Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.365,374
LQ45 634,125
Srikehati 308,918
JII 383,968
USD/IDR 17.790

Bangkitnya KUD Perkokoh Ekonomi Nelayan di Banten

Fabiola Febrinastri

Rabu, 03 Juli 2019 | 09:51 WIB
Bangkitnya KUD Perkokoh Ekonomi Nelayan di Banten
Ketua KUD Mina Samudera, Sukmajaya dan timnya. (Dok : LPDB)

Suara.com - Banyak yang tidak tahu bahwa Koperasi Unit Desa (KUD) menjadi salah satu penggerak ekonomi petani sebagai penyedia pangan pada saat era Orde Baru. KUD menjadi primadona saat itu, dengan dukungan pemerintah yang ingin menjadikan KUD sebagai badan hukum yang dapat meningkatkan ekonomi petani.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, satu persatu mulai gugur dan hanya menyisakan papan nama. Bahkan mendengar nama KUDpun rasanya sudah sulit, apalagi bagi kalangan millenial.

Namun KUD tidak serta merta punah begitu saja, sebab masih banyak yang bertahan dan bangkit hingga memiliki ribuan anggota. Salah satunya adalah KUD Mina Samudera.

Meski sudah berdiri sejak 1979, KUD Mina Samudera baru aktif menjalankan kegiatan koperasinya pada 1999. Tahun tersebut adalah masa sulit pasca lahirnya Era Reformasi di Indonesia, termasuk para nelayan di wilayah Pakuhaji, Provinsi Banten.

Kembali menggeliatnya kegiatan di koperasi tidak langsung disambut baik oleh masyarakat sekitar. Padahal KUD itu didirikan atas Instruksi Presiden Republik Indonesia (Inpres) No. 4 tahun 1984, yang didukung pemerintah untuk menstimulsi keaktifan masyarakat dalam mengembangkan koperasi.

Kenyataannya, kondisi pada 1999 berbanding terbalik, sehingga Ketua KUD Mina Samudera, Sukmajaya, harus melakukan pendekatan dari bawah, tidak lagi atas perintah dari atas.

"KUD tidak lagi berjalan seperti dulu.  Seharusnya seperti dulu, adanya Inpres membuat aktif KUD, tapi sekarang kita yang harus turun ke lapangan," ujar Sukmajaya kepada Tim LPDB - KUMKM yang berkunjung ke KUD Mina Samudera.

Tantangan KUD pada saat itu, mulai dari sulitnya mendapatkan anggota hingga sulitnya akses permodalan. Sebagaimana diketahui, koperasi dibentuk atas keanggotaan yang modalnya berupa simpanan wajib dan simpanan pokok

Jika anggotanya tidak bertambah, maka modal pun ikut terbatas. Apalagi koperasi merupakan badan hukum yang banyak dijauhi oleh lembaga perbankan, karena memiliki risiko tinggi. KUD ini memiliki bidang usaha perikanan yang juga berisiko tinggi.

"Memang awalnya kesulitan modal. Apalagi dengan bidang usaha perikanan yang dianggap high risk oleh perbankan" jelas Sukmajaya.

Di tengah sulitnya modal tersebut, dinas koperasi setempat memberitahukan untuk mengakses dana bergulir LPDB - KUMKM, karena memiliki bunga jasa yang rendah dibandingkan dengan lembaga lain. Tidak hanya dinas koperasi, Sukmajaya pun juga mendapatkan rekomendasi dari rekannya sesama koperasi, pemberitaan media, hingga akhirnya ke kantor LPDB untuk mendapatkan informasi mengenai syarat dan ketentuan dana bergulir.

"Kami tahu LPDB dari berbagai sumber, utamanya dari Dinas Koperasi yang saat itu sedang ada sosialisasi, dan LPDB menjadi salah satu narasumbernya," lanjut Sukmajaya, yang juga alumni IKOPIN Bandung ini.

KUD Mina Samudera telah mendapatkan dana bergulir sebesar Rp 2 miliar yang dimanfaatkan untuk modal usaha Unit Simpan Pinjam (USP). Modal tersebut sudah dirasakan dampaknya, sehingga para nelayan tidak lagi tercekik oleh tengkulak, karena memang KUD ini memprioritaskan agar anggotanya dapat membawa hasil yang lebih ke rumah.

"Dana bergulir LPDB kami jadikan modal USP yang disalurkan kepada anggota, khususnya nelayan, sehingga tidak lagi tercekik oleh tengkulak," cerita Sukmajaya.

Selain USP, KUD Mina Samudera juga memiliki unit usaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), atau sebelumnya lebih dikenal Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN), serta unit usaha Kedai Pesisir yang berupa warung, dan unit usaha Grameen atau tangggung renteng, dimana kelompok nelayan diberikan fasilitas pinjaman yang tidak mengenakan agunan.

Berdasarkan Laporan Rapat Anggota Tahun 2018, terdapat 9.635 anggota yang dilayani oleh koperasi. Dari awalnya hanya memiliki 10 karyawan, kini memiliki lebih dari 40 karyawan yang bekerja di koperasi.

Hingga akhir 2018, KUD Mina Samudera memiliki aset lebih dari Rp 29 miliar, dengan SHU di atas Rp 1,6 miliar. Hal ini menunjukkan kinerja positif KUD Mina Samudera.

"Pada 2018, tercatat lebih dari 9.000 anggota aktif, jumlah karyawan yang bertambah tiap tahunnya, dan alhamdulillah, SHU pun menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 1,4 miliar, kini Rp 1,6 miliar," papar Sukmajaya.

Jadi Musuh Tengkulak
Keberadaan KUD Mina Samudera memang disambut baik oleh nelayan, karena telah memberikan layanan pinjamannya melalui unit simpan pinjam koperasi untuk anggotanya. Namun hal ini justru membuat tengkulak kebakaran jenggot

Tidak jarang, kantor koperasi mendapat ancaman hingga didatangi dengan membawa senjata tajam.

"Tengkulak tidak terima adanya unit simpan pinjam koperasi. Ke kantor sampai bawa golok untuk mengancam kami," kenang Sukmajaya.

Meskipun prosesnya tidak mudah, saat ini KUD Mina Samudera justru merangkul para tengkulak, bahkan menjadikan mereka anggota koperasi.

"Tengkulak itu kami rangkul. Memang tidak mudah, tapi dengan pendekatan sosial, kini malah menjadi anggota koperasi," ucap Sukmajaya.

KUD yang dikelola dengan mengutamakan kepentingan anggota menjadi kunci keberhasilan koperasi. Dalam memberantas tengkulak atau rentenir, dibutuhkan mental yang kuat bagi pengurus dan pengelola koperasi.

Sukmajaya pun berharap kepada LPDB - KUMKM, agar dapat membuka kantor layanan di tiap provinsi di Indonesia, agar yang jauh tidak kesulitan mengakses dana bergulir.

"Kami berharap, LPDB dapat memperbanyak perwakilan di daerah. Minimal di 34 provinsi ada satu perwakilan, agar rekan koperasi lain bisa lebih mudah mengaksesnya," harapnya.

LPDB - KUMKM merupakan satuan kerja dari Kementerian Koperasi dan UKM, yang sampai saat ini telah menyalurkan Rp 8,9 triliun kepada satu juta lebih pelaku usaha di Indonesia. Tahun 2019, target penyaluran LPDB sebesar Rp 1,5 triliun, yang akan disalurkan menggunakan skim konvensional Rp 975 miliar dan skim syariah Rp 525 miliar.

Tarif yang dikenakan untuk program Nawacita (pertanian, perikanan, dan perkebunan) adalah 4,5 persen per tahun menurun, sektor riil 5 persen dan simpan pinjam 7 persen. Syarat dan ketentuan pinjaman/pembiayaan dana bergulir LPDB - KUMKM dapat diakses melalui www.lpdb.id.

baca juga
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

LPDB Lirik Pola Tanggung Renteng Kopwan SBW Jadi Role Model

LPDB Lirik Pola Tanggung Renteng Kopwan SBW Jadi Role Model

Bisnis | Jum'at, 24 Mei 2019 | 09:57 WIB

Kaya Hasil Laut, UD Nagata Tuna di Banda Aceh Kini Jadi Eksportir Tuna

Kaya Hasil Laut, UD Nagata Tuna di Banda Aceh Kini Jadi Eksportir Tuna

Bisnis | Kamis, 16 Mei 2019 | 12:53 WIB

Meski Gandeng Fitench, LPDB Pastikan Bunga Tetap Rendah

Meski Gandeng Fitench, LPDB Pastikan Bunga Tetap Rendah

Bisnis | Minggu, 05 Mei 2019 | 10:21 WIB

LPDB Berharap Kucuran Dana ke Koperasi Luar Jawa Meningkat

LPDB Berharap Kucuran Dana ke Koperasi Luar Jawa Meningkat

Bisnis | Sabtu, 04 Mei 2019 | 09:50 WIB

Sunyoto, Pengusaha Mebel Rotan Ini Produknya Kian Mendunia

Sunyoto, Pengusaha Mebel Rotan Ini Produknya Kian Mendunia

Bisnis | Rabu, 10 April 2019 | 11:12 WIB

Pemerintah Siap Dukung Perkembangan Hilirisasi Industri Kelapa

Pemerintah Siap Dukung Perkembangan Hilirisasi Industri Kelapa

Bisnis | Jum'at, 05 April 2019 | 12:37 WIB

Terkini

Terharu! Marco Bezzecchi Sukses Raih Podium Walau Sambil Menahan Sakit

Terharu! Marco Bezzecchi Sukses Raih Podium Walau Sambil Menahan Sakit

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:21 WIB

Puluhan Senjata dan Amunisi Ditemukan Lagi di Sekolah Islam Harapan Ibu

Puluhan Senjata dan Amunisi Ditemukan Lagi di Sekolah Islam Harapan Ibu

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:19 WIB

Wealth Management BNI Kian Solid, AUM BNI Private Tumbuh 21%

Wealth Management BNI Kian Solid, AUM BNI Private Tumbuh 21%

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:17 WIB

Selat Hormuz Kembali Lancar, ICP Indonesia Turun ke 81,68 Dolar AS per Barel

Selat Hormuz Kembali Lancar, ICP Indonesia Turun ke 81,68 Dolar AS per Barel

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:17 WIB

IHSG Bergerkan Melemah di Level 6.300 Pagi Ini, Saham GIAA Melesat

IHSG Bergerkan Melemah di Level 6.300 Pagi Ini, Saham GIAA Melesat

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:16 WIB

Mulai Rp 1,35 Juta, Ini Harga Tiket Konser NCT 127 'The RedLine' di Jakarta

Mulai Rp 1,35 Juta, Ini Harga Tiket Konser NCT 127 'The RedLine' di Jakarta

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:15 WIB

30 Kata-kata Ucapan 17 Agustus Aesthetic untuk Caption Instagram dan WA

30 Kata-kata Ucapan 17 Agustus Aesthetic untuk Caption Instagram dan WA

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:15 WIB

Tuntutan Trump Dorong Harga Minyak ke Level Tertinggi

Tuntutan Trump Dorong Harga Minyak ke Level Tertinggi

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:02 WIB

Purbaya: Peran Kemenkeu Bukan Hanya Bagi-bagi Anggaran

Purbaya: Peran Kemenkeu Bukan Hanya Bagi-bagi Anggaran

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:58 WIB

Modal Rp300 Ribuan! Ini 5 Sepatu Lari Lokal Terbaik untuk Pemula

Modal Rp300 Ribuan! Ini 5 Sepatu Lari Lokal Terbaik untuk Pemula

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:55 WIB

×