Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.845.000
Beli Rp2.715.000
IHSG 7.129,490
LQ45 690,764
Srikehati 337,455
JII 482,445
USD/IDR 17.273

Sama Seperti Indonesia, Australia Juga Digempur Sayur Impor

Esti Utami | Suara.com

Senin, 28 Maret 2016 | 11:42 WIB
Sama Seperti Indonesia, Australia Juga Digempur Sayur Impor
Berbagai produk organik seperti sayuran dan buah-buahan. (Dok. KOI)

Keresahan merebak di kalangan petani Australia. Rasa galau itu menjalar karena produk mereka terancam produk impor murah. Kisah ini boleh jadi sangat akrab dengan kondisi petani di Tanah Air, tetapi Australia punya cerita yang sedikit berbeda.

Seperti dikutip dari Biro Statistik Australia (ABS), Senin (28/3/2016), industri pertanian di Australia pada periode 2014--2015 bernilai 53,6 miliar dolar Australia atau setara dengan Rp534,7 triliun (1 dolar Australia = Rp9.975,00). Angka ini naik Rp28 triliun dibanding tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan signifikan pada budi daya sorgum yang banyak digunakan untuk pakan ternak.

Namun, di balik pertumbuhan nilai industri pertanian, khusus untuk industri sayuran Australia justru kemerosotan terjadi, demikian disampaikan ekonom dari asosiasi industri sayuran AUSVEG Andrew Kruup.

Jumlah lahan untuk menanam sayuran telah menyusut 12.000 hektare sepanjang tahun kemarin, menyebabkan penurunan Rp1,6 triliun terhadap nilai industri sayur-mayur Australia.

Lebih lanjut Andrew Kruup, seperti dilansir laman ABC Rural, memaparkan pada periode 2014/2015 jumlah budi daya sayur anjlok 15 persen. Produksi jamur amblas 29 persen, sementara paprika dan tomat turun 12 persen. Menurut dia, kondisi ini terjadi akibat produk-produk Australia yang makin kalah bersaing dengan beraneka produk impor dari Cina, Italia dan AS.

"Sepanjang tahun finansial 2014/2015 kita melihat impor produk sayur negara ini naik 7 persen, dan ini mulai mengancam industri domestik, selain pula menjadi penyebab menyusutnya besaran industri sayur negeri kami," katanya.

Kenyataan pahit ini terjadi di tengah impian Australia menjadi pengekspor produk-produk hortikultura berkualitas tinggi. Sentra-sentra produksi sayur mayur di negara bagian Queensland, New South Wales, Victoria, dan Australia Barat mengalami penurunan produksi.

"Petani Australia sulit bersaing ketika harus berhadapan dengan produk impor yang lebih murah di pasaran," tambah Kruup yang juga dikutip oleh kantor berita AAP.

Kalangan industri sayur di Australia mendesak  pemerintah agar membantu menurunkan biaya produksi untuk meningkatkan daya saing produk di pasar impor.

AUSVEG menyadari sayuran yang ditanam di Australia memiliki kekuatan merek sebagai produk yang berkualitas tinggi dan ramah lingkungan. Akan tetapi, harga yang relatif mahal sering membuat pembeli "kabur".

Australia mengimpor hampir 200.000 ton sayur dari Italia, Cina dan AS pada periode 2014/2015. Ini berarti menyumbang 63 persen total produk sayur impor di Australia.Sementara itu, pada periode sebelumnya (2013/2014) volume impor naik 12 persen ke Rp7,56 triliun dan ekspor bertambah 4 persen ke Rp2,55 triliun.

Defisit pada perdagangan komoditas sayur-mayur ini telah berlipat ganda dalam kurun waktu 5 tahun. Australia pernah menikmati surplus untuk perdagangan produk sayuran 9 tahun yang silam.

Impor sayur terbagi menjadi tiga jenis utama: produk olahan (naik 19 persen pada tahun 2012/2013), sayuran beku (naik 12 persen), dan sayur segar (turun 3 persen).

Yang mendominasi komoditas impor Australia adalah produk olahan, yang bila digabungkan dengan produk beku menguasai 75 persen pasar sayur impor.

Menyitir data AUSVEG yang memuat 12 negara utama sumber impor pada periode 2013/2014, produk impor dari Selandia Baru naik 18 persen (Rp1,86 triliun), dari Italia melonjak 36 persen (Rp1,1
triliun), dan Cina justru turun 2 persen atau setara dengan Rp20 miliar (Rp1,07 triliun).

Selain tiga negara tadi, ada Amerika Serikat (Rp717 miliar), Belanda (Rp440 miliar), Thailand (Rp288,7 miliar), Belgia (Rp235,7 miliar), Turki (Rp212 milar), Peru (Rp181,5 miliar), Meksiko (Rp151,9 miliar), India (Rp138,5 miliar), dan Spanyol (Rp136,7 miliar) sebagai negara-negara sumber impor produk sayuran di Australia. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Mulai dari Rumah, Inilah 7 Cara Sederhana Menerapkan Green Living

Mulai dari Rumah, Inilah 7 Cara Sederhana Menerapkan Green Living

Your Say | Selasa, 16 Desember 2025 | 17:55 WIB

15 Sayuran Serat Rendah yang Aman untuk Lambung, Cegah Kembung dan Gas Berlebih!

15 Sayuran Serat Rendah yang Aman untuk Lambung, Cegah Kembung dan Gas Berlebih!

Lifestyle | Rabu, 03 September 2025 | 19:15 WIB

Mengapa Perempuan Jadi Kunci Perubahan Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang Lestari?

Mengapa Perempuan Jadi Kunci Perubahan Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang Lestari?

Lifestyle | Senin, 25 Agustus 2025 | 10:35 WIB

9 Tips Hidup Hemat dan Ramah Lingkungan: Kurangi Sampah Makanan, Kendalikan Pengeluaran

9 Tips Hidup Hemat dan Ramah Lingkungan: Kurangi Sampah Makanan, Kendalikan Pengeluaran

Your Say | Kamis, 14 Agustus 2025 | 14:27 WIB

Wanita Ngaku Gagal Ginjal Gegara Sayur, Ahli Gizi Ini Beri Jawaban Menohok

Wanita Ngaku Gagal Ginjal Gegara Sayur, Ahli Gizi Ini Beri Jawaban Menohok

News | Selasa, 05 Agustus 2025 | 17:49 WIB

Ngaku Rajin Makan Sayur, Wanita 20 Tahun Ini Syok Divonis Gagal Ginjal dan Wajib Cuci Darah

Ngaku Rajin Makan Sayur, Wanita 20 Tahun Ini Syok Divonis Gagal Ginjal dan Wajib Cuci Darah

News | Selasa, 05 Agustus 2025 | 17:47 WIB

Eco-Friendly Lifestyle: Hidup Sehat dengan Peduli Sampah Elektronik

Eco-Friendly Lifestyle: Hidup Sehat dengan Peduli Sampah Elektronik

Your Say | Minggu, 08 Juni 2025 | 17:18 WIB

Promo Superindo Hari Ini 7 Juni 2025: Sayur Segar Spesial Idul Adha, Bikin Masakan Jadi Nikmat

Promo Superindo Hari Ini 7 Juni 2025: Sayur Segar Spesial Idul Adha, Bikin Masakan Jadi Nikmat

Bisnis | Sabtu, 07 Juni 2025 | 12:12 WIB

9 Sayuran yang Baik untuk Kesehatan Ginjal, Semua Mudah Ditemukan di Pasar!

9 Sayuran yang Baik untuk Kesehatan Ginjal, Semua Mudah Ditemukan di Pasar!

Lifestyle | Selasa, 29 April 2025 | 14:42 WIB

Gestur Hormat Prabowo ke Megawati: Bukan Hanya Soal Usia, Tapi Juga...

Gestur Hormat Prabowo ke Megawati: Bukan Hanya Soal Usia, Tapi Juga...

Video | Jum'at, 11 April 2025 | 21:32 WIB

Terkini

Larangan Total Vape Dinilai Berisiko Ganggu Iklim Investasi

Larangan Total Vape Dinilai Berisiko Ganggu Iklim Investasi

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 07:20 WIB

Target Harga Saham BCA Berubah Jadi Segini

Target Harga Saham BCA Berubah Jadi Segini

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 07:14 WIB

Bukan Energi Listrik Saja, Ini Cara Pertamina Dorong Pemanfaatan Panas Bumi untuk Ekonomi Rakyat

Bukan Energi Listrik Saja, Ini Cara Pertamina Dorong Pemanfaatan Panas Bumi untuk Ekonomi Rakyat

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 23:50 WIB

Jakarta Pertamina Enduro Juara Proliga 2026, Bukti Konsistensi Disiplin dan Semangat Juang

Jakarta Pertamina Enduro Juara Proliga 2026, Bukti Konsistensi Disiplin dan Semangat Juang

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 19:39 WIB

BRI Beri Reward Spesial untuk Agen BRILink, Bisa Dapat Emas Batangan 2 Gram

BRI Beri Reward Spesial untuk Agen BRILink, Bisa Dapat Emas Batangan 2 Gram

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 18:37 WIB

Purbaya Ungkap Rahasia Indonesia Masih Kuat di Tengah Krisis Minyak

Purbaya Ungkap Rahasia Indonesia Masih Kuat di Tengah Krisis Minyak

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 17:05 WIB

Jurus Bos BI Jaga Stabilitas Ekonomi RI

Jurus Bos BI Jaga Stabilitas Ekonomi RI

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 16:42 WIB

Tarik Ulur Larangan Vape, Industri dan Pekerja Was-was

Tarik Ulur Larangan Vape, Industri dan Pekerja Was-was

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 16:35 WIB

Segini Ramalan Harga Emas Antam untuk Sepekan Depan

Segini Ramalan Harga Emas Antam untuk Sepekan Depan

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 16:23 WIB

Purbaya Bantah Dana SAL Milik Pemerintah Sisa Rp 120 Triliun: Uang Kita Masih Banyak!

Purbaya Bantah Dana SAL Milik Pemerintah Sisa Rp 120 Triliun: Uang Kita Masih Banyak!

Bisnis | Minggu, 26 April 2026 | 16:20 WIB