- Kementerian ESDM menargetkan produksi migas mencapai satu juta barel per hari pada tahun 2029 melalui percepatan eksplorasi wilayah.
- Menteri ESDM membuka lelang investasi migas secara transparan di IPA Convex 2026 untuk meningkatkan cadangan domestik nasional.
- Delapan Wilayah Kerja baru telah ditandatangani dengan nilai investasi komitmen pasti sebesar 57,95 juta dolar AS secara akumulatif.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat eksplorasi dan pengembangan sektor minyak dan gas bumi (migas) guna mengejar target produksi nasional sebesar 900 ribu hingga 1 juta barel minyak per hari (bph) pada tahun 2029.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan, pemerintah membuka peluang investasi secara transparan melalui penawaran lelang Wilayah Kerja (WK) Migas untuk meningkatkan cadangan hulu domestik.
"Ini saya buka secara umum, siapa saja boleh (ikut). Tidak perlu nego-nego di belakang meja. Yang penting kalian punya teknologi, kalian punya uang, kalian punya keseriusan," ujar Bahlil saat membuka Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di Tangerang, Banten yang dikutip pada Jumat (22/5/2026).

Hingga Mei 2026, Kementerian ESDM mengidentifikasi 118 WK Migas potensial. Dari jumlah tersebut 43 wilayah masih dalam tahap studi bersama (joint study),
50 wilayah dalam tahap penawaran studi dan akuisisi data baru, 25 wilayah statusnya telah ditandatangani, termasuk 8 WK hasil lelang tahun 2025.
Akumulasi investasi dari delapan WK baru tersebut mencatat total nilai komitmen pasti sebesar 57,95 juta dolar AS dan bonus tanda tangan (signature bonus) sebesar 3,15 juta dolar AS. Total potensi sumber daya dari kedelapan blok ini diperkirakan mencapai 255 juta barel minyak dan 13,79 Trillion Cubic Feet (TCF) gas.
Adapun rincian delapan WK yang resmi ditandatangani:
- WK Gagah, berlokasi di onshore Sumatera Selatan. Wilayah ini memiliki potensi sumber daya 173 juta barel minyak dan 1,1 Trillion Cubic Feet (Triliun Kaki Kubik atau TCF) gas, dengan nilai komitmen pasti 4,25 juta dolar AS dan bonus tanda tangan 300 ribu dolar AS.
- WK Bintuni, berlokasi di onshore dan offshore Papua Barat. Potensi sumber dayanya mencapai 2,1 TCF gas, dengan nilai komitmen pasti 16,55 juta dolar AS dan bonus tanda tangan 1,25 juta dolar AS.
- WK Karunia, berlokasi di onshore dan offshore Sumatera Utara dan Riau. Potensi sumber dayanya sebesar 82 juta barel minyak dan 0,13 TCF gas, dengan nilai komitmen pasti USD 9,9 juta dan bonus tanda tangan 300 ribu dolar AS.
- WK Drawa, berlokasi di offshore Papua Barat dan Papua Barat Daya. Potensi sumber dayanya 0,36 TCF gas, dengan total nilai komitmen pasti 6,45 juta dolar AS dan bonus tanda tangan 200 ribu dolar AS.
- WK Jalu, berlokasi di offshore Laut Andaman. Potensi sumber dayanya sebesar 2,9 TCF gas, dengan total nilai komitmen pasti 6,6 juta dolar AS dan bonus tanda tangan 300 ribu dolar AS.
- WK Southwest Andaman, berlokasi di offshore Laut Andaman. Wilayah ini memiliki sumber daya potensial 3 TCF gas, dengan total nilai komitmen pasti USD8,2 juta dan bonus tanda tangan 300 ribu dolar AS.
- WK Barong, berlokasi di offshore Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Potensi sumber dayanya 2,9 TCF gas, dengan total nilai komitmen pasti 2,5 juta dolar AS dan bonus tanda tangan 200 ribu dolar AS.
- WK Nawasena, berlokasi di onshore dan offshore Jawa Timur. Wilayah ini memiliki potensi sumber daya 1,3 TCF gas, dengan total nilai komitmen pasti USD 3,5 juta dan bonus tanda tangan 300 ribu dolar AS.
Selain menarik investasi asing dan nasional skala besar, Bahlil menekankan pentingnya pelibatan pelaku usaha daerah dalam proyek hulu migas di wilayah masing-masing, dengan catatan tetap mengedepankan profesionalisme dan kompetensi teknis.
"Jangan semua kontraktor orang Jakarta semua. Jadikanlah orang daerah itu menjadi tuan di negerinya sendiri selama (mereka) profesional," tegasnya.
Bahlil juga menginstruksikan jajaran Kementerian ESDM dan SKK Migas untuk mempermudah proses perizinan bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mengingat tingginya risiko investasi di sektor hulu. Namun, ia memperingatkan akan menindak tegas investor yang tidak patuh pada regulasi atau memperlambat pelaksanaan proyek di lapangan.
Selain mengandalkan lelang blok baru, strategi pemerintah untuk mendongkrak produksi migas saat ini bertumpu pada penyederhanaan regulasi, pengaktifan kembali sumur-sumur menganggur (reactivation idle wells), serta penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).