Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.186,363
LQ45 618,857
Srikehati 301,720
JII 368,583
USD/IDR 18.073

Pamsimas Jawab Tantangan Perubahan Iklim dan Kelangkaan Air

Fabiola Febrinastri, Restu Fadilah

Selasa, 23 November 2021 | 13:37 WIB
Pamsimas Jawab Tantangan Perubahan Iklim dan Kelangkaan Air
Ilustrasi perubahan iklim. (Envato)

Suara.com - Air merupakan sumber daya alam yang sangat berharga yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa bagi kelangsungan hidup manusia. Sejatinya, keberadaan sumber daya air harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup serta dijamin agar setiap orang mendapatkan haknya atas sumber daya alam tersebut.

Namun, pertambahan penduduk yang meningkatkan kebutuhan terhadap sandang, pangan, papan, air bersih dan energi seringkali mengakibatkan eksploitasi terhadap sumber daya alam semakin tinggi serta cenderung mengabaikan aspek-aspek lingkungan hiduap. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui World Food Programme telah mewanti-wantinya. Pada awal 2020, PBB menyebut, Afrika bagian selatan telah berada dalam situasi darurat iklim. Dalam pernyataannya jugadisebutkan bahwa kekeringan bertahun-tahun, di samping kondisi ekonomi yang kacau balau, telah menimbulkan krisis kelaparan  dalam skala yang belum pernah di saksikan sebelumnya dan, tentu saja, kelangkaan air yang bertambah parah.

Situasi serupa bisa pula terjadi  di Asia, khususnya bagian selatan.  Penyebabnya, sebagaimana dikemukakan para ahli dalam webinar  “Impacts of Climate Change on South Asian Monsoon” yang diselenggarakan Comsats Center for Climate and Sustainability pada Agustus 2020, adalah aliran kelembaban udara yang semakin sulit diperkirakan. Padahal inilah yang mendatangkan 70 persen hujan di kawasan itu. Tanpa tindakan penanggulangan  yang drastis, situasinya bisa bertambah buruk.

Ilustrasi petani sedang menjemur gabah. (Istimewa)
Ilustrasi petani sedang menjemur gabah. (Istimewa)

Intergovernmental Panel on  Climate Change berekspektasi bencana,  yang sebagian besar berkaitan dengan  air, bakal meningkat di seluruh dunia. Mereka yang paling miskin, yang sebetulnya berkontribusi sangat sedikit dalam gelombang pertambahan emisi gas rumah kaca, penyebab perubahan iklim, adalah pihak yang paling terpukul.

Di Indonesia sejauh ini belum ada riset mendalam yang memang  berfokus kepada perubahan iklim dan dampaknya terhadap ketersediaan air. Meski demikian, dengan rata-rata hujan tahunan yang telah menurun dalam 80 tahun terakhir, dua ekstrem dari krisis air ini mengkonfrontasi Indonesia: permukaan laut yang naik serta  banjir parah di beberapa daerah, dan  musim kering yang masanya semakin panjang. Mengenai kekeringan, pada 2019 paling tidak ada 11 provinsi yang mengalaminya; beberapa kabupaten bahkan sempat menyatakan keadaan darurat. Memang, tidak setiap anomali  cuaca terjadi semata-mata karena  perubahan iklim. Tapi perubahan iklim  jelas meningkatkan intensitas dan frekuensinya.

Dengan adanya tantangan perubahan iklim, keamanan atau ketahanan ketersediaan air secara nasional berpeluang menghadapi kesukaran. Fakta bahwa Indonesia termasuk negara yang kaya air, dan jumlahnya cukup untuk keperluan menyediakan air minum bagi penduduknya, hanya akan bertahan sebagai pengetahuan atau romantisasi belaka karena bukan saja pendistribusiannya ke semua pulau berpenghuni sulit dilakukan, melainkan juga, dalam kenyataannya, tekanan terhadap ketersediaan dan keamanannya bertambah besar.

Secara ringkas, bisa dikatakan bahwa perubahan atau krisis iklim adalah (juga) krisis air. Tentu saja, situasi dunia yang semakin tak pasti dan menggerunkan itu menuntut tindakan yang tak biasa: perlu ada langkah pengurangan emisi secara radikal, bahkan ambisius, serta kebijakan yang menjadikan masyarakat lebih ulet, berdaya untuk bangkit di tengah krisis. Tindakan-tindakan ini dibutuhkan agar konsekuensi dari situasi yang ada dapat dikelola.

Sehubungan dengan itu, Indonesia terikat dengan komitmennya kepada Paris Agreement, yang telah diratifikasi pada 22 April 2016. Paris Agreement merupakan ikrar bersama negaranegara di dunia untuk menahan kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celcius. Dalam perjanjian ini Indonesia menetapkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030, atau 41 persen dengan dukungan dunia internasional.

Dalam praktiknya, berdasarkan apa yang disebut kewajiban penurunan emisi secara spesifik yang disusun sendiri oleh negara yang bersangkutan, arah berbagai kebijakan pemerintah justru tidak menimbulkan keyakinan bahwa Indonesia berada di jalur yang benar. Keraguan khususnya berlaku untuk sektor energi. Perihal isu ini bisa disimak, misalnya, dalam kajian ICEL  (Indonesian Center for Environmental Law) berjudul “Refleksi Singkat Arah Kebijakan Perubahan Iklim Indonesia” yang dipublikasikan pada Desember  2020. Hl itulah yang juga mesti menjadi landasan dalam menghadapi masa pasca-Pamsimas.

baca juga

Kolaborasi Antar Pihak sangat Dibutuhkan

Pamsimas. (Istimewa)
Pamsimas. (Istimewa)

Tapi, meski adanya perubahan iklim, akibatnya di perdesaan tidaklah ekstrem, tak seperti di perkotaan. Yang menjadi masalah adalah bagaimana  kalau cuacanya berubah, mata air kecil di satu desa yang dulu ada jadi hilang.

Dalam hal ini, ke depan, yang dibutuhkan adalah adanya kerja sama antardesa, atau antara desa dan perusahaan daerah air minum yang pengambilan airnya melalui suatu desa. Sebab, banyak mata air potensial, tapi karena hanya ada di satu desa, seakan-akan menjadi milik desa itu, padahal berlebih.

Ambil contoh yang terjadi di satu desa di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Di desa itu terdapat mata air besar yang melalui wilayah desa Pamsimas. Di desa Pamsimas ini ada mata air kecil yang hilang pada musim yang sangat kering. Kalau dimanfaatkan melalui program Pamsimas itu aman.

Novi Rindani, ST MT
Ketua CPMU Pamsimas

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lebih Baik dari Semua Isotonik, Dr. Zaidul Akbar Ungkap Cairan Pencegah Dehidrasi Alami

Lebih Baik dari Semua Isotonik, Dr. Zaidul Akbar Ungkap Cairan Pencegah Dehidrasi Alami

Health | Selasa, 23 November 2021 | 11:26 WIB

Viral Pembalap WSBK Buang Air Kecil di depan Tribun Penonton Sirkuit Mandalika

Viral Pembalap WSBK Buang Air Kecil di depan Tribun Penonton Sirkuit Mandalika

Hits | Selasa, 23 November 2021 | 09:53 WIB

Mau Diresmikan Presiden Jokowi, Ini Alasan Air Bendungan Karalloe Akan Dikeringkan

Mau Diresmikan Presiden Jokowi, Ini Alasan Air Bendungan Karalloe Akan Dikeringkan

Sulsel | Selasa, 23 November 2021 | 08:48 WIB

5 Manfaat Rutin Minum Air Putih Hangat Setiap Pagi Hari

5 Manfaat Rutin Minum Air Putih Hangat Setiap Pagi Hari

Your Say | Selasa, 23 November 2021 | 08:38 WIB

Bupati Cianjur Sebut Sarah dan Abdul Latif Kawin Kontrak : Harus Ditindaklanjuti

Bupati Cianjur Sebut Sarah dan Abdul Latif Kawin Kontrak : Harus Ditindaklanjuti

Bogor | Selasa, 23 November 2021 | 07:22 WIB

Fenomena Kawin Kontrak: Kasus Penyiraman Air Keras di Cianjur

Fenomena Kawin Kontrak: Kasus Penyiraman Air Keras di Cianjur

News | Selasa, 23 November 2021 | 07:17 WIB

Terkini

Tekanan Mereda, Kepercayaan Industri RI Kembali Menguat pada Juli 2026

Tekanan Mereda, Kepercayaan Industri RI Kembali Menguat pada Juli 2026

Bisnis | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:17 WIB

Dipercaya BI Jadi Pengelola Utama SKM, Ini Strategi BRI Jangkau Pelosok Karo

Dipercaya BI Jadi Pengelola Utama SKM, Ini Strategi BRI Jangkau Pelosok Karo

Bri | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:16 WIB

Gerindra Tegaskan Survei Cuma Instrumen Evaluasi, Bukan Penentu Kebijakan Pemerintah

Gerindra Tegaskan Survei Cuma Instrumen Evaluasi, Bukan Penentu Kebijakan Pemerintah

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:16 WIB

Misteri Tewasnya Satpam di Waduk Jatiluhur, Polda Jabar Turunkan Tim Gabungan

Misteri Tewasnya Satpam di Waduk Jatiluhur, Polda Jabar Turunkan Tim Gabungan

Jabar | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:15 WIB

5 Film dan Serial Netflix Agustus 2026, Komedi hingga Horor

5 Film dan Serial Netflix Agustus 2026, Komedi hingga Horor

Your Say | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:15 WIB

Ngeri! Aksi Calon Pegawai BPJS Ketenagakerjaan Jalan di Atas Api Viral di Medsos

Ngeri! Aksi Calon Pegawai BPJS Ketenagakerjaan Jalan di Atas Api Viral di Medsos

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:13 WIB

Kasus Bocah Tersiram Air Panas, Puskesmas Waluran Perketat Pengawasan Pasien ODGJ

Kasus Bocah Tersiram Air Panas, Puskesmas Waluran Perketat Pengawasan Pasien ODGJ

Jabar | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:07 WIB

Amerika Gagah di Perang Iran Tapi Lagi Rapuh di Dalam Negeri, Kenapa Bisa Begitu?

Amerika Gagah di Perang Iran Tapi Lagi Rapuh di Dalam Negeri, Kenapa Bisa Begitu?

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:07 WIB

Kenapa Muka Jadi Abu-Abu setelah Pakai Cushion? Begini Cara Mengatasinya

Kenapa Muka Jadi Abu-Abu setelah Pakai Cushion? Begini Cara Mengatasinya

Lifestyle | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:05 WIB

Madura United Pulangkan Hugo Gomes, Perkuat Lini Tengah Hadapi Super League 2026/2027

Madura United Pulangkan Hugo Gomes, Perkuat Lini Tengah Hadapi Super League 2026/2027

Jatim | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:05 WIB

×