Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.740.000
Beli Rp2.595.000
IHSG 5.594,765
LQ45 557,746
Srikehati 272,472
JII 338,801
USD/IDR 18.015

Waspada! Harga Emas Bisa Terjun Bebas ke USD 3.150, Ini Pemicunya

Chandra Iswinarno, Achmad Fauzi

Sabtu, 24 Mei 2025 | 21:11 WIB
Waspada! Harga Emas Bisa Terjun Bebas ke USD 3.150, Ini Pemicunya
Ilustrasi emas. Harga emas dunia berpotensi berada di level terendah karena terkoreksi. (Freepik)

Suara.com - Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi meramal harga emas dunia berpotensi berada di level terendah. 

Hal ini setelah harga emas dunia Jumat 23 Mei 2025 sore kemarin mengalami koreksi signifikan dan telah menyentuh level support pertama di USD 3.245 per troy ounce. 

Dia menilai bahwa penurunan tersebut belum berakhir, dengan potensi besar harga emas akan menembus level USD 3.185. Bila hal itu terjadi, maka harga terendah diprediksi di angka USD 3.150.

"Ada kemungkinan besar akan tembus di level 3.185. Kalau seandainya tembus di level 3.185, ada kemungkinan besar support terakhir itu adalah di 3.150. Itu level terendah kalau kita lihat secara teknikal," ujar Ibrahim kepada media yang dikutip, Sabtu 24 Mei 2025.

Ibrahim menjelaskan, ada sejumlah faktor global yang menyebabkan turunnya harga emas dunia.

Salah satunya adalah pernyataan pejabat Bank Sentral Amerika Serikat pada pekan lalu yang menyiratkan bahwa pemangkasan suku bunga masih akan tertunda dalam waktu yang lama.

"Pada saat pertemuan Bank Sentral Amerika dan pernyataan-pernyataan dari pejabat Bank Sentral Amerika di hari Jumat, mereka mengatakan bahwa penurunan suku bunga kemungkinan besar masih cukup jauh," kata Ibrahim.

Selain itu, kondisi perang dagang yang belum sepenuhnya reda menjadi alasan kuat bagi The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga tinggi.

Meskipun berbagai pihak, termasuk mantan Presiden Donald Trump, mengkritik sikap tersebut, Bank Sentral tetap bergeming.

Sementara itu, ketegangan geopolitik yang mereda di beberapa kawasan juga turut memberi tekanan pada harga emas.

Ibrahim menyoroti gencatan senjata antara Pakistan dan India setelah tiga hari bentrokan yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan PBB, serta kesepakatan dagang antara Amerika dan Tiongkok yang terjadi di Swiss.

"Amerika yang awalnya menerapkan biaya impor sebesar 145 persen berubah menjadi 30 persen, kemudian Tiongkok yang menerapkan biaya impor 125 persen hanya dikenakan 10 persen."

"Ini yang sebenarnya membuat Bank Sentral Amerika kemungkinan besar masih akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan di tahun 2025 kemungkinan tidak akan menurunkan suku bunga," ujarnya.

Ibrahim menyebut bahwa kesepakatan penurunan tarif impor tersebut justru berdampak negatif bagi harga emas, karena memicu aksi ambil untung atau taking profit oleh para pelaku pasar besar.

Namun, menurutnya aksi ambil untung atau profit taking ini bersifat sementara, karena investor besar masih menunggu gejolak geopolitik global kembali memanas terutama di Eropa dan Timur Tengah.

"Di Eropa sendiri, dalam pertemuan di Ukraina, negara-negara Uni Eropa mengimbau Rusia untuk melakukan gencatan senjata secara permanen."

Ilustrasi Emas - Prediksi Harga Emas Pekan Depan (Unsplash)
Ilustrasi Emas. Harga emas dunia terpengaruh dengan kondisi geopolitik. (Unsplash)

"Apabila menolak, kemungkinan besar akan diberikan sanksi ekonomi besar, baik dari Eropa maupun Amerika. Itu pun ditolak oleh Rusia, bahkan Rusia melakukan penyerangan kembali terhadap wilayah Ukraina dengan menggunakan drone," katanya.

Sementara di Timur Tengah, situasi juga memanas seiring dengan sikap Israel yang berencana menguasai sepenuhnya Jalur Gaza, menurut penasehat Amerika yang melakukan konsultasi di Israel. 

Ibrahim menambahkan bahwa situasi ini memicu reaksi keras dari kelompok Houthi yang terus melancarkan serangan ke wilayah yang dikuasai Israel.

Selanjutnya, ketidakpastian seputar pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai program nuklir juga menambah risiko geopolitik. 

"Amerika menginginkan Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium, sedangkan Iran mengatakan itu hak mereka. Ini yang kemungkinan besar akan terjadi deadlock dan bisa saja Amerika mengancam untuk melakukan pengeboman," ujarnya.

Meski harga saat ini tengah tertekan, Ibrahim tetap optimistis terhadap prospek emas jangka menengah hingga panjang.

Apabila harga tidak menembus support technical terakhir di USD 3.150, maka ada peluang emas kembali menguat ke level USD 3.400.

"Saya masih optimis bahwa harga emas dunia itu masih akan terus mengalami kenaikan. Karena secara teknikal, kalau seandainya tidak tembus di level USD 3.150, ada kemungkinan besar emas dunia itu akan terbang kembali ke level USD 3.400,” katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harga Emas Antam Melorot Jelang Akhir Pekan, Jadi Rp 1.910.000/Gram

Harga Emas Antam Melorot Jelang Akhir Pekan, Jadi Rp 1.910.000/Gram

Bisnis | Jum'at, 23 Mei 2025 | 09:10 WIB

Harga Emas Antam Kembali Melesat, Kembali ke Rp 1,9 Juta/Gram

Harga Emas Antam Kembali Melesat, Kembali ke Rp 1,9 Juta/Gram

Bisnis | Kamis, 22 Mei 2025 | 09:55 WIB

Harga Emas di Pegadaian Tiba-tiba Menguat Hari Ini, Cek Daftarnya

Harga Emas di Pegadaian Tiba-tiba Menguat Hari Ini, Cek Daftarnya

News | Kamis, 22 Mei 2025 | 08:57 WIB

Terkini

PNM Mekaar Dorong Pemberdayaan Nasabah Ultra Mikro untuk Tekan Ketergantungan pada Rentenir

PNM Mekaar Dorong Pemberdayaan Nasabah Ultra Mikro untuk Tekan Ketergantungan pada Rentenir

Bisnis | Minggu, 07 Juni 2026 | 12:47 WIB

Gegara Ditolak Bank, Pengguna Pinjol Makin Banyak Nilainya Tembus Rp 102,07 T

Gegara Ditolak Bank, Pengguna Pinjol Makin Banyak Nilainya Tembus Rp 102,07 T

Bisnis | Minggu, 07 Juni 2026 | 11:40 WIB

Khawatir Ada Gelombang PHK, Anggota DPR Ramai-ramai Tolak Kebijakan Kemasan Rokok Polos

Khawatir Ada Gelombang PHK, Anggota DPR Ramai-ramai Tolak Kebijakan Kemasan Rokok Polos

Bisnis | Minggu, 07 Juni 2026 | 11:35 WIB

OJK Panggil Paksa Pinjol Solusiku, Penyebabnya Diduga Pelanggaran Berat

OJK Panggil Paksa Pinjol Solusiku, Penyebabnya Diduga Pelanggaran Berat

Bisnis | Minggu, 07 Juni 2026 | 11:29 WIB

Akun 'Anak Menkeu' Sebut Purbaya Bakal Gantikan Gubernur BI, Menkeu Diganti?

Akun 'Anak Menkeu' Sebut Purbaya Bakal Gantikan Gubernur BI, Menkeu Diganti?

Bisnis | Minggu, 07 Juni 2026 | 10:37 WIB

Investor Asing Terus Kabur Buat Kapitalisasi Pasar Susut Jadi Rp 9.807 Triliun

Investor Asing Terus Kabur Buat Kapitalisasi Pasar Susut Jadi Rp 9.807 Triliun

Bisnis | Minggu, 07 Juni 2026 | 09:38 WIB

RI Mulai Garap Potensi Bisnis Energi Terbarukan di Amerika Latin dan Karibia

RI Mulai Garap Potensi Bisnis Energi Terbarukan di Amerika Latin dan Karibia

Bisnis | Minggu, 07 Juni 2026 | 09:33 WIB

Mulai 'Panik' Rupiah Terus Loyo, Pemerintah-BI Keluarkan 5 Jurus Jitu

Mulai 'Panik' Rupiah Terus Loyo, Pemerintah-BI Keluarkan 5 Jurus Jitu

Bisnis | Minggu, 07 Juni 2026 | 09:25 WIB

Bank Mandiri Taspen Dorong Lansia untuk Tetap Aktif dan Produktif

Bank Mandiri Taspen Dorong Lansia untuk Tetap Aktif dan Produktif

Bisnis | Minggu, 07 Juni 2026 | 07:05 WIB

27 Tahun PNM, Excellence Awards 2026 Jadi Motor Transformasi Budaya Kerja

27 Tahun PNM, Excellence Awards 2026 Jadi Motor Transformasi Budaya Kerja

Bisnis | Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:35 WIB