Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.790.000
Beli Rp2.665.000
IHSG 6.127,381
LQ45 611,168
Srikehati 300,000
JII 381,954
USD/IDR 17.879

Kendaraan Otonom: Mewujudkan Sistem Transportasi Masa Depan yang Lebih Cerdas

Iwan Supriyatna

Jum'at, 19 Agustus 2022 | 19:36 WIB
Kendaraan Otonom: Mewujudkan Sistem Transportasi Masa Depan  yang Lebih Cerdas
Webinar yang diselenggarakan secara daring ini merupakan hasil kolaborasi antara President University (PresUniv), Kementerian Perhubungan dan PT Jababeka & Co.

“Dalam konteks
Indonesia, masih banyak penduduk yang menggantungkan hidupnya dengan menjadi
pengemudi. Kalau semakin banyak kalangan yang memakai kendaraan otonom, ini berpotensi meningkatkan angka pengangguran,” papar Budi Setiyadi.

Di Indonesia, saat ini kendaraan otonom yang berbasis tenaga listrik telah hadir sejak Mei 2022, namun masih dioperasikan secara terbatas. Kendaraan dengan nama Navya Arma saat ini beroperasi di Q Big BSD City dan kawasan BSD Green Office Park, keduanya di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Proses Adopsi AV Perlu Disiapkan

Sementara, Chairy membahas prospek kendaraan otonom dari perspektif perilaku konsumen. Menurut Chairy, saat ini AV masih menjadi sesuatu yang baru di
masyarakat. Maka, agar kehadirannya bisa diterima, yakni masyarakat mau menggunakannya secara rutin, proses adopsinya perlu dipersiapkan. Apalagi, lanjut
Chairy, AV adalah produk inovasi yang dapat mengubah perilaku konsumen dan sistem transportasi dunia, termasuk Indonesia.

Chairy lalu memaparkan sejumlah riset tentang perilaku konsumen yang terkait AV. Pertama, tentang kontrol. Semakin tinggi keinginan konsumen untuk mengontrol, maka keinginannya untuk menggunakan, atau membeli, justru cenderung semakin kecil.

“Sebab ada aspek lain dari mengemudi. Bagi seseorang yang menikmati mengemudikan kendaraan, ia masih
punya keinginan untuk mengontrol semuanya.” kata Chairy.

Sementara, dengan AV, penumpang hanya perlu duduk manis hingga sampai ke tujuan.

“Hal semacam ini perlu menjadi perhatian,” ucap Chairy.

Kedua, Chairy menemukan masih adanya miskonsepsi tentang AV. Misalnya, ada yang menganggap AV sudah tersedia di pasar. Padahal, kenyataannya belum ada.
Jadi, kalau sekarang ada yang mengoperasikan kendaraan otonom, itu baru sebatas prototipe.

“Kalau ada miskonsepsi semacam ini, konsumen justru akan lebih mudah menerima kehadiran AV.” ucapnya.

Ketiga, AV adalah inovasi yang terbilang radikal. Inovasi yang semacam ini, lanjut Chairy, justru menimbulkan akan resistensi dari konsumen.

“Konsumen menjadi tidak yakin dengan keandalan produknya. Misalnya, bagaimana kalau terjadi kegagalan dari sistem IT-nya. Ini akan membuat konsumen ragu-ragu memakai AV,” paparnya.

Maka, saran Chairy, untuk meningkatkan adopsi konsumen terhadap AV, sebaiknya jangan langsung masuk ke level tertinggi dari AV, yakni level 5 yang full
automation.

“Sebaiknya mulai dari level yang paling rendah dulu. Ketika konsumen sudah mulai yakin dan mau menggunakan, perlahan-lahan ditingkatkan ke
level yang lebih tinggi.” katanya.

Sementara, Managing Director PT Jababeka Infrastruktur Dr. Agung Wicaksono memaparkan penggunaan AV atau kendaraan otonom di berbagai negara.

“Ujicoba AV paling cocok dilakukan di lingkungan kampus.” kata Agung.

Ia lalu memaparkan pengalamannya menggunakan AV di Nanyang Technological University, Singapura.

“Di sana suda ada bus otonom yang dipakai untuk mengangkut mahasiswa. Selain bus, ada juga kendaraan otonom lainnya yang mampu berjalan sendiri tanpa pengemudi. Itu menunjukkan kemampuan persepsi, lokalisasi, dan sensor,” papar Agung.

Agung juga memaparkan kesiapan kawasan industri Jababeka untuk menggunakan dan menjadi bagian dari sistem transportasi masa depan.

“Di kawasan Jababeka sudah ada charging untuk electric vehicle (EV). Lalu, di kawasan ini pula sudah ada pabrik baterei dan charging untuk EV,” kata Agung.

Selain itu, ungkap Agung, Jababeka akan menjadi titik temu berbagai jaringan transportasi publik masa depan.

“Akan ada Light Rail Transit (LRT) yang sebentar
lagi beroperasi dengan stasiun di Bekasi Timur. Lalu, tahun depan kereta cepat Jakarta-Bandung juga akan beroperasi. Stasiunnya berada di Karawang, tak jauh dari Jababeka. Kemudian, stasiun terakhir Mass Rapid Transport (MRT) jaringan timurbarat dari Balaraja di Tangerang akan berhenti di Cikarang, Bekasi,” paparnya.

EV Membuat Industri Pariwisata Lebih Futuristik

Peneliti dari PresUniv, Jhanghiz Syahrivar Ph.D., memaparkan hasil risetnya tentang potensi pasar kendaraan otonom. Katanya, saat ini populasi dunia sudah mulai menua.

“Semakin banyak penduduk dunia yang berusia lebih dari 60 tahun,” ucap Jhanghiz.

Di Indonesia, misalnya, jumlahnya mencapai 25 juta atau sekitar 10% dari populasi.

“Ditambah dengan para penyandang difabel, mereka ini menjadi pasar potensial dari kendaraan otonom atau EV,” urainya.

Jhanghiz juga melihat pentingnya penggunaan EV di industri pariwisata.

“Itu akan membuat wajah industri pariwisata menjadi lebih futuristik,” tegasnya.

Selain itu, Jhanghiz juga menyoroti masalah kurangnya tenaga pengemudi di sektor logistik, yang mengoperasikan truk-truk berukuran besar.

“EV bisa menjadi solusi atas masalah ini,” katanya.

Selebihnya, potensi EV juga tercermin dari terus meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengurangi emisi karbon, menurunkan tingkat kecelakaan lalu lintas akibat human error, serta pentingnya efisiensi dalam
berkendara. Meski begitu Jhanghiz juga khawatir dengan masih tingginya risiko gagal sistem.

Dia mengutip sebuah riset yang dilakukan tahun 2015.

“AV diharapkan mampu menurunkan tingkat kecelakaan akibat human error. Faktanya, menurut riset tersebut, tingkat tabrakan (collision) EV masih lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan yang dikemudikan secara manual. Perbandingannya, EV 9,1 per juta mil dan yang manual hanya 4,1 per juta mil.”Papar Jhanghiz.

Jhanghiz juga menyoroti lambatnya perkembangan EV karena tiga masalah utama. Urainya, 80% masalah adalah bagaimana membuat EV bisa tetap mengikuti
garis yang ada di jalan. Lalu, 10%-nya lebih rumit, yakni bagaimana EV saat melintas di persimpangan jalan atau bundaran, serta 10% lainnya adalah bagaimana EV
mampu merespon kondisi-kondisi yang tidak terduga (edge cases).

“Contohnya adalah kalau ada hewan yang tiba-tiba melintas,” kata Jhanghiz.

Itulah sejumlah kendala dari perkembangan dan penerapan EV di Indonesia maupun dunia. Sebagai bagian dari sistem transportasi masa depan, kehadiran EV merupakan keniscayaan. Guna mengatasi berbagai masalah tersebut, pemerintah, dunia industri dan para peneliti di perguruan tinggi perlu berkolaborasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jababeka-Lanal Morotai Kibarkan Bendera di Bawah Laut Bersama Hiu Jinak

Jababeka-Lanal Morotai Kibarkan Bendera di Bawah Laut Bersama Hiu Jinak

Bisnis | Kamis, 18 Agustus 2022 | 19:43 WIB

Andalkan Teknologi 5G dan IoT, Telkomsel Kolaborasi dengan Jababeka

Andalkan Teknologi 5G dan IoT, Telkomsel Kolaborasi dengan Jababeka

Tekno | Senin, 15 Agustus 2022 | 21:43 WIB

BMW Bangun Sirkuit Khusus Uji Coba Mobil Otonom

BMW Bangun Sirkuit Khusus Uji Coba Mobil Otonom

Otomotif | Rabu, 03 Agustus 2022 | 08:16 WIB

Terkini

Rupiah Jadi Mata Uang Asia Paling Terburuk, Sentuh Level Rp17.887 per Dolar AS

Rupiah Jadi Mata Uang Asia Paling Terburuk, Sentuh Level Rp17.887 per Dolar AS

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 09:26 WIB

IHSG Terbang pada Selasa Pagi ke Level 6.200-an, DSSA Hingga BREN Topce

IHSG Terbang pada Selasa Pagi ke Level 6.200-an, DSSA Hingga BREN Topce

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 09:16 WIB

Usai Libur Panjang, Harga Emas Antam Anjlok Jadi Rp 2.774.000/Gram

Usai Libur Panjang, Harga Emas Antam Anjlok Jadi Rp 2.774.000/Gram

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 09:04 WIB

PHK Tembus 15.425 Orang, Pemerintah Diminta Hati-hati Susun Aturan IHT

PHK Tembus 15.425 Orang, Pemerintah Diminta Hati-hati Susun Aturan IHT

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 08:59 WIB

Harga Minyak Dunia Tertahan di Tengah Drama AS-Iran, Nasib Selat Hormuz Jadi Penentu

Harga Minyak Dunia Tertahan di Tengah Drama AS-Iran, Nasib Selat Hormuz Jadi Penentu

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 08:58 WIB

Mimpi Buruk bagi Pasar Modal RI, Investor Bisa Kabur Jika DSI Mendominasi

Mimpi Buruk bagi Pasar Modal RI, Investor Bisa Kabur Jika DSI Mendominasi

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 08:53 WIB

Update Harga Emas di Pegadaian Hari Ini: UBS dan Galeri24 Turun, Antam Masih Kokoh!

Update Harga Emas di Pegadaian Hari Ini: UBS dan Galeri24 Turun, Antam Masih Kokoh!

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 08:43 WIB

Mental Baja, Kisah Pensiunan PNS Sulap Rumah Kosong 20 Tahun di Tengah Sawah Jadi Kafe Megah

Mental Baja, Kisah Pensiunan PNS Sulap Rumah Kosong 20 Tahun di Tengah Sawah Jadi Kafe Megah

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 08:36 WIB

Prabowo Beri Perlakuan Khusus Buat Donald Trump di Aturan Devisa Hasil Ekspor

Prabowo Beri Perlakuan Khusus Buat Donald Trump di Aturan Devisa Hasil Ekspor

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 08:19 WIB

Kemenko Perekonomian Ingatkan Penyusunan Aturan IHT Harus Seimbang

Kemenko Perekonomian Ingatkan Penyusunan Aturan IHT Harus Seimbang

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 08:19 WIB