facebook

Sri Mulyani Ungkap Alasan Tambah Subsidi dan Ngerinya Dampak Inflasi Secara Global

M Nurhadi
Sri Mulyani Ungkap Alasan Tambah Subsidi dan Ngerinya Dampak Inflasi Secara Global
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan laporannya saat Rapat Paripurna ke-22 DPR masa persidangan V tahun sidang 2021-2022 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (20/5/2022). Rapat paripurna tersebut berisi agenda tunggal yaitu mendengarkan penyampaian pemerintah tentang Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM dan PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2023. ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.

Inflasi masih kita kendalikan karena tidak semua kenaikan harga dunia dirasakan oleh rakyat. Tentu akibatnya kita harus memberikan subsidi, Sri Mulyani.

Suara.com - Saat ini, setidaknya ada tiga hal yang sedang mengancam ekonomi global, termasuk Indonesia, yaitu inflasi tinggi, suku bunga tinggi, dan potensi ekonomi yang melemah.

“Tiga hal ini akan mempengaruhi environment ekonomi seluruh dunia termasuk Indonesia yaitu inflasi tinggi, suku bunga tinggi, dan potensi ekonomi rendah,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Senin (23/5/2022).

Ia mengatakan, konflik antara Ukraina dan Rusia telah menyebabkan lonjakan harga barang-barang yang sangat penting bagi pemulihan dan masyarakat yaitu energi dan pangan.

Beberapa komoditas itu meliputi gas alam yang naik 125,8 persen (ytd), batu bara 166,1 persen (ytd), minyak mentah jenis Brent 45,7 persen (ytd), CPO 20,9 persen (ytd), gandum 55,6 persen (ytd), jagung 31,6 persen (ytd), kedelai 28,1 persen (ytd) dan grain naik 15,5 persen (ytd).

Baca Juga: Ada Ancaman Stagflasi, Menkeu Sri Mulyani: Hati-hati

Sri Mulyani menuturkan kenaikan harga komoditas tersebut pada akhirnya menyebabkan inflasi tinggi di berbagai negara terutama negara yang tidak melakukan shock absorber.

“Ini langsung dirasakan rakyatnya sehingga masyarakat di negara tersebut menghadapi inflasi tinggi,” ujarnya.

Sebagai contoh, Rusia mengalami inflasi 17,8 persen, Brasil 12,1 persen, Amerika Serikat (AS) 8,3 persen, Inggris 9 persen, Meksiko 7,7 persen, Afrika Selatan 5,9 persen, Korea Selatan 4,8 persen, dan India 7,8 persen.

Inflasi yang tinggi menyebabkan negara-negara ini melakukan pengetatan kebijakan moneter seperti Rusia sebanyak 975 basis poin (bps) sejak 2021 dengan tingkat suku bunga acuan 17 persen dan Brasil 1.075 bps sejak 2021 dengan suku bunga acuan 12,75 persen.

“Di banyak negara interest rate segera meningkat terutama emerging kenaikannya cukup cepat untuk menjaga inflasinya,” jelas Sri Mulyani.

Baca Juga: Defisit APBN Tahun Depan Bakal di Bawah 3 Persen, Mampukah Sri Mulyani Kejar Target Tersebut?

Sementara untuk Indonesia, ia mengatakan saat ini masih cukup terkendali karena tidak semua kenaikan harga komoditas dunia dirasakan oleh masyarakat.

Komentar