alexametrics

Bank Dunia: Pemulihan Ekonomi di Asia Timur dan Pasifik Hadapi Perlambatan

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani
Bank Dunia: Pemulihan Ekonomi di Asia Timur dan Pasifik Hadapi Perlambatan
Ilustrasi Penurunan Perekonomian Indoensia (pixabay)

Pemulihan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik terkendala oleh penyebaran varian Delta COVID-19 yang menerjang beberapa negara tersebut hingga saat ini.

Suara.com - Pemulihan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik terkendala oleh penyebaran varian Delta COVID-19 yang menerjang beberapa negara tersebut hingga saat ini.

Kondisi ini pun memperpanjang kesulitan perusahaan dan rumah tangga, sehingga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesenjangan.

Aktivitas ekonomi mulai melambat pada kuartal kedua 2021, dan prediksi pertumbuhan telah dikurangi bagi kebanyakan negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP), menurut laporan Bank Dunia East Asia and Pacific Fall 2021 Economic Update.

Meskipun Tiongkok diproyeksikan akan bertumbuh sebesar 8,5%, negara-negara lain di kawasan EAP diprediksi akan bertumbuh 2,5%, hampir 2 poin persentase lebih rendah daripada yang diperkirakan pada April 2021.

Baca Juga: Kasus Covid-19 Melandai, Menko Airlangga: Jangan Kasih Kendor

Angka tenaga kerja dan partisipasi tenaga kerja mengalami penurunan, dan sebanyak 24 juta penduduk tidak dapat lepas dari kemiskinan pada tahun 2021.

“Pemulihan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik kini berubah,” kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Manuela Ferro dalam konfrensi pers virtualnya, Selasa (28/9/2021).

Walaupun pada tahun 2020 kawasan EAP berhasil mengendalikan COVID-19 ketika kawasan-kawasan lainnya di dunia sedang berjuang, peningkatan angka COVID-19 di tahun 2021 telah mengurangi prospek pertumbuhan untuk 2021.

"Namun demikian, kawasan ini muncul secara lebih kuat dari krisis sebelumnya dan dengan kebijakan yang tepat, dapat melakukannya kembali," katanya.

Kerusakan akibat melonjaknya kembali dan bertahannya COVID-19 kemungkinan akan menghambat pertumbuhan dan menambah kesenjangan selama jangka panjang, demikian temuan dalam Laporan ini.

Baca Juga: Usaha Pemulihan Ekonomi, Pengelola Apotek Diminta Menyediakan Ruang Untuk Produk UMKM

"Kegagalan dari perusahaan-perusahaan yang seharusnya sehat menyebabkan hilangnya aset tak berwujud yang berharga, sedangkan perusahaan-perusahaan yang masih bertahan menunda investasi yang produktif. Perusahaan-perusahaan yang lebih kecil mengalami dampak terparah," katanya.

Meskipun sebagian besar perusahaan menghadapi kesulitan, perusahaan-perusahaan yang lebih besar kemungkinan akan mengalami penurunan yang lebih kecil dalam penjualan mereka.

"Perusahaan-perusahaan ini kemungkinan besar mengadopsi teknologi canggih dan menerima dukungan dari pemerintah," pungkasnya.

Komentar