnya.
Menurut Banu, pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat menjadi landasan penting agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga memiliki dampak yang nyata.
Tiga Fokus Pengembangan Inovasi
Samsung Solve for Tomorrow 2026 mengangkat tiga tema utama, yaitu Sustainability and Environment, Sport and Technology, serta Education.
Ketiganya menjadi ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi penggunaan STEM dan AI dalam menjawab tantangan di bidang lingkungan, olahraga, dan pendidikan.
Hasilnya terlihat dari inovasi para pemenang tahun ini. Tim Bryotech Alpha dari SMA Negeri 81 Jakarta mengembangkan Aerospora, filter udara alami berbahan lumut, sedangkan tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia menghadirkan NOVASIGHT, aplikasi yang membantu penyandang tunanetra mempelajari matematika.
Kedua inovasi tersebut menunjukkan bagaimana pengembangan teknologi dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan spesifik masyarakat, termasuk persoalan lingkungan dan akses pendidikan yang lebih inklusif.
Dukungan terhadap pengembangan talenta digital juga disampaikan oleh Associate Professor Soeparto, Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Ia menilai bahwa generasi muda membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan untuk mengembangkan potensi mereka melalui inovasi.
“Ketika kesempatan diberikan, pendampingan disediakan dan kepercayaan ditumbuhkan, kita menyaksikan bagaimana kegiatan-kegiatan sederhana dapat berkembang menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
![Logo Samsung. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2017/01/17/o_1b6l9nlms1s6823p1ipuml610pa.jpg)
Ia juga menekankan pentingnya mengarahkan penguasaan teknologi agar selaras dengan kebutuhan sosial. Menurutnya, keberhasilan inovasi tidak cukup diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.
“Teknologi yang hebat adalah teknologi yang mampu menjawab persoalan manusia secara nyata. Kita tentu bangga apabila mahasiswa mampu menciptakan kecerdasan buatan. Namun kita akan jauh lebih bangga apabila kecerdasan buatan ini digunakan untuk membantu sesama,” katanya.
Melalui Samsung Solve for Tomorrow 2026, Samsung Electronics Indonesia berharap pengembangan kompetensi digital generasi muda dapat terus berlanjut di luar ruang kompetisi.
Reporter: Rahmatul Fatimah