Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.630.000
Beli Rp2.525.000
IHSG 5.916,070
LQ45 584,483
Srikehati 289,903
JII 349,817
USD/IDR 17.994

BJB Syariah: Industri Keuangan Syariah di Indonesia Potensial

Fabiola Febrinastri

Rabu, 21 Februari 2018 | 13:35 WIB
BJB Syariah: Industri Keuangan Syariah di Indonesia Potensial
Aset Bank BJB tembus 13 besar nasional. (Sumber: istimewa)

Suara.com - Direktur Bank BJB Syariah, Indra Falatehan, menilai, masa depan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia cerah dan berpotensi menjadi lokomotif ekonomi nasional. Indra mengemukakan, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di Indonesia merupakan pasar yang potensial bagi industri perbankan syariah maupun keuangan berbasis syariah.

"Indonesia memiliki potensi besar, karena meningkatnya kesadaran masyarakat untuk beragama, terutama Muslim. Industri keuangan syariah semakin hari akan semakin baik, namun secara market share menjadi masalah karena kami melawan sesuatu yang bergerak," ujarnya di Bandung, dalam keterangan pers, Senin (19/2/2018).

Geliat ekonomi berbasis syariah di Indonesia sendiri, saat ini terus memperlihatkan tren positif. Otoritas jasa keuangan mencatat, hingga akhir 2017, penyaluran biaya perbankan syariah tumbuh 15,75 persen secara tahunan, dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 20,54 persen.

Adapun dari sisi aset, perbankan syariah menunjukan peningkatan yang cukup signifikan, yakni mencapai 19,79 persen. Angka tersebut berada di atas tingkat pertumbuhan aset perbankan konvensional yang hanya sebesar 11,20 persen.

Namun secara garis besar, perkembangan ekonomi syariah di Indonesia belum sesuai dengan harapan dan potensi yang ada. Hal tersebut tercermin dari market share keuangan syariah Indonesia yang masih relatif kecil, yakni hanya berkisar di angka 5 persen.

Angka tersebut berada jauh di bawah negara mayoritas Muslim lainnya, seperti Uni Emirat Arab dengan 19,6 persen, Malaysia yang mencapai 23,8 persen, dan Arab Saudi 51,1 persen.

Indonesia sendiri merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Artinya, pemeluk Islam di Indonesia mewakili nyaris 11 persen dari total populasi Muslim dunia.

Sebuah potensi yang seharusnya dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi syariah nasional.

Menurut Indra, salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi syariah adalah dengan melakukan konversi antara perbankan syariah dengan konvensional.  Pendirian Bank BJB Syariah diawali dengan pembentukan Divisi/Unit Usaha Syariah oleh PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. pada 20 Mei 2000.

Tujuan pendirian ini adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jabar yang mulai tumbuh keinginannya untuk menggunakan jasa perbankan syariah pada saat itu.

Setelah 10  tahun operasional Divisi/Unit Usaha Syariah, manajemen PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. berniat mempercepat pertumbuhan usaha syariah dan mendukung program Bank Indonesia yang menghendaki peningkatan share perbankan syariah. Tujuan tersebut kemudian didukung dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk., yang memutuskan untuk menjadikan Divisi/Unit Usaha Syariah menjadi Bank Umum Syariah.

Langkah serupa diikuti oleh beberapa BPD lain, salah satunya Bank Aceh yang melakukan konversi menuju syariah pada 2016. Konversi tersebut terbukti baik, karena kini dapat meningkatkan pertumbuhan laba Bank Aceh.

"Tahun ini ada Bank NTB yang akan konversi dengan syariah. Saya lihat (konversi) paling mungkin dilakukan, namun perlu adanya dorongan besar dari pemerintah," ujar Indra.

Tahun ini, Bank BJB Syariah menargetkan penyaluran kredit sebesar Rp5,4 triliun. Optimisme tersebut lahir berkat adanya potensi pasar syariah di Jabar yang dinilai besar, terlebih Jabar menjadi daerah dengan basis jamaah haji terbesar di Indonesia.

Bahkan angka pemberangkatan haji dan umrah terus memperlihatkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Celah tersebut sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh bank syariah.

Sementara di level nasional, ekonomi syariah diprediksi akan mengalami pertumbuhan signifikan pada 2018. Hal ini terjadi karena terjadinya kelebihan likuiditas yang dialami perbankan.

"Itu akan meningkatkan perkembangan ekonomi syariah, terutama di funding. Namun penyaluran dan pendanaan masih akan melihat dari apa yang terjadi di triwulan satu tahun 2018," ujar Ekonom Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi.

Selain itu, sistem syariah berperan besar dalam laju ekonomi Indonesia terkait perkembangan sektor riil. Sistem syariah menolak adanya bunga bank atau riba, sehingga dana yang dikelola akan dimanfaatkan pada sektor riil. Ini mendorong adanya investasi luar negeri, terutama negara Timur Tengah.

"Saya optimistis, perbankan syariah akan membaik sejalan dengan peningkatan ekonomi Indonesia. Potensi Indonesia sangat kuat kalau melihat pertumbuhan DPK. Meski lambat tapi terus terjadi peningkatan," ujar Acuviarta.

Konsep ekonomi syariah sebenarnya telah hadir dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia sejak hampir tiga dekade lalu. Tepatnya ketika perbankan syariah pertama, yakni Bank Muamalat yang berdiri pada 1991.

Lalu konsep syariah mulai membuka mata masyarakat Indonesia pada 1998. Ketika itu, Indonesia mengalami krisis ekonomi yang membuat banyak perusahaan mesti gulung tikar.

Beberapa kalangan meyakini bahwa krisis terjadi lantaran konsep ekonomi konvensional begitu mengutamakan sistem bunga sebagai instrumen profit, sementara ekonomi syariah sangat berbeda dengan konsep kapitalis maupun komunis.

Ekonomi syariah berpihak pada keadilan dan menolak segala bentuk perilaku seperti riba maupun spekulasi yang tidak pasti.

Fase pencerahan ekonomi syariah kemudian hadir ditandai dengan diberlakukannya UU Nomor 10 Tahun 1998 mengenai arahan pemerintah kepada bank konvensional untuk membuka divisi atau melakukan konvergensi dengan sistem perbankan syariah.

Terbaru, pemerintah membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang dipimpin oleh Presiden Indonesia Joko Widodo pada 2016. KNKS bertujuan untuk mengembangkan potensi dan menjawab tantangan ekonomi syariah di Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Industri Keuangan Syariah Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia

Industri Keuangan Syariah Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia

Bisnis | Senin, 29 September 2025 | 10:24 WIB

Sambut Usia ke-14, Bank BJB Syariah Salurkan Dukungan ke 140 Masjid dan Raih Pengakuan Bergengsi

Sambut Usia ke-14, Bank BJB Syariah Salurkan Dukungan ke 140 Masjid dan Raih Pengakuan Bergengsi

Bisnis | Senin, 20 Mei 2024 | 17:58 WIB

Resmi Tergabung dalam Jaringan Link, Bank Ini Perluas Akseptasi Perbankan Syariah kepada Masyarakat

Resmi Tergabung dalam Jaringan Link, Bank Ini Perluas Akseptasi Perbankan Syariah kepada Masyarakat

Press Release | Jum'at, 03 Mei 2024 | 21:25 WIB

Hati-Hati! Latte Factor: Sepele, tapi Bikin Dompet Bolong!

Hati-Hati! Latte Factor: Sepele, tapi Bikin Dompet Bolong!

Your Say | Selasa, 04 Oktober 2022 | 19:25 WIB

Terima Jajaran Direksi-Komisaris BJB Syariah, Wapres Ma'ruf Amin Dukung Pengembangan Pesantren dan Haji Muda

Terima Jajaran Direksi-Komisaris BJB Syariah, Wapres Ma'ruf Amin Dukung Pengembangan Pesantren dan Haji Muda

Bisnis | Selasa, 26 Juli 2022 | 17:15 WIB

Terkini

Rupiah Menguat ke Rp17.980 per Dolar AS, Ditopang Lonjakan Cadangan Devisa

Rupiah Menguat ke Rp17.980 per Dolar AS, Ditopang Lonjakan Cadangan Devisa

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 16:32 WIB

Telkom University Gandeng NUS, Telkom Dorong Talenta Digital Indonesia Berdaya Saing Global

Telkom University Gandeng NUS, Telkom Dorong Talenta Digital Indonesia Berdaya Saing Global

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:50 WIB

RI Sebenarnya Punya Senjata untuk Mitigasi Pemadaman Listrik

RI Sebenarnya Punya Senjata untuk Mitigasi Pemadaman Listrik

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:50 WIB

Purbaya Girang Pendapatan Negara di Semester I 2026 Lebih Tinggi dari Era Sri Mulyani

Purbaya Girang Pendapatan Negara di Semester I 2026 Lebih Tinggi dari Era Sri Mulyani

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:47 WIB

61 Tahun Telkom Indonesia, Gelorakan Semangat Transformasi Digital Nasional

61 Tahun Telkom Indonesia, Gelorakan Semangat Transformasi Digital Nasional

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:46 WIB

Pemerintah Diminta Evaluasi Dampak Komisi Ojol 8 Persen Selama Enam Bulan

Pemerintah Diminta Evaluasi Dampak Komisi Ojol 8 Persen Selama Enam Bulan

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:45 WIB

Saham Tambang Kembali Bersinar, AMMN, ANTM, Hingga BUMI Potensi Cuan Gede

Saham Tambang Kembali Bersinar, AMMN, ANTM, Hingga BUMI Potensi Cuan Gede

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:44 WIB

Rampungkan Streamlining 10 Entitas, Telkom Perkuat Transformasi Jadi Strategic Holding

Rampungkan Streamlining 10 Entitas, Telkom Perkuat Transformasi Jadi Strategic Holding

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:43 WIB

Zulhas Dorong Sektor Lain Ikuti Langkah Cepat Jalankan Perdagangan Karbon

Zulhas Dorong Sektor Lain Ikuti Langkah Cepat Jalankan Perdagangan Karbon

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:40 WIB

Pelaku Usaha Kembali Dibikin Pusing Pemerintah, Pajak Air Tanah Naik

Pelaku Usaha Kembali Dibikin Pusing Pemerintah, Pajak Air Tanah Naik

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:36 WIB

×