alexametrics

Utang Luar Negeri Indonesia Kuartal II Turun jadi USD 415,1 Miliar

Agung Sandy Lesmana | Achmad Fauzi
Utang Luar Negeri Indonesia Kuartal II Turun jadi USD 415,1 Miliar
Ilustrasi Bank Indonesia. [Antara]

"Perkembangan ini disebabkan oleh penurunan posisi pinjaman luar negeri (loan) seiring dengan pelunasan atas pinjaman yang jatuh tempo selama triwulan II 2021..."

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia  pada akhir triwulan II 2021 sebesar USD 415,1 miliar, turun 0,1 persen (qtq) dibandingkan dengan posisi ULN triwulan I 2021 sebesar USD 415,3 miliar. 

Secara tahunan, pertumbuhan ULN triwulan II 2021 juga melambat, dari 7,2 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 1,9 persen (yoy). 

Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mengatakan, penurunan utang luar negeri pada kuartal II didorong oleh perlambatan pertumbuhan ULN Pemerintah dan kontraksi ULN swasta.

Ia mejabarkan, pad  Posisi ULN Pemerintah pada triwulan II 2021 mencapai USD 205,0 miliar atau tumbuh 4,3 persen (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan pada triwulan I 2021 sebesar 12,6 persen (yoy). 

Baca Juga: Terima RUU APBN dari Presiden, Ketua DPR Ingatkan Pemerintah Jaga Rasio Utang

"Perkembangan ini disebabkan oleh penurunan posisi pinjaman luar negeri (loan) seiring dengan pelunasan atas pinjaman yang jatuh tempo selama triwulan II 2021. Pelunasan pinjaman luar negeri tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kredibilitas Pemerintah dalam mengelola ULN," ujar Erwin dalam keterangannya, Senin (16/8/2021). 

Sementara itu, tutur Erwin, aliran modal masuk neto di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik oleh investor nonresiden meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya seiring kepercayaan investor yang semakin baik sehingga turut mendukung likuiditas di pasar SBN domestik.

"Posisi ULN Pemerintah triwulan II 2021 relatif aman dan terkendali mengingat hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total ULN Pemerintah," kata dia.

Sedangkan, ULN swasta mengalami kontraksi sebesar 0,5 persen (yoy) pada triwulan II 2021, setelah pada triwulan I 2021 tumbuh positif sebesar 2,6 persen (yoy). 

Hal ini disebabkan oleh kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan sebesar 6,8 persen (yoy), lebih dalam dari kontraksi triwulan sebelumnya sebesar 6,7 persen (yoy). 

Baca Juga: Buruh Cuci Ketiban Rezeki, Utang Rp 11 Juta Dilunasi Polisi

Selain itu, pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan mengalami perlambatan sebesar 1,3 persen (yoy) dari 5,4 persen (yoy) pada triwulan I 2021. 

Komentar