Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.699.000
Beli Rp2.575.000
IHSG 6.172,340
LQ45 616,921
Srikehati 300,840
JII 375,650
USD/IDR 17.821

Kemitraan Trans Pasifik Ditandatangani, Apa Dampaknya Bagi RI?

Esti Utami

Kamis, 04 Februari 2016 | 09:11 WIB
Kemitraan Trans Pasifik Ditandatangani, Apa Dampaknya Bagi RI?
Unjukrasa menentang penandatanganan Kemitraan Trans Pasifik di depan Gedung Putih, Rabu (3/1). (Reuters/Gary Cameron)

Kemitraan Trans Pasifik (TPP) pimpinan AS, salah satu kesepakatan perdagangan terbesar dalam sejarah, ditandatangani di Selandia Baru pada Kamis (4/2/2016) oleh seluruh 12 negara anggota.

Penandatanganan ini dilakukan di tengah protes keras. Sementara Perdana Menteri Selandia Baru John Key dan Perwakilan Dagang AS Mike Froman memimpin upacara di Sky City Convention Centre di Auckland, pengunjuk rasa memblokir jalan-jalan di luar.

Pakta ambisius itu bertujuan untuk menghapus hambatan perdagangan dan investasi antara negara yang terdiri dari sekitar 40 persen dari ekonomi global.

"Hari ini adalah hari yang signifikan, tidak hanya untuk Selandia Baru tetapi untuk 11 negara lain dalam Kemitraan Trans Pasifik," kata Key.

Presiden AS Barack Obama menyambut gembira  penandatanganan tersebut. Ia mengatakan TPP akan memberikan Amerika Serikat keuntungan atas negara-negara terkemuka lainnya, yaitu Cina.

"TPP memungkinkan Amerika --dan bukan negara-negara seperti Cina-- untuk menulis aturan jalan di abad ke-21, yang terutama penting di wilayah dinamis seperti Asia-Pasifik," kata Obama dalam sebuah pernyataan dari Washington.

Namun, pengunjuk rasa berpendapat itu akan mengorbankan lapangan pekerjaan dan berdampak pada kekuatan di negara Asia-Pasifik. Meskipun penandatanganan menandai akhir dari proses negosiasi, negara-negara anggota masih memiliki waktu dua tahun untuk mendapatkan persetujuan kesepakatan di dalam negeri sebelum berlaku efektif.

"Kami akan mendorong semua negara untuk menyelesaikan proses ratifikasi domestik mereka secepat mungkin," kata Key.

"TPP akan memberikan akses yang lebih baik untuk barang dan jasa kepada lebih dari 800 juta orang di seluruh negara TPP, yang membentuk 36 persen dari PDB dunia."

Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Australia, Brunei, Kanada, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, Amerika Serikat dan Vietnam.

"Negara-negara lain telah mengisyaratkan minat bergabung TPP. Dan ini bisa menyebabkan integrasi ekonomi regional yang lebih besar. Sebuah kawasan yang lebih makmur dan karena itu aman, di semua kepentingan kita," kata Key.

Froman memperingatkan bahwa setiap keterlambatan dalam mendukung kesepakatan itu akan berdampak pada biaya yang dikeluarkan.

"Setelah lima tahun negosiasi, penandatanganan TPP merupakan tonggak penting dalam upaya kita untuk menetapkan aturan standar tinggi dari jalan di wilayah Asia-Pasifik dan lebih umum, dan untuk menyampaikan kesepakatan yang akan menguntungkan buruh, petani dan bisnis Amerika," katanya.

Mengklaim kesepakatan siap untuk menambahkan 100 miliar dolar AS per tahun kepada pertumbuhan ekonomi AS, Froman menambahkan: "Ada biaya-biaya untuk penundaan, biaya ekonomi riil." Kelompok yang menentang TPP telah menyatakan kekhawatiran tentang kerahasiaan di mana negosiasi dilakukan, berpotensi menggerus kekuatan negara dan mengatakan itu dipertimbangkan mendukung Amerika Serikat.

Di tengah spekulasi bahwa anggota Kongres AS tidak akan mau mengambil risiko mengecewakan para pemilih dengan menyetujui hal itu menjelang pemilihan nasional November, Obama pada Selasa membahas ratifikasi dengan para pemimpin Republik yang mengatakan mereka masih memiliki masalah dengan kesepakatan itu.

Sedangkan Slandia Baru bertindak sebagai depositori TPP, mengambil tanggung jawab untuk fungsi administratif. (Antara/AFP)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Amerika Serikat Diprediksi Tetap Jadi Lokomotif Ekonomi Dunia

Amerika Serikat Diprediksi Tetap Jadi Lokomotif Ekonomi Dunia

Bisnis | Rabu, 06 Januari 2016 | 22:33 WIB

Argentina akan Negoisasi Ulang dengan AS Soal Krisis Utang

Argentina akan Negoisasi Ulang dengan AS Soal Krisis Utang

Bisnis | Senin, 07 Desember 2015 | 04:03 WIB

BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2016 Capai 5,2 Persen

BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2016 Capai 5,2 Persen

Bisnis | Kamis, 26 November 2015 | 12:59 WIB

Ikut Trans Pasific Partnership, HIPMI: Sangat Baik

Ikut Trans Pasific Partnership, HIPMI: Sangat Baik

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2015 | 17:59 WIB

Terkini

Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:42 WIB

Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik

Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:37 WIB

Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM

Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:53 WIB

Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi

Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:48 WIB

Kejar Dana ESG Global, Industri Perunggasan Mulai Jual Data Ilmiah demi Tarik Investor

Kejar Dana ESG Global, Industri Perunggasan Mulai Jual Data Ilmiah demi Tarik Investor

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:39 WIB

Tanggapi MSCI, Ini 8 Strategi Pemerintah Perkuat Pasar Saham RI

Tanggapi MSCI, Ini 8 Strategi Pemerintah Perkuat Pasar Saham RI

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:37 WIB

Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih

Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:26 WIB

Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja

Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:17 WIB

Purbaya Kantongi Restu dari Bank Sentral China, Panda Bond Segera Terbit

Purbaya Kantongi Restu dari Bank Sentral China, Panda Bond Segera Terbit

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 16:24 WIB

Oleh-oleh Purbaya dari China: Asian Infrastructure Investment Bank Segera Buka Kantor di RI

Oleh-oleh Purbaya dari China: Asian Infrastructure Investment Bank Segera Buka Kantor di RI

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 16:08 WIB