- Laporan Microsoft Digital Defense Report 2026 mencatat 73,3 persen serangan siber global melibatkan rekayasa sosial dan phishing.
- Pelaku kejahatan siber menyasar organisasi perhotelan di Asia dan Eropa melalui kampanye email phishing Photo.zip pada Juni 2026.
- Microsoft Defender for Office 365 mendeteksi lebih dari 145 juta serangan phishing berbasis QR code antara Juli 2025 hingga Juni 2026.
Suara.com - Ancaman siber semakin sulit dikenali seiring perkembangan kecerdasan buatan (AI). Jika sebelumnya, pesan penipuan kerap terlihat dari kesalahan penulisan atau bahasa yang janggal, kini pelaku dapat memanfaatkan AI untuk membuat komunikasi palsu yang lebih meyakinkan, bahkan menyerupai pesan dari pihak yang dikenal.
Kondisi ini menjadi sorotan dalam Microsoft Digital Defense Report (MDDR) 2026. Berdasarkan data Microsoft Threat Intelligence, sebanyak 73,3 persen upaya serangan siber secara global melibatkan interaksi pengguna, penyalahgunaan akun, rekayasa sosial (social engineering), dan phishing.
Microsoft juga mendeteksi lebih dari 46 juta serangan penyamaran identitas melalui email bisnis. Temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan pengguna semakin sering dimanfaatkan sebagai celah untuk mencuri informasi dan mengakses sistem digital.
Managing Director Microsoft Indonesia, Gunawan Susanto, menegaskan pentingnya keamanan dalam pemanfaatan teknologi.
"Di era AI, keamanan siber bukan lagi sekadar persoalan perlindungan, tetapi fondasi yang memungkinkan organisasi dan masyarakat memanfaatkan teknologi yang kita gunakan. Semakin canggih teknologi, semakin penting pula kemampuan kita menjaga dan mengendalikan data serta identitas digital," ujarnya dalam keterangan resminya, Jumat (30/10/2026).
Ancaman Siber Bersembunyi di Balik Aktivitas Sehari-hari
Serangan siber tidak selalu datang melalui pesan yang mencurigakan. Aktivitas seperti mencari informasi hotel, menerima konfirmasi reservasi, atau mengunduh foto juga bisa dimanfaatkan pelaku.
Salah satu contohnya adalah kampanye Photo.zip yang diidentifikasi Microsoft Threat Intelligence pada Juni 2026. Serangan ini menyasar organisasi perhotelan di Asia dan Eropa melalui email phishing yang menyerupai komunikasi reservasi, pertanyaan kondisi kamar, hingga keluhan tamu.
Penerima diarahkan mengunduh folder ZIP berisi file yang menyamar sebagai foto. Padahal, file tersebut dapat menjalankan program berbahaya ketika dibuka dan memungkinkan pelaku mempertahankan akses ke perangkat korban.
Risiko lain muncul dari penggunaan AI agents, yaitu sistem AI yang dapat mengakses informasi, menggunakan aplikasi, hingga menjalankan tugas secara mandiri. Jika diberikan akses terlalu luas, sistem ini berpotensi melakukan tindakan di luar tujuan penggunanya.
Karena itu, Microsoft menekankan pentingnya pengawasan, pembatasan hak akses, dan kendali manusia dalam penggunaan AI.
5 Kebiasaan Digital yang Harus Diubah
Menghadapi ancaman yang semakin canggih, pengguna perlu lebih cermat dalam beraktivitas di internet. Berdasarkan tren ancaman dalam MDDR 2026, berikut lima kebiasaan yang perlu diterapkan.
1. Jangan langsung percaya pada pesan yang terlihat meyakinkan
AI memungkinkan pelaku membuat pesan palsu dengan bahasa yang rapi dan menyerupai komunikasi asli. Waspadai pesan yang meminta informasi pribadi, mengirimkan tautan, atau mendesak kita segera bertindak. Jika ragu, konfirmasi melalui saluran komunikasi lain.
2. Periksa tautan dan lampiran sebelum membukanya
![Logo Microsoft. [Pexels]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/07/54787-logo-microsoft.jpg)
File yang terlihat seperti foto atau dokumen biasa bisa menyimpan program berbahaya. Pastikan pengirim dan tujuan file sebelum mengunduhnya. Untuk reservasi atau transaksi, lebih aman membuka situs dan aplikasi resmi secara langsung.
3. Waspadai QR code dan dokumen digital
Phishing juga dapat menyebar melalui QR code, PDF, atau halaman verifikasi palsu. MDDR 2026 mencatat lebih dari 145 juta serangan phishing berbasis QR code yang terdeteksi Microsoft Defender for Office 365 selama Juli 2025 hingga Juni 2026. Periksa alamat situs sebelum memasukkan kata sandi atau informasi pribadi.
4. Lindungi identitas digital dan informasi pribadi
Akun email, media sosial, dan layanan perbankan digital merupakan bagian dari identitas yang perlu dijaga. Gunakan kata sandi kuat dan berbeda untuk setiap akun, serta hindari membagikan informasi pribadi secara berlebihan di internet.
5. Jangan hanya mengandalkan kata sandi
Aktifkan autentikasi multifaktor (multifactor authentication atau MFA) untuk menambah lapisan verifikasi saat masuk ke akun. Pengguna juga dapat memanfaatkan passkey, yang memungkinkan verifikasi melalui sidik jari, pengenalan wajah, atau PIN perangkat.
MDDR 2026 menyoroti penggunaan passkey dan MFA yang tahan terhadap phishing sebagai langkah untuk mengurangi risiko penyalahgunaan kredensial.
Keamanan Digital Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Perkembangan AI membawa banyak kemudahan, tetapi juga membuat ancaman siber semakin sulit dikenali. Karena itu, perlindungan digital tidak cukup hanya mengandalkan antivirus atau pembaruan perangkat lunak.
Pengguna perlu membiasakan diri memeriksa keaslian pesan, berhati-hati saat membuka file, membatasi informasi pribadi yang dibagikan, dan memperkuat keamanan akun.
Di era AI, keputusan sederhana saat berinteraksi dengan layanan digital dapat menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi data dan identitas pribadi.