Wajah Suram Bandung Barat Dibalik Proyek Ambius Presiden Jokowi Rp118,5 Triliun Kereta Cepat Jakarta-Bandung

bandungbarat | Suara.com

Sabtu, 19 November 2022 | 11:58 WIB
Wajah Suram Bandung Barat Dibalik Proyek Ambius Presiden Jokowi Rp118,5 Triliun Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Presiden Jokowi di proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung. Progeres Kereta Cepat Jakarta-Bandung khusunya yang berada di Bandung Barat, Jawa Barat tidak dirasakan langsung oleh masyarakat. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak/hp)

SuaraBandungBarat.id - Proyek ambisius Presiden Joko Widodo dalam pembangungan Kereta Cepat Jakarta-Bandung senilai Rp118,5 triliun ternyata tidak sejurus dengan dampak awal yang dirasakan masyarakat.

Hingga saat ini banyak masyarakat yang terkena dampak sejak awal proyek garapan China dimulai hingga berjalannya pembangunan.

Progeres Kereta Cepat Jakarta-Bandung khusunya yang berada di Bandung Barat, Jawa Barat tidak dirasakan langsung oleh masyarakat.

Misalnya, di saat kemeriahan uji coba Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang luar biasa, warga di Kompleks Tipar Silih Asih justru gigit jari.

Mereka hingga kini tidak jelas nasibnya lantaran merasa masih digantung oleh proyek ambisius pemerintah Indonesia bersama China itu.

uji operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung [ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/tom]
uji operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung (sumber: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/tom)

Kemegahan proyek ambisis Presiden Joko Widodo alias Jokowi ini benar-benar merugikan mereka yang tinggal di sana.

Banyak rumah warga di RW 13, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang rusak itu dampak selama proyek berlangsung.

Mereka hingga kini masih belum tersentuh perbaikan meski sudah mengadu berkali-kali.

Misalnya seperti rumah milik warga sekaligus Ketua RT 04/13, Heru Agam.

Terlihat sejumlah sudut rumahnya yang retak akibat dampak dari adanya aktivitas blasting atau peledakan.

Proses peledakan untuk menjebol Gunung Bohong yang tepat berada di dekat pemukiman warga itu benar-benar dirasakan daya rusaknya hingga ke pemukiman warga.

Para pekerja terus menembus gunung tersebut untuk dijadikan terowongan atau tunnel 11 trase Kereta Cepat Jakarta-Bandung. 

Dan sekarang proses peledakkan untuk menjebol gunung sudah dilakukan dan berhasil.

Saat ini sudah berbentuk terowongan hasil kerja subkontraktor yakni PT CREC. 

Akan tetapi mirisnya, dampak dari pengerjaan itu membuat banyak rumah warga di Kompleks Tipar Silih Asih rusak, seperti retak pada dinding dan lantai.

Warga benar-benar dibuat khawatir selama dilakukan ledakan untuk proyek terowongan KCIC yang terjadi empat hari takni tanggal 24-28 September 2019. 

Heru Agam, Ketua RT 04/13 Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat Menunjukan Salah Satu Sudut Rumahnya yang Menganga Sejak Tahun 2019 Usai Adanya Blasting Tunnel 11 Kereta Cep [Ferry/Suara,com]
Heru Agam, Ketua RT 04/13 Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat Menunjukan Salah Satu Sudut Rumahnya yang Menganga Sejak Tahun 2019 Usai Adanya Blasting Tunnel 11 Kereta Cep (sumber: Ferry/Suara,com)

Jika ditotal, kata dia ada delapan kali ledakan yang mengakibatkan kerusakan terhadap 120 rumah dihuni 500 jiwa di Kompleks Tipar Silih Asih.

"Yang jelas waktu itu (peledakan gunung), air dalam aquarium bergoyak hebat dan kaca jendela bergetar," katanta. 

"Selama empat hari itu, tiap harinya ada 2 ledakan pada siang dan sore," terang Heru kepada Suara.com pada Jumat (18/11/2022).

Dampak dari ledakan langsung dirasakan luar biasa. Heru melihat sejumlah sudut dinding dan lantai rumahnya mengalami retakan. 

Aktivitas blasting proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) itu benar-benar memiliki daya hancur luar biasa bagi warga setempat.

Heru menerangkan, proses peledakan membuat terowongan kereta cepat itu tidak pernah diberitahukan kepada warga. 

Warga di Kompleks Tipar Silih Asih tahu-tahu terkejut dan kaget lantaran tiba-tiba saja terjadi ledakan yang berdampak terhadap kerusakan bangunan.

Sebagai respon atas proses ledakan, warga langsung berkumpul dan menggeruduk lokasi proyek.

"Sejak hari pertama hingga hari ke empat kami warga selalu datang berbondong-bondong ke lokasi ledakan di Gunung Bihong," kata dia. 

"Warga berharap pelaksana proyek menghentikan aktivitas tersebut. Tapi ledakan terus terjadi hingga tahun 2021," terang Heru.

Heru bahkan meneghaskan perwakilan warga tidak pernah dianggap meski sudah mengadukan masalah itu ke pihak KCIC, Pemprov Jabar, KLHK hingga Komnasham. 

"Kami sudah melakukan berbagai upaya. Mendatangi Pemprov Jabar, KCIC, hingga KLHK tapi tak ada satupun yang mau tanggung jawab," jelas Heru.

Dampak besar lainnya adalah kata Heru, sejak aktivitas blasting untuk menembus Gunung Bohong di atas pemukiman, saat itu warga merasa tidak tenang lagi. 

Banuak rumah warga mengalami kerusakan. Dinding dan lantai terbelah akibat dampak ledakan.

"Apalagi sekarang lagi musim hujan, warga makin was-was," kata Heru. 

"Penurunan tanah itu nyata di wilayah kami," ucapnya lagi. 

"Buktinya lantai rumah warga ada yang sudah tidak rata lagi," kata dia. 

"Jadi kalau malam harus waspada, takutnya tiba-tiba ambruk" ungkap Heru.

Kemudian Heru bersama ratusan warga meminta pemerintah dan PT KCIC bertanggungjawab atas kerusakan rumah. 

Mereka juga meminta penjelasan soal keamanan wilayah setelah proyek itu hampir jadi.

"Kita minta tanggung jawab. Kami ingin kepastian apakah warga di sini aman atau tidak," ucapnya. 

"Kalau tidak, bagaimana solusinya. Kalau aman, kita minta jaminan tertulis," tandasnya.

Pengakuan lain diungkap Ketua RT 13, Rudianto. Dia mengatakan, akibat kondisi pemukiman yang menakutkan sejak kemunculan proyek tersebut membuat belasan warga Kompleks Tipar Silih Asih berniat menjual dan menggadai rumah yang sudah puluhan tahun ditinggali.

Gara-garanya kata dia bukan tidak nyaman, tapi sudah merasa tidak aman setelah selesainya aktivitas blasting atau peledakan di Gunung Bohong untuk membuat terowongan KCJB. 

"Ada sekitar 18 rumah yang saya tau mau dijual atau digadai. Tapi belum laku, bank juga enggak mau ambil karena sudah tau kondisi di sini," kata Rutianto.

Kekinian, meskipun aktivitas ledakan sudah tidak ada, namun warga merasa was-was sewaktu-waktu terjadi bencana longsor hingga tanah amblas. Pasalnya, kata Rudi, sejak adanya proyek itu tanah di kawasan tersebut strukturnya sudah tidak kuat lagi.

"Apalagi sekarang lagi musim hujan, warga makin was-was. Penurunan tanah itu nyata di wilayah kami. Buktinya lantai rumah warga ada yang sudah tidak rata lagi," ungkap Rudi.Q

Saking khawatirnya, lanjut dia, warga rutin melakukan ronda setiap malam untuk mengantisipasi kejadian bencana yang tidak diharapkan. Selain itu, warga juga berencana mengadakan mitigasi dan simulasi kebencanaan.

"Kalau untuk simulasi kebencanaan baru rencana. Kita mau ajukan karena kalau melihat hasil penelitian waktu awal kan struktur tanah di sini terganggu," sebut Rudi.

Warga Kompleks Tipar Silih Asih mengaduk kemana-mana. Termasuk Pemprov Jabar hungga
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Bahkan tim dari KLHK sudab
mengecek ke lokasi. Namun hingga kini belum ada tindakalanjut meski kereta cepat itu sudah diujicobakan.

Direktur Eksekutif Walhi Jabar, Meiki W Paendong mengatakan, selain berdampak terhadap rumah, ledakan untuk menembus Gunung Bohong yang akan digunakan sebagai trase KCJB itu juga berdampak terhadap struktur tanah yang dihuni warga.

"Struktur tanah sudah tak lagi memungkinkan untuk ditempati karena dikhawatirkan terjadi longsor. Apalagi saat ini sedang hujan," ujarnya. (*)

Kontributor : Ferrye Bangkit Rizki

Artikel ini juga tayang di jabar.suara.com berjudul Sisi Kelam dari Bandung Barat Dibalik Kemeriahan Uji Coba Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Begini Wajah Penghina Iriana Jokowi, Rumahnya Ketahuan

Begini Wajah Penghina Iriana Jokowi, Rumahnya Ketahuan

| Jum'at, 18 November 2022 | 15:38 WIB

Akibat Ulah Akun KoprofilJati, Kaesang Pangareb dan Gibran Rakabuming Lakukan Hal ini Untuk Bela Iriana Jokowi

Akibat Ulah Akun KoprofilJati, Kaesang Pangareb dan Gibran Rakabuming Lakukan Hal ini Untuk Bela Iriana Jokowi

| Jum'at, 18 November 2022 | 15:05 WIB

Markus Horison Berharap Tragedi di Kanjuruhan Malang Tidak Terulang

Markus Horison Berharap Tragedi di Kanjuruhan Malang Tidak Terulang

| Sabtu, 15 Oktober 2022 | 22:12 WIB

Adanya Kasus Ferdy Sambo, Presiden Jokowi Ungkap Nilai Kepercayaa Terhadap Polri Turun

Adanya Kasus Ferdy Sambo, Presiden Jokowi Ungkap Nilai Kepercayaa Terhadap Polri Turun

| Sabtu, 15 Oktober 2022 | 21:05 WIB

Terkini

Audit Investigasi Tuntas! Bukti Transfer Ungkap Praktik Jual Beli Jabatan di Pemkab Bogor

Audit Investigasi Tuntas! Bukti Transfer Ungkap Praktik Jual Beli Jabatan di Pemkab Bogor

Bogor | Selasa, 14 April 2026 | 23:34 WIB

5 Poin Penting di Balik Kasus Jual Beli Jabatan ASN Bogor, Kini Dilimpahkan ke Polisi

5 Poin Penting di Balik Kasus Jual Beli Jabatan ASN Bogor, Kini Dilimpahkan ke Polisi

Jabar | Selasa, 14 April 2026 | 23:27 WIB

Negosiasi Pasokan BBM dan LPG dari Rusia, Menteri ESDM: Hasilnya Memuaskan

Negosiasi Pasokan BBM dan LPG dari Rusia, Menteri ESDM: Hasilnya Memuaskan

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 23:25 WIB

Langkah Nyata PTBA Pulihkan Trauma dan Sekolah Rusak Pascabanjir di Sumatera

Langkah Nyata PTBA Pulihkan Trauma dan Sekolah Rusak Pascabanjir di Sumatera

Sumsel | Selasa, 14 April 2026 | 23:24 WIB

Sudah Melecehkan, Malah Memukul: Jejak Kriminal Mahasiswa Untirta yang Kini Diusir dari Kampus

Sudah Melecehkan, Malah Memukul: Jejak Kriminal Mahasiswa Untirta yang Kini Diusir dari Kampus

Banten | Selasa, 14 April 2026 | 23:19 WIB

Pasar Modal Lebih Sehat dan Kredibel Berkat Reformasi OJK

Pasar Modal Lebih Sehat dan Kredibel Berkat Reformasi OJK

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 23:15 WIB

Sidang OTT KPK OKU Bongkar Dugaan Fee Rp3,7 Miliar, Ini Alur Uangnya

Sidang OTT KPK OKU Bongkar Dugaan Fee Rp3,7 Miliar, Ini Alur Uangnya

Sumsel | Selasa, 14 April 2026 | 23:14 WIB

Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat

Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat

Banten | Selasa, 14 April 2026 | 23:13 WIB

Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak

Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak

Sumsel | Selasa, 14 April 2026 | 22:37 WIB

Ketahanan Ekonomi Indonesia Raih Pengakuan Internasional di Tengah Ujian Geopolitik

Ketahanan Ekonomi Indonesia Raih Pengakuan Internasional di Tengah Ujian Geopolitik

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 22:21 WIB