Bantah Cadangan Nikel Indonesia Disebut Menipis, DPR: Masih Melimpah

Iwan Supriyatna

Kamis, 31 Agustus 2023 | 15:02 WIB
Bantah Cadangan Nikel Indonesia Disebut Menipis, DPR: Masih Melimpah
Ilustrasi Nikel. (Antara)

Suara.com - Anggota Komisi VII DPR RI Ridwan Hisjam mendukung pernyataan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia yang membantah cadangan nikel Indonesia menipis. Sebab, belum ada kajian teknis untuk menyatakan cadangan nikel RI hanya cukup sampai 15 tahun.

Menurutnya, cadangan nikel Indonesia masih melimpah karena banyak yang belum di eksplorasi oleh pemerintah. Hal itu sekaligus mengklarifikasi pernyataan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa daya tahan cadangan nikel Indonesia hanya bertahan sampai 10-15 tahun ke depan adalah keliru.

“Nikel itu saat ini belum dilakukan yang namanya eksplorasi, karena izin yang dikeluarkan kan belum seluruhnya, banyak masih ada dan ini kan bisnis yang baru, jangan dibandingkan dengan batubara, sehingga belum bisa kita bilang apakah 15 tahun 10 tahun atau 50 tahun belum bisa, karena masih banyak yang dikelola,” kata Ridwan Hisjam kepada wartawan, Kamis (31/8).

Menurut politisi Partai Golkar ini, cadangan nikel yang saat ini sedang beroperasi hanya sebagian kecil di beberapa daerah, baik itu di Sulawesi, Kalimantan hingga Kepulauan Maluku Utara. Namun, daerah lain seperti di Kalimantan bagian lainnya hingga ke Papua belum beroperasi, hingga cadangan nikel Indonesia masih berlimpah.

“Iya karena lokasi yang dibuka itu kan baru sedikit, beda dengan batubara yang sudah berpuluh-puluh tahun. Jadi saya kira terlalu dini kalau kita mengatakan bahwa 15 tahun 10 tahun atau 50 tahun, belum bisa karena ini adalah baru dibuka dan izinnya pun masih belum banyak,” ucapnya.

Hisjam pun sepakat dengan pernyataan Menteri Bahlil Lahadalia bahwa nikel di daerah Papua masih melimpah dan belum dieksplorasi secara menyeluruh. Dewan Kehormatan Partai Golkar ini juga membandingkan nikel Papua dengan tambang emas Freeport Indonesia yang beroperasi sejak tahun 1967 hingga saat ini, dan cadangan emasnya belum habis.

“Sekarang Papua belum terbuka, bagaimana yang namanya Freeport aja mulai tahun 67 sampai sekarang masih belum bisa membuka yang namanya Papua, loh belum dia baru beberapa tempat di Grasberg, baru lokasi tambang yang begitu besar, jadi saya masih yakin bahwa cukup besar,” ungkapnya.

“Tetapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa lebih dari 50 tahun atau 20 tahun tidak bisa, jadi kita terlalu dini kalau kita mengatakan bahwa cadangan kita l tinggal sekian, datanya tidak jelas,” tambahnya.

Ridwan Hisjam menduga data yang dipaparkan oleh Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengembangan Industri sektor ESDM, Agus Tjahajana Wirakusumah itu adalah data yang bersumber dari izin yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM.

baca juga

“Kalau bilang 15 tahun itu mungkin data yang dia dapatkan dari (Kementerian ESDM) yang sudah sudah dikeluarkan izinnya. Kalimantan dan Sulawesi, kan yang lainnya belum,” jelasnya.

Untuk itu, Ridwan Hisjam memastikan Komisi VII DPR RI senapas dengan kebijakan Presiden Jokowi soal hilirisasi, dan kebijakan ini harus dilanjutkan oleh semua lapisan pemerintah dari pusat hingga daerah. Pasalnya, kebijakan hilirisasi ini sudah berlangsung sejak pemerintah Presiden Soeharto, namun belum secanggih saat ini.

“Kebijakan hilirisasi itu tidak bisa hanya sampai tingkat 1 tingkat 2 harus sampai tingkat akhir, seperti pada waktu kemarin dua hari yang lalu saya RDP (rapat dengar pendapat) dengan Dirjen Minerba dan Vale, terus Mind ID saya sampaikan bahwa hilirisasi itu konsep sudah ada sejak Pak Harto, Pak Harto tahun 71 sudah bikin, yaitu waktu itu kita belum ada tambang, kita pakai pohon hutan,” paparnya.

Lebih jauh Ridwan Hisjam mengatakan, kebijakan hilirisasi ini harus merata ke seluruh produk pertambangan yang ada, dari nikel, batubara, bauksit dan lainnya. Bahkan, pemerintah harus tegas terhadap oknum-oknum yang sengaja melakukan ekspor ilegal bahan mentah ke luar negeri.

“Turunan-turunannya sampai betul-betul mencapai nilai tambahnya maksimal, jadi jangan sampai dijual keluar, harus diproses di sini. Nah untuk aluminium, bauksit itu harus dikelola sampai menjadi mobil listrik, jadi jangan Indonesia ambil dari Tiongkok, dari Korea, dari Amerika,” tegasnya.

“Bahan bakunya dari Indonesia kok, terus kok kita jadi pasar, nikel kita diambil habis, itu dari kita barangnya kirim ke Tiongkok, datang ke sini mobil Tiongkok, kita yang beli. Itu tadi kemarin saya sudah Ingatkan bahwa siapapun pemimpin ke depan wajib melanjutkan kebijakan hilirisasi,” tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bahlil Tak Percaya Cadangan Nikel RI Habis dalam 15 Tahun

Bahlil Tak Percaya Cadangan Nikel RI Habis dalam 15 Tahun

Bisnis | Rabu, 30 Agustus 2023 | 11:12 WIB

Fasilitas Pengolahan Nikel dengan Teknologi HPAL Dibangun di Luwu Timur

Fasilitas Pengolahan Nikel dengan Teknologi HPAL Dibangun di Luwu Timur

Sulsel | Jum'at, 25 Agustus 2023 | 18:18 WIB

Jokowi: Saya Pastikan Hilirisasi Berbuah Manis

Jokowi: Saya Pastikan Hilirisasi Berbuah Manis

Bisnis | Rabu, 16 Agustus 2023 | 11:52 WIB

Terkini

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 18:54 WIB

Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap

Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 18:50 WIB

Tutorial Menghitung Volume dan Luas Permukaan Tabung Tanpa Tutup

Tutorial Menghitung Volume dan Luas Permukaan Tabung Tanpa Tutup

Tekno | Minggu, 13 September 2026 | 18:48 WIB

Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?

Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?

Sumsel | Minggu, 13 September 2026 | 18:45 WIB

Cara Merawat Kulit Berjerawat agar Tetap Sehat dan Skin Barrier Terjaga

Cara Merawat Kulit Berjerawat agar Tetap Sehat dan Skin Barrier Terjaga

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 18:42 WIB

Logam Mulia Masih Berpeluang Naik, Harganya Diramal Capai Rp2,75 Juta

Logam Mulia Masih Berpeluang Naik, Harganya Diramal Capai Rp2,75 Juta

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:37 WIB

Tumbuh 7,28 Persen, Ekonomi Batam Melesat Lampaui Angka Nasional

Tumbuh 7,28 Persen, Ekonomi Batam Melesat Lampaui Angka Nasional

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:30 WIB

Purbaya Akui RI Tak Bisa Turunkan Pajak ala Jepang: Nanti Ribut Utang Terus

Purbaya Akui RI Tak Bisa Turunkan Pajak ala Jepang: Nanti Ribut Utang Terus

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:28 WIB

BI Dorong Transaksi Tanpa Dolar AS dengan India, QR Antarnegara Dipercepat

BI Dorong Transaksi Tanpa Dolar AS dengan India, QR Antarnegara Dipercepat

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:28 WIB

1 dari 7 Anak Indonesia Punya Kadar Timbal Tinggi, Cat Rumah Mengelupas Jadi Salah Satu Pemicu

1 dari 7 Anak Indonesia Punya Kadar Timbal Tinggi, Cat Rumah Mengelupas Jadi Salah Satu Pemicu

News | Minggu, 13 September 2026 | 18:25 WIB

×