Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Pemerintah Disebut Sedang Melakukan Kejahatan Ekonomi Terhadap Petani Tembakau

Iwan Supriyatna

Jum'at, 28 Mei 2021 | 05:51 WIB
Pemerintah Disebut Sedang Melakukan Kejahatan Ekonomi Terhadap Petani Tembakau
Petani Tembakau. (Dok Ist)

Suara.com - Direktur Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Salamuddin Daeng, menilai rezim kesehatan pemerintah yang mengintervensi industri pertembakauan atau industri rokok serupa dengan penanganan Covid-19.

Menurutnya intervensi kesehatan rokok dibuat seperti terjadi epidemic, dimana rokok diibaratkan penyakit dengan sumbernya yakni produksi rokok ingin dipangkas habis. 

"Lebih mudah kita ketahui setelah Covid-19 ini sama sebenarnya, seperti physical distancing untuk perokok dan ada ruang isolasi untuk perokok. Karena memang sama aktornya," katanya dalam Webinar Akurat Solusi dengan tema "Intervensi Rezim Kesehatan dan Ancaman Sektor Pertembakauan" ditulis Jumat (28/5/2021).

Ia mengatakan aktor dibalik intervensi industri rokok adalah WHO, dimana pihaknya membuat kerangka aturan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Hingga saat ini Indonesia belum meratifikasi, namun penerapan pembatasan tembakau di Indonesia, menurut Daeng, selama ini diadopsi dari WHO. 

Ia menuturkan saat ini industri tembakau sudah menghadapi berbagai pembatasan mulai dari cukai, kuota produksi, hingga kesulitan finansial karena banyak perbankan menolak pembiayaan tembakau. Hasilnya potensi industri tembakau sudah sulit berkembang menjadi lebih besar.

Pihaknya mengungkapkan saat ini saja misalnya, produksi tembakau petani di Indonesia hanya mampu memproduksi 50% kebutuhan industri rokok. Akibatnya terjadi lonjakan impor tembakau tercatat data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor tembakau pada tahun 2019 mencapai 110,92 ton per tahun.

Daeng menegaskan ini merugikan petani tembakau di tengah terkena dampak efisiensi industri rokok karena cukai, namun disisi lain tembakau malah banjir impor.

"Pemerintah melihat dengan kacamata kuda tak melihat dampak ekonomi dan politik. Dia tak melihat dinamika impor secara keseluruhan. Harusnya disiapkan jangan sampai impor. Ini harusnya kepentingan nasional yang ada diatas," tandasnya.

baca juga

Ketua Depinas Asosiasi Petani Tembakau Indonesia, Agus Parmuji menegaskan bahwa pemerintah saat ini sedang melakukan kejahatan ekonomi terhadap para petani tembakau di Indonesia.

"Jika boleh jujur, saat ini kami sedang merasakan kejahatan ekonomi nasional di sentra pertanian tembakau, mengapa begitu? sebab banyaknya regulasi yang berbelit-belit pada akhirnya membuat para petani kian terkikis. Terkikisnya bukan hanya dalam presentase rendah saja, bahkan selama hampir 4 tahun ini kami mengalami sebuah degradasi ekonomi karena terpengaruh dengan regulasi pusat yang berdampak terhadap perlakuan regulasi di tingkat daerah," tuturnya.

Tak hanya itu saja, lanjutnya, dengan adanya kenaikan cukai kemudian hadirnya perda-perda lain yang mencapai 300 aturan ini secara tidak langsung memancing sebuah kejahatan di tingkat lokal. 

"intinya semua ini berasal dari tingkat pusat yang didorong oleh rezim kesehatan ini. Sebetulnya kita hanya berharap satu yaitu negara yang berdaulat, sebab hidup matinya kami para petani tembakau bergantung kepada tiga linstas sektor kementerian," ucapnya.

Ketiga lintas sektor kementerian seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pertanian tersebutlah yang menjadi penentu mati atau tidaknya para petani. Sebab tembakau ini merupakan program alam dan produk alam. 

"Oleh karena itulah, budaya sentra pertembakauan ini tidak bisa serta merta dihanguskan karena menyangkut topografi, dan sudah dilakukan secara turun menurun. Jujur, sekarang ini kami tidak membutuhkan kehadiran negara. Akan tetapi peran nyata dari negara untuk melindungi eksistensi pertembakauan," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemkot Bandung: Publik Perlu Tahu Hubungan Rokok dengan COVID-19

Pemkot Bandung: Publik Perlu Tahu Hubungan Rokok dengan COVID-19

Jabar | Kamis, 27 Mei 2021 | 06:00 WIB

Viral Video Dua Bocah Asyik Nge-vape, Diduga Hasil Uang THR

Viral Video Dua Bocah Asyik Nge-vape, Diduga Hasil Uang THR

News | Senin, 24 Mei 2021 | 14:42 WIB

Masih Ada Remaja Merokok, Ketua DPRD Kota Bogor: Perda KTR Belum Efektif

Masih Ada Remaja Merokok, Ketua DPRD Kota Bogor: Perda KTR Belum Efektif

Jabar | Senin, 24 Mei 2021 | 14:28 WIB

Terkini

BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan

BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan

Sumsel | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:40 WIB

Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI

Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:16 WIB

Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional

Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:16 WIB

Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total

Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:06 WIB

Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi

Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:57 WIB

Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?

Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?

Bogor | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:37 WIB

Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak

Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:28 WIB

Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus

Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:27 WIB

Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler

Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:23 WIB

Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123

Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:22 WIB

×