Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.599.000
Beli Rp2.485.000
IHSG 5.924,360
LQ45 589,254
Srikehati 291,550
JII 348,641
USD/IDR 18.064

Bank Dunia: Pinjaman Utang Negara Berkembang Tidak Transparan

Iwan Supriyatna, Rina Anggraeni

Senin, 23 Juni 2025 | 08:30 WIB
Bank Dunia: Pinjaman Utang Negara Berkembang Tidak Transparan
Ilustrasi logo Bank Dunia.

Suara.com - World Bank atau Bank Dunia melaporkan beberapa negara berkembang tidak melaporkan utangnya secara transparan. Lantaran, banyak negara berkembang beralih ke pengaturan pinjaman di luar anggaran dan lebih kompleks sebagai respons terhadap lingkungan pembiayaan yang lebih ketat.

Sehingga semakin sulit untuk menilai eksposur utang publik secara menyeluruh, menurut laporan Bank Dunia baru tentang transparansi utang. Untuk mengatasi masalah ini, laporan tersebut merekomendasikan perubahan mendasar dalam cara negara debitur dan kreditur melaporkan dan mengungkapkan utang.

"Termasuk cakupan yang lebih luas tentang apa yang dilaporkan dan pengungkapan yang lebih mendalam, per pinjaman. Ketika utang tersembunyi terungkap, pendanaan mengering dan syarat-syarat menjadi semakin buruk," kata Direktur Pelaksana Senior Bank Dunia Axel van Trotsenburg dilansri dalam lama resmi Bank Dunia, Senin (23/6/2025).

Laporan, transparansi utang radikal menunjukkan bahwa meskipun proporsi negara berpenghasilan rendah yang menerbitkan beberapa data utang telah tumbuh dari di bawah 60 persen menjadi lebih dari 75 persen sejak 2020.

Hanya 25 persen yang mengungkapkan informasi tingkat pinjaman pada utang yang baru dikontrak. Meningkatnya pengaturan pembiayaan yang kompleks dan sering kali tidak transparan seperti penempatan swasta, pertukaran bank sentral, dan transaksi yang dijaminkan telah semakin mempersulit pelaporan.

“Kasus utang yang tidak dilaporkan baru-baru ini telah menyoroti lingkaran setan yang dapat dipicu oleh kurangnya transparansi," kata Direktur Pelaksana Senior Bank Dunia Axel van Trotsenburg.

Menurut dia, ketika utang tersembunyi muncul, pembiayaan mengering dan persyaratan memburuk. Negara-negara beralih ke transaksi yang tidak transparan dan dijaminkan.

Bahkan, memperingatkan utang yang tidak dilaporkan secara transparan berpotensi memicu krisis.
"Transparansi utang radikal, yang membuat informasi yang tepat waktu dan dapat diandalkan dapat diakses, sangat penting untuk memutus siklus tersebut," katanya.

Menurut laporan tersebut, utang yang diterbitkan di dalam negeri juga meningkat, tetapi standar pengungkapan tidak memadai. Negara-negara juga beralih ke restrukturisasi utang parsial dan rahasia yang diam-diam dengan kreditor tertentu, sehingga menghilangkan informasi penting dari pasar.

baca juga

Laporan tersebut merekomendasikan debitur dan kreditor mengambil langkah-langkah mendesak untuk meningkatkan praktik transparansi. Ini termasuk reformasi hukum dan peraturan yang mewajibkan transparansi dalam kontrak pinjaman dan pengungkapan persyaratan pinjaman, partisipasi penuh oleh negara-negara kreditor dalam proses rekonsiliasi utang yang komprehensif.

Lalu audit yang lebih teratur dan pengawasan nasional yang lebih baik, dan rilis publik persyaratan restrukturisasi utang setelah perjanjian diselesaikan.

"Transparansi utang bukan hanya masalah teknis—ini adalah kebijakan publik strategis yang membangun kepercayaan, mengurangi biaya pinjaman, dan menarik investasi,” kata Pablo Saavedra, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kemakmuran.

"Transparansi utang yang radikal tidak hanya mendukung keberlanjutan utang tetapi juga membuka investasi sektor swasta untuk mendorong penciptaan lapangan kerja," tambahnya.

Misalnya Senegal telah menggunakan penempatan utang swasta saat bernegosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) terkait pelaporan yang tidak akurat atas utang sebelumnya.
Di Nigeria, bank sentral mengungkapkan pada awal 2023 bahwa miliaran dolar AS dari cadangan devisanya terikat dalam kontrak keuangan kompleks yang dinegosiasikan oleh kepemimpinan sebelumnya.

Bank Dunia menyatakan bahwa cakupan pinjaman yang lebih luas dan pengungkapan mendalam per pinjaman akan memungkinkan komunitas internasional menilai sepenuhnya tingkat eksposur utang publik. Inti dari upaya Bank Dunia untuk mempromosikan transparansi utang adalah program bantuan teknisnya.

Lalu, mempromosikan reformasi transparansi khusus negara, dan Sistem Pelaporan Debitur global, sumber tunggal terpenting data yang dapat diverifikasi tentang utang luar negeri negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Upaya sedang dilakukan untuk memperluas Sistem agar mencakup utang domestik dan lebih meningkatkan kualitas data.

Terlebih, Bank juga menginginkan audit dilakukan secara lebih rutin, ketentuan restrukturisasi utang dipublikasikan, dan para kreditur membuka catatan pinjaman serta jaminan mereka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Metode Penghitungan Angka Kemiskinan BPS Beda dengan Bank Dunia

Metode Penghitungan Angka Kemiskinan BPS Beda dengan Bank Dunia

Bisnis | Rabu, 18 Juni 2025 | 19:48 WIB

8 Rekomendasi Pinjaman Bank Digital Cair Cepat, Tanpa Perlu Agunan dan Syarat Mudah

8 Rekomendasi Pinjaman Bank Digital Cair Cepat, Tanpa Perlu Agunan dan Syarat Mudah

Tekno | Rabu, 18 Juni 2025 | 16:22 WIB

Gus Ipul Balas Bank Dunia soal 194 Juta Penduduk Miskin: Mungkin Beda Ukuran

Gus Ipul Balas Bank Dunia soal 194 Juta Penduduk Miskin: Mungkin Beda Ukuran

Video | Rabu, 18 Juni 2025 | 09:28 WIB

Terkini

Bersinergi dalam Prestasi, PNM Dorong Peningkatan Produktivitas Lewat Kegiatan Sportivitas

Bersinergi dalam Prestasi, PNM Dorong Peningkatan Produktivitas Lewat Kegiatan Sportivitas

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 18:39 WIB

BRI Salurkan Ambulans untuk SMA Taruna Nusantara, Perkuat Layanan Kesehatan Sekolah

BRI Salurkan Ambulans untuk SMA Taruna Nusantara, Perkuat Layanan Kesehatan Sekolah

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 18:24 WIB

19.539 Unit Kopdes Segera Dibangun, Menkop: 83.000 KDMP Sudah Berbadan Hukum

19.539 Unit Kopdes Segera Dibangun, Menkop: 83.000 KDMP Sudah Berbadan Hukum

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 17:59 WIB

Rupiah Terancam! Siap-siap Hadapi Tekanan Berat Senin Besok

Rupiah Terancam! Siap-siap Hadapi Tekanan Berat Senin Besok

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 17:34 WIB

Aturan Free Float, Puluhan Saham Big Caps Berisiko Kena Tekanan Jual

Aturan Free Float, Puluhan Saham Big Caps Berisiko Kena Tekanan Jual

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 16:54 WIB

Bahlil Buka Peluang Aceh Dapat Porsi Manfaat Lebih Besar dari Blok Andaman

Bahlil Buka Peluang Aceh Dapat Porsi Manfaat Lebih Besar dari Blok Andaman

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 15:06 WIB

Ancaman Resesi Global! Trump Deklarasikan Perang, Pangkalan Militer AS Diserang Iran

Ancaman Resesi Global! Trump Deklarasikan Perang, Pangkalan Militer AS Diserang Iran

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 14:46 WIB

IHSG Sepekan Menguat ke Level 5.924, Kapitalisasi Pasar BEI Meroket

IHSG Sepekan Menguat ke Level 5.924, Kapitalisasi Pasar BEI Meroket

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 14:19 WIB

Jaga Rekening Tetap Aktif, BRI Perkuat Sistem Keamanan dan Perlindungan Nasabah

Jaga Rekening Tetap Aktif, BRI Perkuat Sistem Keamanan dan Perlindungan Nasabah

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 12:42 WIB

Emas Antam Tembus Rp2,7 Juta per Gram, Cek Rincian Harga di Pegadaian Hari Ini

Emas Antam Tembus Rp2,7 Juta per Gram, Cek Rincian Harga di Pegadaian Hari Ini

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 11:30 WIB

×