facebook

Miliarder AS Sebut Tak Ada Satupun Pihak Peduli dengan Pelanggaran HAM China Terhadap Etnis Uyghur

M Nurhadi
Miliarder AS Sebut Tak Ada Satupun Pihak Peduli dengan Pelanggaran HAM China Terhadap Etnis Uyghur
Warga Muslim Uighur sedang menunaikan ibadah sholat. (Shutterstock)

Palihapitiya sendiri mengakui bahwa dirinya tidak terlalu peduli dengan etnis minoritas di wilayah barat laut China Xinjiang tersebut.

Suara.com - Investor sekaligus miliarder Chamath Palihapitiya baru-baru ini menducir perhatian di media sosial usai menyebut tidak ada satupun pihak yang peduli dengan pelanggaran HAM yang menimpa etnis Uyghur di CHina.

Hal itu ia sampaikan kala menjadi tamu di Podcast All-in yang dibawakan co-host Jason Calacanis. Ia sendiri mengakui bahwa dirinya tidak terlalu peduli dengan etnis minoritas di wilayah barat laut China Xinjiang tersebut.

“Setiap kali saya mengatakan bahwa saya peduli dengan Uyghur, saya benar-benar berbohong jika saya tidak terlalu peduli. Jadi, saya lebih suka tidak berbohong kepada Anda dan mengatakan yang sebenarnya, itu bukan prioritas bagi saya, ”kata Palihapitiya.

Tidak lama setelahnya, tim NBA Golden State Warriors itu mengklarifikasi bahwa sosok yang memiliki kepemilikan 10% saham klub tersebut tidak mewakili opini klub.

Baca Juga: Ekonomi China Melambung Tinggi Meski Pandemi, Kok Bisa?

Calacanis dan Palihapitiya mulai berbicara tentang Uyghur ketika Calacanis memuji pendekatan kebijakan luar negeri Presiden Joe Biden ke China.

Mengutip dari CNBC Internasional, Biden menyebut, etnis Uyghur dan minoritas Muslim di wilayah itu jadi 'korban kerja paksa' dan memperingatkan bagi usaha yang memiliki rantai investasi dari Xinjiang terkait hal ini.

Menjawab tuduhan tersebut, China menegaskan bahwa mereka tidak melakukan pelanggaran HAM di Xinjiang.

Dalam diskusi tersebut, Palihapitiya mengaku khawatir dengan masalah rantai pasokan, perubahan iklim, sistem perawatan kesehatan Amerika yang lumpuh serta potensi kejatuhan ekonomi dari invasi China ke Taiwan.

Ia lantas mengklarifikasi ucapannya tersebut. “Sebagai seorang pengungsi, keluarga saya melarikan diri dari negara dengan masalah hak asasi manusianya sendiri, jadi ini adalah sesuatu yang menjadi bagian dari pengalaman hidup saya,” kata Palihapitiya, yang lahir di Sri Lanka.

Baca Juga: Terdeteksi! Varian Omicron Nempel Di Paket Pos Internasional, Kini Menyebar Di Beijing

“Untuk lebih jelasnya, keyakinan saya adalah bahwa hak asasi manusia penting, baik di China, Amerika Serikat, atau di tempat lain. Titik," sambung dia.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar