Suara.com - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (11/11/2015) dibuka melemah tipis sebesar 0,83 poin terkena sentimen negatif yang datang dari eksternal.
IHSG BEI dibuka melemah 0,83 poin atau 0,02 persen menjadi 4.450,21. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 0,22 poin (0,03 persen) menjadi 754,48.
"Pelambatan ekonomi Tiongkok, ditambah dengan kekhawatiran potensi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS(The Fed) menghambat laju bursa saham global, kondisi ini masih membuka peluang terjadinya tekanan bagi IHSG," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities, Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Rabu.
Nico Omer mengemukakan bahwa laju inflasi konsumen Tiongkok yang melambat di bulan Oktober, sementara deflasi pada harga produsen memperpanjang rekor penurunan ekonomi Negeri Tirai Bambu itu.
Dari dalam negeri, lanjut Nico, pelaku pasar sedang menantikan realisasi dari langkah pemerintah terhadap rencana untuk menurunkan pajak penghasilan (PPh) final di sektor jasa konstruksi. Hal itu dilakukan untuk mendorong penyerapan tenaga kerja sebagai bagian dari upaya menggenjot perekonomian Indonesia.
"Jika rencana pemerintah itu terjadi, maka diperkirakan akan mendorong kinerja saham sektor jasa kontruksi akan prospek yang aktraktif," katanya.
Sementara itu, Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan bahwa aksi jual masih membayangi laju IHSG BEI seiring dengan bursa saham di AS dan Eropa menyusul kekhawatiran langkah bank sentral AS (the Fed) untuk menaikan suku bunga acuannya.
"Masih maraknya sentimen negatif terutama dari eksternal membuat pelaku pasar masih melakukan aksi jual sehingga berpengaruh pada berlanjutnya pelemahan laju IHSG," kata Reza Priyambada.
Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng turun 44,69 poin (0,20 persen) menjadi 22.357,01, indeks Nikkei turun 33,91 poin (0,17 persen) ke level 19.629,14, dan Straits Times menguat 2,34 poin (0,08 persen) ke posisi 3.000,63. (Antara)