Moeldoko Minta Habisi Preman di Proyek Pabrik Mobil Listrik Subang: Ganggu Orang Cari Kerja Saja!

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Jum'at, 02 Mei 2025 | 11:10 WIB
Moeldoko Minta Habisi Preman di Proyek Pabrik Mobil Listrik Subang: Ganggu Orang Cari Kerja Saja!
Moeldoko (YouTube/Kiky Saputri Official)

Suara.com - Kasus premanisme yang menghambat pembangunan fasilitas manufaktur kendaraan listrik milik investor asal China di Subang, Jawa Barat, menuai kecaman keras dari berbagai pihak.

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko, bahkan secara tegas mendukung langkah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk memberantas habis praktik-praktik premanisme yang berpotensi merusak iklim investasi di wilayah tersebut.

Pernyataan tegas ini disampaikan Moeldoko di Jakarta pada Selasa (22/4/2025), menyusul laporan mengenai gangguan yang dialami oleh dua produsen mobil listrik pendatang baru, BYD dan Vinfast, saat tengah membangun pabrik perakitan mereka di Subang. Mantan Kepala Staf Kepresidenan ini menyayangkan tindakan tidak terpuji tersebut, terutama mengingat potensi besar investasi ini bagi perekonomian nasional dan penciptaan lapangan kerja.

"Saya mendukung apa yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, tumpas saja itu," ujar Moeldoko dengan nada geram. "Ini sangat disayangkan, di tengah upaya kita menarik investasi sebesar-besarnya untuk kemajuan bangsa, malah ada oknum-oknum yang mencoba menghalang-halangi." tambah mantan Jenderal Bintang 4 itu.

Moeldoko menekankan bahwa kehadiran investasi, terutama di sektor industri strategis seperti kendaraan listrik, seharusnya disambut baik oleh seluruh elemen masyarakat. Alih-alih melakukan tindakan yang kontraproduktif, masyarakat justru diharapkan dapat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan investasi yang kondusif. Dengan demikian, peluang kerja baru akan terbuka lebar bagi masyarakat, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan bersama.

"Saya mengimbau supaya di tengah situasi iklim dunia usaha yang relatif perlu perhatian, maka kita semua, masyarakat Indonesia harus menciptakan iklim investasi yang baik," lanjut Moeldoko. "Jangan sampai pengangguran makin banyak, tapi malah, di satu sisi kan ironis, kita perlu peluang untuk bekerja, ada orang (investor) datang memberikan peluang, diganggu sama yang lain."

Lebih lanjut, Moeldoko menyoroti kasus gangguan yang dialami oleh BYD dan Vinfast sebagai contoh nyata betapa seriusnya dampak negatif premanisme terhadap investasi. Kedua perusahaan ini memiliki komitmen investasi yang signifikan di Subang dan diproyeksikan akan menjadi pemain kunci dalam ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, bahkan di kawasan ASEAN.

BYD, raksasa otomotif listrik asal China, tengah membangun pabrik di kawasan Subang Smartpolitan dengan nilai investasi mencapai Rp11,7 triliun. Perusahaan optimis bahwa fasilitas manufaktur yang akan menjadi salah satu yang terbesar di ASEAN ini akan mulai beroperasi pada tahun 2026. Kehadiran BYD diharapkan tidak hanya akan memenuhi kebutuhan pasar domestik akan kendaraan listrik, tetapi juga berpotensi untuk ekspor ke negara-negara tetangga.

Sementara itu, Vinfast, produsen kendaraan listrik asal Vietnam, juga telah memulai pembangunan pabriknya di Subang sejak tahun 2024. Dengan alokasi dana tahap awal sebesar US$200 juta atau sekitar Rp3,2 triliun, pabrik yang berdiri di atas lahan seluas lebih dari 100 hektar ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 50 ribu unit per tahun. Lebih dari sekadar angka produksi, pabrik Vinfast ini juga diproyeksikan akan menyerap antara 1.000 hingga 3.000 tenaga kerja, memberikan kontribusi signifikan terhadap penyerapan angkatan kerja di Jawa Barat. VinFast sendiri menargetkan pabriknya mulai beroperasi pada kuartal IV tahun 2025 untuk memproduksi kendaraan listrik dengan setir kanan, yang sesuai dengan pasar Indonesia.

Moeldoko menegaskan bahwa gangguan terhadap investasi di sektor otomotif, khususnya kendaraan listrik, memiliki implikasi yang luas bagi masa depan perekonomian Indonesia. Sektor ini memiliki potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi teknologi, dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Oleh karena itu, segala bentuk tindakan yang menghambat perkembangan industri ini harus ditindak tegas.

"Intinya adalah karena investasi berkaitan dengan angkatan kerja Indonesia yang mencapai 2,5 juta orang setahun," tegas mantan Panglima TNI tersebut. "Jadi siapa pun tidak boleh ganggu, makanya saya katakan kalau ada preman ganggu habisin saja. Karena preman ini akan mengganggu segitu banyak orang yang mencari pekerjaan." tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Isu Prabowo Ketua Dewan Pembina Grib Jaya, Eks Panglima TNI: Tak Mungkin Presiden Back Up Preman

Isu Prabowo Ketua Dewan Pembina Grib Jaya, Eks Panglima TNI: Tak Mungkin Presiden Back Up Preman

News | Kamis, 01 Mei 2025 | 14:21 WIB

PLN IP Berdayakan Penyandang Disabilitas untuk Kembangkan Ekosistem Kendaraan Listrik

PLN IP Berdayakan Penyandang Disabilitas untuk Kembangkan Ekosistem Kendaraan Listrik

Bisnis | Rabu, 30 April 2025 | 18:08 WIB

BYD Konsisten Dorong Pertumbuhan Kendaraan Listrik di Indonesia

BYD Konsisten Dorong Pertumbuhan Kendaraan Listrik di Indonesia

Otomotif | Rabu, 30 April 2025 | 16:03 WIB

Terkini

BI Bakal Siaga Pelototi Rupiah saat Libur Lebaran 2026

BI Bakal Siaga Pelototi Rupiah saat Libur Lebaran 2026

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 09:18 WIB

Mudik Naik Motor Tahun Ini? Baca Ini Dulu Sebelum Berangkat

Mudik Naik Motor Tahun Ini? Baca Ini Dulu Sebelum Berangkat

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 09:00 WIB

Harga Minyak Dunia Makin Melonjak, Nilainya Tembus Rp1,8 Juta per Barel

Harga Minyak Dunia Makin Melonjak, Nilainya Tembus Rp1,8 Juta per Barel

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 08:38 WIB

LPS Mulai Cairkan Dana Nasabah BPR Koperindo, Rp14,19 Miliar Dibayarkan Tahap Pertama

LPS Mulai Cairkan Dana Nasabah BPR Koperindo, Rp14,19 Miliar Dibayarkan Tahap Pertama

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 07:48 WIB

CIMB Niaga Maksimalkan Layanan Digital Selama Liburan Nyepi dan Lebaran

CIMB Niaga Maksimalkan Layanan Digital Selama Liburan Nyepi dan Lebaran

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 07:40 WIB

Cara Memutar Uang Rp500 Ribu Agar Berlipat Ganda, Panduan Lengkap Bagi Pemula

Cara Memutar Uang Rp500 Ribu Agar Berlipat Ganda, Panduan Lengkap Bagi Pemula

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 06:30 WIB

Pemerintah Siapkan Tim Koordinasi Hadapi Investigasi Perjanjian Dagang RI-AS

Pemerintah Siapkan Tim Koordinasi Hadapi Investigasi Perjanjian Dagang RI-AS

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 21:41 WIB

Purbaya Salurkan Rp 4,39 Triliun ke Wilayah Terdampak Bencana Banjir Sumatra

Purbaya Salurkan Rp 4,39 Triliun ke Wilayah Terdampak Bencana Banjir Sumatra

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 21:24 WIB

Purbaya Mau Efisiensi Anggaran MBG: Tak Harus Rp 335 Triliun

Purbaya Mau Efisiensi Anggaran MBG: Tak Harus Rp 335 Triliun

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:52 WIB

IPC TPK Antisipasi Lonjakan Arus Peti Kemas saat Ramadan dan Lebaran

IPC TPK Antisipasi Lonjakan Arus Peti Kemas saat Ramadan dan Lebaran

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:40 WIB