SuaraBandung.id - Edukasi seks pada anak usia dini adalah suatu proses pembelajaran tentang kesehatan reproduksi dan tubuh manusia yang disesuaikan dengan usia anak-anak.
Edukasi seks pada anak usia dini bertujuan untuk membantu anak-anak memahami perbedaan gender, batasan-batasan tubuh, dan privasi.
Hal tersebut juga membantu anak-anak memahami tentang hak dan kewajiban dalam hubungan sosial serta keluarga.
Pentingnya Edukasi Seks pada Anak Usia Dini
Edukasi seks pada anak usia dini sangat penting karena pada masa ini anak-anak sedang dalam masa pembentukan identitas gender.
Anak-anak mulai menyadari perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Kemudian mulai bertanya tentang bagaimana tubuh mereka bekerja dan apa perbedaan yang ada.
Jika anak-anak tidak mendapatkan penjelasan yang memadai tentang hal ini, mereka dapat mencari jawaban dari sumber yang tidak dapat dipercaya dan salah kaprah, seperti dari teman sebaya atau media sosial.
Selain itu, Edukasi seks pada anak usia dini juga dapat membantu mencegah kekerasan seksual dan pelecehan seksual pada anak.
Anak-anak yang tidak memahami tentang batasan-batasan tubuh dan privasi dapat menjadi korban kekerasan seksual atau pelecehan seksual.
Cara Memberikan Edukasi Seks pada Anak Usia Dini
Memberikan edukasi seks pada anak usia dini memang dapat menjadi hal yang sulit bagi orang tua atau pengasuh anak.
Untuk itu, dilansir dari laman Paudpedia Kemdikbid, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memberikan edukasi seks pada anak usia dini.
1. Memperkenalkan Identitas si Anak dan Anatomi Tubuh
Orang tua dapat memperkenalkan identitas anak dengan mengenalkan perbedaan ciri-ciri tubuh laki-laki dan perempuan.
Selain itu, orang tua dapat mengenalkan anatomi tubuh ketika membiasakan anak untuk membersihkan alat kelaminnya sendiri setelah buang air besar atau buang air kecil.
Ini bisa membantu anak belajar mandiri dan membiasakan diri untuk tidak mengizinkan orang lain menyentuh alat vitalnya.
2. Menyampaikan Penjelasan yang Akurat dan Secara Bertahap
Edukasi seks harus disampaikan secara bertahap, dan harus disesuaikan dengan usia anak.
Orang tua harus memberikan informasi yang jujur, akurat, terbuka, dan tidak menjawab pertanyaan anak dengan asal-asalan atau memberikan informasi yang tidak jujur.
Penting untuk membiasakan anak untuk bersikap jujur dan terbuka dengan orang tua.
3. Menyampaikan dengan Cara yang Benar
Orang tua harus bersikap wajar, rileks, tidak berlebihan, dan menjaga intonasi suara ketika menjelaskan edukasi seksual pada anak.
Mereka juga harus menghindari menghilangkan rasa risi dan takut ketika menjelaskan topik ini pada anak.
Orang tua juga harus melepaskan persepsi seksual yang dewasa dan mesum ketika memberikan informasi kepada anak agar anak tidak menerima pesan dengan keliru.
Sebaiknya informasi disampaikan dengan cara yang sederhana terlebih dahulu, misalnya dengan menggunakan cerita bergambar.
Intinya, orang tua harus memberikan edukasi seks secara sederhana dan mudah dipahami
4. Ajarkan Tentang Batasan Tubuh dan Privasi
Selain itu, orang tua juga harus memberikan edukasi tentang beberapa hal, seperti tubuh anak hanya miliknya sendiri, sentuhan yang baik dan buruk, bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, rahasia yang baik dan buruk, cara melaporkan atau mengungkapkan pelaku, serta bagaimana memberikan pertolongan.
Orang tua juga harus menanamkan peraturan-peraturan yang berlaku menurut agama dan nilai-nilai moral budaya, serta menjelaskan sebab akibat jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Penting untuk memahamkan anak tentang pencegahan kekerasan dan penyimpangan seksual pada anak.
Edukasi seks pada anak usia dini sangat penting untuk membantu anak-anak memahami tentang tubuh dan kesehatan reproduksi.
Edukasi seks pada anak usia dini juga dapat membantu mencegah kekerasan seksual dan pelecehan seksual pada anak-anak.
Orang tua atau pengasuh anak dapat memberikan edukasi seks pada anak usia dini dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak, memberikan penjelasan secara jujur dan objektif, serta menggunakan bahan-bahan edukatif, seperti buku cerita atau film animasi. (*)