Bank Dunia Sebut Jutaan Penduduk Indonesia Mendadak Miskin

Iwan Supriyatna, Mohammad Fadil Djailani

Senin, 09 Juni 2025 | 16:08 WIB
Bank Dunia Sebut Jutaan Penduduk Indonesia Mendadak Miskin
Ilustrasi kemiskinan. [Ist]

Suara.com - Bank Dunia dalam laporan terbarunya bertajuk "June 2025 Update to the Poverty and Inequality Platform" secara resmi mengubah standar garis kemiskinan global.

Alhasil, perubahan ini sontak "melahirkan" jutaan orang miskin baru termasuk di Indonesia dan memicu perdebatan sengit tentang potret kemiskinan yang sebenarnya di Tanah Air.

Sebelumnya, Bank Dunia menggunakan perhitungan daya beli atau purchasing power parity (PPP) tahun 2017. Kini, per Juni 2025, standar itu beralih menggunakan PPP 2021.

PPP adalah alat ukur yang membandingkan biaya hidup antarnegara. Bayangkan begini: US$1 di New York dan US$1 di Jakarta jelas punya daya beli yang berbeda. PPP memungkinkan Bank Dunia menyamakan persepsi daya beli tersebut, sehingga tingkat kemiskinan bisa dibandingkan secara adil di berbagai belahan dunia.

Perubahan PPP ini berdampak langsung pada garis kemiskinan internasional. Jika sebelumnya garis kemiskinan global dipatok US$2,15 per orang per hari (berdasarkan PPP 2017), kini melonjak menjadi US$3 per orang per hari (berdasarkan PPP 2021).

Lebih lanjut, untuk negara berpenghasilan menengah atas seperti Indonesia, garis kemiskinan bahkan melambung dari US$6,85 menjadi US$8,30 per orang per hari.

Sejak 2023, Indonesia memang telah diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah atas oleh Bank Dunia. Namun, predikat ini tak serta-merta menjamin bebas dari jerat kemiskinan. Justru sebaliknya, dengan standar baru ini, angka kemiskinan di Indonesia meroket tajam!

Berdasarkan laporan Bank Dunia edisi April 2025 yang masih menggunakan PPP 2017, persentase penduduk miskin di Indonesia tercatat 60,3% dari total populasi pada 2024. Namun, dengan update terbaru menggunakan PPP 2021, angka itu melonjak drastis menjadi 68,2% dari total populasi 2024.

Dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 285,1 juta jiwa menurut Susenas 2024 BPS, maka 68,2% penduduk miskin itu setara dengan 194,4 juta orang! Artinya, jika kita berjalan di Indonesia, setiap 3 orang yang kita temui, 2 di antaranya tergolong miskin berdasarkan standar Bank Dunia.

baca juga

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga resmi di Indonesia memiliki standar pengukuran kemiskinan sendiri, yang berbeda dari Bank Dunia. BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia jauh lebih rendah, yakni 24,06 juta orang atau setara 8,57% dari total populasi per September 2024.

Kemiskinan merupakan isu kompleks yang menghantui berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Masyarakat miskin seringkali diidentifikasi sebagai kelompok yang memiliki keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, sanitasi, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Kondisi ini diperparah dengan kerentanan terhadap bencana alam, perubahan iklim, dan fluktuasi ekonomi. Kemiskinan bukan hanya sekadar masalah ekonomi, tetapi juga masalah sosial dan multidimensional.

Lingkungan tempat tinggal yang tidak layak, kurangnya lapangan pekerjaan, tingkat pendidikan yang rendah, serta diskriminasi menjadi faktor-faktor yang saling terkait dan memperburuk kondisi masyarakat miskin.

Akibatnya, mereka seringkali terjebak dalam siklus kemiskinan antar generasi yang sulit diputuskan. Pemerintah dan berbagai organisasi masyarakat sipil terus berupaya untuk mengatasi kemiskinan melalui berbagai program bantuan sosial, pelatihan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi.

Bantuan langsung tunai, subsidi, serta program kesehatan dan pendidikan gratis adalah beberapa contoh upaya yang dilakukan untuk meringankan beban hidup masyarakat miskin. Namun, upaya pengentasan kemiskinan bukan tanpa tantangan.

Distribusi bantuan yang tidak merata, kurangnya koordinasi antar lembaga, serta partisipasi masyarakat yang rendah seringkali menjadi hambatan dalam mencapai tujuan yang diharapkan.

Selain itu, perubahan iklim dan pandemi global seperti COVID-19 juga memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan angka kemiskinan. Meskipun demikian, harapan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera tetap ada.

Dengan pendekatan yang holistik, inovatif, dan berkelanjutan, serta partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, kemiskinan dapat dikurangi secara signifikan.

Pemberdayaan masyarakat, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja yang layak adalah kunci utama untuk membuka pintu harapan bagi masyarakat miskin.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pekerja Miskin Saat Ini: Pilih Beli Beras Dibandingkan Bayar Iuran BPJS

Pekerja Miskin Saat Ini: Pilih Beli Beras Dibandingkan Bayar Iuran BPJS

Bisnis | Kamis, 08 Mei 2025 | 14:00 WIB

Bank Dunia Bilang Kita 60% Miskin, BPS Cuma 8%: Siapa yang Salah Hitung?

Bank Dunia Bilang Kita 60% Miskin, BPS Cuma 8%: Siapa yang Salah Hitung?

Your Say | Rabu, 07 Mei 2025 | 09:40 WIB

Bos BPS Buka-bukaan Standar Miskin Orang Indonesia

Bos BPS Buka-bukaan Standar Miskin Orang Indonesia

Bisnis | Sabtu, 03 Mei 2025 | 16:41 WIB

Terkini

5 Sabun Cuci Muka untuk Kulit Kering dan Kusam di Bawah Rp50 Ribu

5 Sabun Cuci Muka untuk Kulit Kering dan Kusam di Bawah Rp50 Ribu

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:32 WIB

Saham RANS Milik Raffi Ahmad Terpuruk! Ribuan Investor Angkat Kaki

Saham RANS Milik Raffi Ahmad Terpuruk! Ribuan Investor Angkat Kaki

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:30 WIB

Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus

Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:25 WIB

Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival

Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival

Jawa Tengah | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:22 WIB

Sassuolo Terpuruk Tanpa Jay Idzes, Pertahanan Bobol 16 Gol dalam 8 Laga

Sassuolo Terpuruk Tanpa Jay Idzes, Pertahanan Bobol 16 Gol dalam 8 Laga

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:21 WIB

Mees Hilgers Comeback Usai 520 Hari, Pelatih Heerenveen Langsung Beri Tantangan

Mees Hilgers Comeback Usai 520 Hari, Pelatih Heerenveen Langsung Beri Tantangan

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:14 WIB

Pertamina Bidik Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat dan Bensin Hijau

Pertamina Bidik Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat dan Bensin Hijau

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:11 WIB

Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians

Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:10 WIB

Pembalut Dikenakan PPN, Negara Tak Etis Pajaki Kebutuhan Dasar Perempuan

Pembalut Dikenakan PPN, Negara Tak Etis Pajaki Kebutuhan Dasar Perempuan

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:05 WIB

Coach Justin Soroti Peran AXIS Nation Cup dalam Lahirkan Talenta Futsal Muda

Coach Justin Soroti Peran AXIS Nation Cup dalam Lahirkan Talenta Futsal Muda

Sport | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:03 WIB

×