Suara.com - Pada hari ini, BRI Ventures dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menjalin kerjasama Memorandum of Understanding (MoU), sebagai komitmen bersama untuk membantu lebih banyak startup lokal meraih Penawaran Umum Perdana atau Initial Public Offering (IPO) di bursa saham lokal.
Setelah pembukaan dan melakukan seremoni penandatanganan resmi MoU - BRI Ventures dan BEI, pada kesempatan yang sama, juga menyelenggarakan konferensi virtual bertajuk Workshop Go Public.
Acara ini dirancang untuk menciptakan kesadaran di antara para startup founder dan industri Modal Ventura tentang bagaimana dan mengapa startup harus menjadi perusahaan go public melalui skema IPO di Bursa Efek Indonesia.
Di seluruh dunia, pasar IPO 2020 untuk startup dengan cepat menarik diri dari pasar saham yang sedang lesu, meskipun dalam situasi resesi ekonomi didorong oleh pandemi.
Tren transformasi digital yang tak terbendung terus mengawal lebih banyak perusahaan teknologi baru ke garis depan untuk keluar dari pasar modal. Banyak perusahaan blue-chip menyadari bahwa untuk tetap bertahan, harus mengadopsi teknologi modern seperti komputasi awan, analitik, kecerdasan buatan, dan lain-lain. Kondisi ini menjanjikan pasar IPO sektor teknologi bullish beberapa tahun mendatang.
Data menunjukkan bahwa startup yang yang melakukan exit melalui skema IPO mendapatkan keuntungan lebih banyak, terutama dari segi pajak yang lebih rendah, biaya modal yang relatif dapat lebih rendah, tata kelola yang lebih sehat, serta banyak lagi.
Ditambah, ada juga korelasi yang kuat antara startup yang mencapai keberlanjutan setelah IPO dan kesuksesan perusahaan modal ventura yang mendukung mereka sebelum keluar.
Akan tetapi, di Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi pusat perkembangan startup di ASEAN, saat ini hanya mencatatkan sedikit perusahaan startup yang melakukan go public atau mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.
Melihat hal ini, perusahaan modal ventura lokal melihat peluang untuk membawa pasar modal indonesia terus berkembang dengan cara menawarkan lebih banyak pendanaan dari sektor pasar modal kepada perusahaan-perusahaan startup berbasis teknologi yang sedang berkembang pesat di Indonesia.
Workshop Go Public yang diselenggarakan ini membahas beberapa topik penting seperti; bagaimana mengakselerasi secara keberlanjutan pertumbuhan startup ke level selanjutnya; keuntungan menjadi perusahaan go public; serta beberapa topik penting lainnya.
Peserta yang ikut dalam acara kali ini pun cukup beragam, dari para investor di pasar modal, baik retail maupun institusi, pelaku startup dan UMKM, media, serta masyarakat secara luas yang hendak belajar lebih dalam.
CEO BRI Ventures Nicko Widjaja menjelaskan bahwa “Efek luas dari pandemi Covid-19 telah memaksa industri modal ventura untuk mengkalibrasi ulang, dan menjauh dari model growth-at-all-costs menjadi pendanaan yang berfokus pada startup yang mampu mengukir pertumbuhan yang cepat, profitable dan sustainability. Oleh karena itu, saya mengestimasi bahwa IPO merupakan salah satu opsi pendanaan untuk para startup agar bisa terus sustain di masa mendatang”.
Dia pun menambahkan, “IPO umumnya dilakukan oleh startup yang sedang berada di growth stage. Oleh karena itu, Dana Ventura Sembrani Nusantara yang baru saja kami launching beberapa bulan yang lalu ingin mendukung semakin banyak startup di Indonesia untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal indonesia atau go public. Bulan ini, Sembrani Nusantara bersiap untuk berinvestasi di dua startup lokal yang memiliki potensi besar untuk berkembang dan mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia. Disamping itu, kami juga melihat sampai dengan saat ini, terus meningkatnya minat para investor lokal, untuk membeli unit penyertaan Dana Ventura Sembrani Nusantara. Hal ini sejalan dengan semakin baiknya perkembangan industri startup dan digital di tanah air.”
Lebih lanjut, penelitian dari INSEAD pada September 2019 menunjukan bahwa pada tahun 2018 hanya tujuh dari 131 startup di ASEAN yang berhasil melakukan divestasi melalui skema IPO.
Kajian tersebut juga memperkirakan bahwa pada 2020 jumlah startup yang melakukan divestasi melalui skema IPO masih lebih sedikit dibanding dengan startup yang memilih divestasi dengan skema merger dan akuisisi.