Mogok Kerja Menuntut Kenaikan Upah, 5.000 Pekerja Garmen Malah Dipecat

Iwan Supriyatna | Dian Kusumo Hapsari | Suara.com

Kamis, 31 Januari 2019 | 08:26 WIB
Mogok Kerja Menuntut Kenaikan Upah, 5.000 Pekerja Garmen Malah Dipecat
Ilustrasi pemecatan. (Shutterstock)

Suara.com - Sekitar 5.000 pekerja garmen di Bangladesh dipecat usai mengikuti aksi mogok kerja sebagai bentuk protes masalah upah yang kemudian berujung pada aksi kekerasan.

Ribuan buruh keluar dari beberapa pabrik garmen yang terdapat di berbagai penjuru Bangladesh untuk mengikuti aksi mogok kerja selama berhari-hari.

Akibat aksi mogok kerja, dikabarkan industri garmen di Bangladesh harus menanggung kerugian hingga 30 miliar dolar AS.

Dilansir dari Aljazeera, selama melakukan unjuk rasa, para demonstran harus berhadapan dengan peluru karet dan gas air mata.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, para buruh pabrik garmen ini rata-rata diberi gaji 95 dolar AS per bulan atau sekitar Rp 1,3 juta per bulan.

“Sejauh ini pabrik-pabrik telah memecat 4.899 buruh karena aksi mogok kerja yang berubah menjadi kerusuhan,” kata sumber Aljazeera yang tak mau dipublikasikan identitasnya.

Serikat pekerja mengklaim angka pemecatan sebenarnya jauh lebih tinggi, bahkan mendekati 7.000 pekerja. Belum lagi terdapat ratusan pekerja yang ditangkap pihak kepolisian. Sejauh ini, pihak kepolisian tidak mau mengomentari tuduhan penangkapan tersebut.

Sekretaris Jenderal Dewan Industri Bangladesh Salahuddin Shapon mengungkapkan, banyak pekerja yang takut untuk kembali bekerja.

Bangladesh merupakan rumah bagi 4.500 pabrik garmen yang mempekerjakan 4,1 juta orang. Negara itu menjadi eksportir produk garmen terbesar dunia setelah China.

Sekitar 80 persen pendapatan ekspor Bangladesh berasal dari penjualan pakaian. Sektor garmen berperan besar dalam perekonomian domestik.

Petugas kepolisian terus dikerahkan untuk meredam aksi mogok yang baru akan berhenti jika pemerintah menyetujui kenaikan upah.

"Meski ada amandemen baru-baru ini, faktanya pekerja di Bangladesh masih lekat dengan garis kemiskinan. Pemerintah Bangladesh juga berupaya mengintimidasi pekerja dan menghalangi pekerja untuk berorganisasi," kata Ben Vanpeperstraete, aktivis Clean Clothes Campaign yang berbasis di Amsterdam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Wapres JK: Jalan MH Thamrin Seperti di Singapura, Priok Seperti Bangladesh

Wapres JK: Jalan MH Thamrin Seperti di Singapura, Priok Seperti Bangladesh

News | Senin, 28 Januari 2019 | 13:26 WIB

Menang Tender Rp 1,46 Triliun, INKA Siap Kirim 250 Kereta ke Bangladesh

Menang Tender Rp 1,46 Triliun, INKA Siap Kirim 250 Kereta ke Bangladesh

Bisnis | Senin, 21 Januari 2019 | 10:18 WIB

Serikat Pekerja Hyundai Mogok Kerja. Ada Apa ?

Serikat Pekerja Hyundai Mogok Kerja. Ada Apa ?

Otomotif | Kamis, 20 Desember 2018 | 16:00 WIB

Terkini

Pemerintah Siapkan Tim Koordinasi Hadapi Investigasi Perjanjian Dagang RI-AS

Pemerintah Siapkan Tim Koordinasi Hadapi Investigasi Perjanjian Dagang RI-AS

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 21:41 WIB

Purbaya Salurkan Rp 4,39 Triliun ke Wilayah Terdampak Bencana Banjir Sumatra

Purbaya Salurkan Rp 4,39 Triliun ke Wilayah Terdampak Bencana Banjir Sumatra

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 21:24 WIB

Purbaya Mau Efisiensi Anggaran MBG: Tak Harus Rp 335 Triliun

Purbaya Mau Efisiensi Anggaran MBG: Tak Harus Rp 335 Triliun

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:52 WIB

IPC TPK Antisipasi Lonjakan Arus Peti Kemas saat Ramadan dan Lebaran

IPC TPK Antisipasi Lonjakan Arus Peti Kemas saat Ramadan dan Lebaran

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:40 WIB

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah, Kini 400 Ribu Unit per Tahun

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah, Kini 400 Ribu Unit per Tahun

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:14 WIB

Purbaya Pilih Efisiensi Ketimbang Defisit APBN Naik: Nanti Marah-marah Pemerintah Utang Terus

Purbaya Pilih Efisiensi Ketimbang Defisit APBN Naik: Nanti Marah-marah Pemerintah Utang Terus

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:13 WIB

Ini Upaya Pertamina Hadapi Situasi Global dalam Upaya Jaga Ketersediaan Pasokan Energi

Ini Upaya Pertamina Hadapi Situasi Global dalam Upaya Jaga Ketersediaan Pasokan Energi

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:13 WIB

Ironi Lebaran, Larangan Operasional Truk Justru Buat Buruh Gudang Nganggur

Ironi Lebaran, Larangan Operasional Truk Justru Buat Buruh Gudang Nganggur

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:07 WIB

Eni Kucurkan Rp 230 Triliun untuk Proyek Gas di Kalimantan Timur

Eni Kucurkan Rp 230 Triliun untuk Proyek Gas di Kalimantan Timur

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 19:58 WIB

Pendampingan dan Pelatihan Dongkrak Produktivitas Petani Sawit

Pendampingan dan Pelatihan Dongkrak Produktivitas Petani Sawit

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 19:50 WIB