SuaraBandung.id - Ada apa dengan polisi yang tidak memperdulikan undangan dari Deddy Corbuzier.
Padahal seperti diketahui, sederet pejabat sekelas menteri, ketua DPR, MPR mau bicara di podcastnya Deddy Corbuzier untuk berbagi cerita tentang mengelola negara.
Bukan itu saja, Deddy Corbuzier juga mengatakan hal itu menjadi tidak biasa, lantaran sebelum kasus Ferdy Sambo terungkap selalu ada saja orang Polri yang bersedia datang di acaranya.
Namun jauh berbeda dengan kondisi saat ini dimana mantan pesulap ternama Indonesia itu mengaku kesulitannya mengundang pihak kepolisian untuk membahas perkembangan kasus pembunuhan Brigadir J.
“Tidak ada jawaban. Biasa nya cepet,” kata Deddy dikutip dari kanal YouTube Deddy Corbuzier.
Untuk mencari pengganti narasumber, akhirnya Deddy mengundang hadir ke acaranya, Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni.
Di sana Deddy mengorek informasi soal pembunuhan Brigadir J dari sisi lain, yakni wakil rakyat di DPR.
Selain itu, lantaran polri cuek atas undangannya, Deddy berjanji segera mempublis wawancaranya khusus dengan pengacara kondang Hotman Paris Hutapea.
Nama Hotman Paris ini sempat dikaitkan dengan Ferdy Sambo yang diduga menjadi dalang pembunuhan Brigadir J.
“@hotmanparisofficial yang hampir (menjadi pengacara) membela FS tapi akhirnya menolak.. kenapa ya kira kira...Hotman segera tayang!” katanya.
Hasil survei kontras, dan terbalik
Bukan itu saja, Deddy juga membongkar suara publik yang disrvei olehnya melalui media sosial.
Apa yang dilakukan Deddy ini menjawab hasil survei terbaru terkait kepuasan publik terhadap kinerja Polri selama menangani kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir J.
Awalnya Panel Survei Indonesia (PSI) membuat survei kepuasan publik pada Polri soal kasus pembunuhan Brigadir J.
Koordinator PSI, Yuswiryanto memperlihatkan hasil surveinya, ada 76,7 persen publik menjawab puas dengan kinerja Polri saat ini.
Setelah itu ada hasil 17,1 persen yang mengatakan tidak puas atas penanganan kasus kematian Brigadir J.