Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.845.000
Beli Rp2.715.000
IHSG 7.129,490
LQ45 690,764
Srikehati 337,455
JII 482,445
USD/IDR 17.273

Pasar Saham Percaya dengan Media yang Independen

Suwarjono | Suara.com

Sabtu, 08 November 2014 | 20:03 WIB
Pasar Saham Percaya dengan Media yang Independen
Anchor televisi. (Youtube)

Suara.com - Saat ini sejumlah media masuk Bursa Efek Jakarta (BEJ). Keberadaan media yang melantai di bursa saham ini menarik, rentan digoyang isu karena posisi media sering menjadi sorotan publik,  media dinilai tidak independen dan masih ada pendapat bahwa media susah mencari keuntungan. Benarkah?

Analis pasar modal Reza Priyambada menilai, perusahaan media yang melantai di bursa saham mesti memperhatikan kepercayaan publik pada netralitas dan independensi produk jurnalistiknya. Bila kepercayaan publik turun kebenaran berita yang dibuat, maka dapat berdampak pada turunnya harga saham. 

“Ini terlihat bagaimana saham grup VIVA atau tvOne dan MNC yang mengalami penurunan beberapa hari setelah Pilpres, karena terkait penyajian hitung cepat yang tidak akurat. Sementara saham grup SCMA atau SCTV mengalami kenaikan karena mungkin publik menganggap stasiun televisi ini lebih netral,” kata Reza dalam diskusi Investor Briefing: Demokratisasi Penyiaran untuk membangun Kepercayaan Pasar, di Restoran Dapur Sunda, seperti dirilis Aliansi Jurnalis Independen, hari ini Sabtu (8/11/2014).

Selain Reza Priyambada, diskusi menghadirkan Amir Effendi Siregar (Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran/KIDP) dan Metta Dharmasaputra (Direktur Eksekutif Katadata). Kegiatan ini diselenggarakan oleh divisi penyiaran dan new media Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia

Menurut Amir Effendi Siregar, "Orang berdebat soal independensi, menurut saya itu wajib hukumnya untuk sebuah media yang ingin profesional. Independensi juga berkaitan dengan jurnalis dan seluruh informasi harus disajikan akurat, balance dan komprehensif." Termasuk di penyiaran, seperti televisi dan radio, di mana frekwensi itu terbatas dan milik publik, sehingga tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi , apalagi kepentingan politik tertentu.

Metta Dharmasaputra menceritakan bahwa aturan media massa di beberapa negara asing lebih ketat. Misal jurnalis, khususnya bidang ekonomi, tidak boleh memiliki saham apapun, karena nanti dianggap bias. Ada pembelajaran menarik dari kasus Dow Jones Inc, ketika perusahaan ini dibeli Rupert Murdoch, ada reaksi keras dari publik terhadap independesi Dow Jones. Akhirnya perusahaan ini membuat Komite dengan menunjuk 5 orang independen. Komite inilah yang mengawasi dan memimpin perusahaan agar tetap independen. Hal begini mungkin perlu didorong di Indonesia, bila ada perusahaan media yang diragukan independensinya.

Diskusi ini akhirnya mengerucut pada kesimpulan bahwa masih ada kurang pahamnya para pelaku pasar maupun analisis pasar modal pada isu isu media. Sehingga sering kali hal hal penting dari kegiatan jurnalistik terlewatkan dalam pertimbangan. Misalnya, tidak banyak analisis pasar modal yang tahu bahwa izin frekwensi itu hanya berlaku 10 tahun sekali. Tahun 2015 ada masa akhir izin kurang lebih 10 stasiun televisi, mestinya ini akan mempengaruhi harga saham.

Di sisi lain, media jarang sekali memberitakan media lain. Ada budaya enggan untuk saling memberitakan media lain, meskipun terkait dengan pergerakan saham. Padahal budaya ini mesti hilangkan, dan para redaktur media massa mesti terbiasa untuk memberitakan media lain, yang terkait dengan kepentingan publik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

The New York Times Pecat Karyawan, Fokus ke Media Digital

The New York Times Pecat Karyawan, Fokus ke Media Digital

News | Kamis, 02 Oktober 2014 | 13:11 WIB

Terkini

Emas Jadi Primadona Saat Dunia Bergejolak, Minat Investasi Melonjak

Emas Jadi Primadona Saat Dunia Bergejolak, Minat Investasi Melonjak

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 13:02 WIB

Perusahaan Ritel China Gencar Ekspansi Buka Toko Fisik di RI

Perusahaan Ritel China Gencar Ekspansi Buka Toko Fisik di RI

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 12:55 WIB

Perhatian Emak-emak! Beli Beras SPHP Dijatah Hanya 5 Buah

Perhatian Emak-emak! Beli Beras SPHP Dijatah Hanya 5 Buah

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 12:34 WIB

Heboh PPN Jalan Tol dan Tarik Pajak Orang Kaya, Purbaya: Itu Masih Rezim Lama

Heboh PPN Jalan Tol dan Tarik Pajak Orang Kaya, Purbaya: Itu Masih Rezim Lama

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 12:09 WIB

Ber-Qurban bersama BRImo: Cukup dalam Genggaman, Kebaikan jadi Nyata

Ber-Qurban bersama BRImo: Cukup dalam Genggaman, Kebaikan jadi Nyata

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 12:03 WIB

Concept Store Kopi Premium Dikenalkan ke Surabaya

Concept Store Kopi Premium Dikenalkan ke Surabaya

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 11:52 WIB

Gerai Smart Home dengan Konsep Experiential Retail Space Resmi Dikenalkan

Gerai Smart Home dengan Konsep Experiential Retail Space Resmi Dikenalkan

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 11:37 WIB

Survei BI: Penyaluran Kredit Bank Lesu di Kuartal I-2026

Survei BI: Penyaluran Kredit Bank Lesu di Kuartal I-2026

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 10:54 WIB

UMKM Jadi Ujung Tombak Ekonomi Hijau ASEAN, Kolaborasi Lintas Sektor Diperkuat

UMKM Jadi Ujung Tombak Ekonomi Hijau ASEAN, Kolaborasi Lintas Sektor Diperkuat

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 10:46 WIB

Dana Rp 3,01 T Kabur Dalam Sehari, Asing Ramai-Ramai Jual BBCA hingga BMRI

Dana Rp 3,01 T Kabur Dalam Sehari, Asing Ramai-Ramai Jual BBCA hingga BMRI

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 10:37 WIB