Studi: Booster Pfizer Tak Ampuh Hadapi Varian Omicron

Pemerintah terus mengakselerasi vaksinasi dosis lanjutan atau booster.

Iwan Supriyatna
Jum'at, 11 Februari 2022 | 13:12 WIB
Studi: Booster Pfizer Tak Ampuh Hadapi Varian Omicron
Vaksin Pfizer. (Anadolu Agency/Tayfun Co┼čkun)

Suara.com - Pemerintah terus mengakselerasi vaksinasi dosis lanjutan atau booster. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menghadapi ancaman gelombang ketiga pandemi Covid-19 akibat varian omicron.

Meski demikian, masyarakat mesti bijak dalam memilih jenis vaksin untuk suntikan booster. Jika asal memilih jenis vaksin maka alih-alih mendapatkan perlindungan maksimal maka masyarakat tetap akan mendapat respons imun rendah terhadap varian omicron.

Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti asal Universitas Yale, Kementerian Kesehatan Republik Dominika, dan lembaga lainnya melaporkan bahwa suntikan dua vaksin Sinovac plus suntikan booster Pfizer-BioNTech ternyata tidak efektif melawan varian omicron.

Akiko Iwasaki, salah satu penulis studi tersebut, mengatakan rejimen dua dosis sinovac bersama dengan suntikan Pfizer menghasilkan respons antibodi mirip vaksin mRNA dua dosis. Ia menambahkan, penerima vaksin Sinovac mungkin memerlukan dua dosis booster tambahan untuk mencapai tingkat perlindungan yang dibutuhkan guna menghadapi omicron.

Baca Juga:Warga yang Divaksin Covid-19 Lengkap Menurut Australia Adalah yang Sudah Mendapat Vaksin Booster

"Tingkat antibodi terhadap omicron 6,3 kali lipat lebih rendah jika dibandingkan dengan varian pertama dan 2,7 kali lipat lebih rendah jika dibandingkan dengan Delta," katanya, dilansir Wartaekonomi.co.id.

Studi lain yang dilakukan dan telah disahkan Universitas Cape Town dan Universitas Stellenbosch melaporkan suntikan vaksin booster Pfizer gagal memblokir Omicron.

Studi yang diterbitkan di The Lancet tersebut menunjukkan kemampuan Omicron yang mampu menghindari kekebalan vaksin booster Pfizer.

"Itu menggarisbawahi perlunya terus memerangi pandemi dengan langkah-langkah selain vaksinasi, seperti menjaga jarak dan memakai masker," kata peneliti studi tersebut.

Penyebaran global Omicron yang cepat, pertama kali diidentifikasi di Botswana dan Afrika Selatan pada akhir November 2021 lalu.

Baca Juga:AstraZeneca Paling Banyak, Pemprov DKI Minta Masyarakat Tak Pilih-pilih Vaksin Booster

REKOMENDASI

BERITA TERKAIT

BISNIS

TERKINI