Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.343,711
LQ45 630,859
Srikehati 307,881
JII 380,533
USD/IDR 17.914

Metode Penghitungan Angka Kemiskinan BPS Beda dengan Bank Dunia

Liberty Jemadu, Lilis Varwati

Rabu, 18 Juni 2025 | 19:48 WIB
Metode Penghitungan Angka Kemiskinan BPS Beda dengan Bank Dunia
BPS mengatakan metode menghitung angka kemiskinan yang dilakukan pihaknya di Indonesia berbeda dengan pendekatan dari Bank Dunia. Foto: Warga beraktifitas di salah satu pemukiman padat penduduk di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (30/5/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa perbedaan angka kemiskinan antara versi pemerintah Indonesia dan Bank Dunia bukan disebabkan kesalahan, melainkan karena perbedaan metode penghitungan yang digunakan masing-masing lembaga.

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, menanggapi laporan Bank Dunia yang menyebut jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 194,6 juta jiwa atau sekitar 70 persen populasi.

Ateng menjelaskan bahwa BPS mengukur kemiskinan berdasarkan basic need approach atau pendekatan kebutuhan dasar, yang meliputi dua komponen utama yaitu pengeluaran untuk makanan dan pengeluaran non-makanan.

"Ini adalah basic need method dengan kita mengukur pengeluarannya dari pengeluaran makanan dan pengeluaran yang non-makanan," kata Ateng kepada suara.com, ditemui di Kantor Kemensos, Jakarta, Rabu (18/6/2025).

Ia menambahkan, pendekatan ini bertujuan mengidentifikasi masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Ateng menjelaskan bahwa penghitungan kemiskinan nasional oleh BPS juga dilakukan sesuai konteks sosial-ekonomi masyarakat Indonesia, karena hal itu akan berkaitan dengan strategi pemerintah dalam menentukan cara pengentasan kemiskinan.

"Nanti yang menarik kalau kemiskinan ya teman-teman melihat karakteristiknya aja. Kemiskinan itu adanya di kelapangan usaha apa, pendidikannya apa, sehingga otomatis kita akan bisa (menentukan cara) untuk mengentaskannya pemerintah tentunya," tuturnya.

Hal tersebut berbeda dengan pendekatan yang digunakan Bank Dunia karena lebih bersifat global.

"Kalau Bank Dunia menggunakan paritas daya beli dan tujuannya untuk compare di internasional juga. Kalau di masing-masing negara kan masing-masing ada yang mengukur kemiskinan nasional di situ," pungkasnya.

baca juga

Sementara itu, World Bank atau Bank Dunia mencatat kalau jumlah angka kemiskinan di Indonesia telah melonjak drastis hingga menyentuh angka 194,6 juta jiwa. Hal ini berdasarkan laporan bertajuk "June 2025 Update to the Poverty and Inequality Platform" secara resmi mengubah standar garis kemiskinan global.

Bank Dunia selama ini menggunakan indikator kemiskinan global berdasarkan paritas daya beli (Purchasing Power Parity/PPP), dengan ambang batas sekitar US$2,15 per hari per orang. Standar ini dirancang untuk memungkinkan perbandingan lintas negara.

Sebelumnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul juga telah merespons laporan Bank Dunia tersebut. Ia meminta publik tetap merujuk pada data resmi dari BPS, sembari menjelaskan bahwa perbedaan angka muncul akibat perbedaan metode pengukuran.

"Ya beda ukuran aja mungkin. Kita lihat itu BPS nanti ya," kata Gus Ipul kepada wartawan, ditemui usai menghadiri pembukaan acara retret Kepala Sekolah Rakyat di Jakarta Selatan, Selasa (17/6/2025).

Data yang disusun pemerintah RI melalui BPS mencatat kalau angka masyarakat miskin di Indonesia sebanyak 24 juta jiwa atau 8,57 persen dari total penduduk Indonesia. Angka itu berdasarkan perhitungan terbaru dari BPS yang disusun dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dipetakan pada 2025.

Indikator DTSEN itu memetakan jumlah masyarakat miskin dilihat dari pengeluaran per bulan per kapita sebesar Rp 600.000.

Selain itu, ada pula kategori masyarakat miskin ekstrem yang jumlahnya sekitar 3,57 juta jiwa atau sekitar 1,13 persen dari total penduduk Indonesia. Masyarakat miskin ekstrem itu dilihat dari pengeluaran per kapita per bulannya hanya Rp 400.000.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gus Ipul Balas Bank Dunia soal 194 Juta Penduduk Miskin: Mungkin Beda Ukuran

Gus Ipul Balas Bank Dunia soal 194 Juta Penduduk Miskin: Mungkin Beda Ukuran

Video | Rabu, 18 Juni 2025 | 09:28 WIB

Bank Dunia Ungkap Penduduk Miskin di Indonesia Tembus 194 Juta, Begini Respons Mensos Gus Ipul

Bank Dunia Ungkap Penduduk Miskin di Indonesia Tembus 194 Juta, Begini Respons Mensos Gus Ipul

News | Selasa, 17 Juni 2025 | 13:50 WIB

Bank Dunia Kucurkan Utang Buat RI Rp34,6 Triliun

Bank Dunia Kucurkan Utang Buat RI Rp34,6 Triliun

Bisnis | Selasa, 17 Juni 2025 | 12:55 WIB

Bank Dunia Buka Suara Usai Ungkap 194 Juta Rakyat RI Masuk Kategori Miskin!

Bank Dunia Buka Suara Usai Ungkap 194 Juta Rakyat RI Masuk Kategori Miskin!

Bisnis | Senin, 16 Juni 2025 | 15:50 WIB

Bank Dunia: Ekonomi RI Mentok di 4,7 Persen Tahun Ini

Bank Dunia: Ekonomi RI Mentok di 4,7 Persen Tahun Ini

Bisnis | Rabu, 11 Juni 2025 | 14:34 WIB

Terkini

Belanja Skincare di Watsons Pakai BRImo Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya

Belanja Skincare di Watsons Pakai BRImo Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya

Bri | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 19:05 WIB

5 Contoh Sambutan Ketua Panitia 17 Agustus yang Formal untuk Berbagai Acara

5 Contoh Sambutan Ketua Panitia 17 Agustus yang Formal untuk Berbagai Acara

Lifestyle | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 19:05 WIB

BBM Subsidi Tak Naik, Prabowo: Banyak Negara Panik, Indonesia Masih Cool

BBM Subsidi Tak Naik, Prabowo: Banyak Negara Panik, Indonesia Masih Cool

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 19:03 WIB

Rahasia Warga Sulsel Tetap Antusias Daftar Haji Meski Masa Tunggu Puluhan Tahun

Rahasia Warga Sulsel Tetap Antusias Daftar Haji Meski Masa Tunggu Puluhan Tahun

Sulsel | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 18:56 WIB

Daftar Serpong Warrior Challenge Run 2026, Dapatkan Diskon Tiket via BRImo

Daftar Serpong Warrior Challenge Run 2026, Dapatkan Diskon Tiket via BRImo

Bri | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 18:54 WIB

Strategi Mitsubishi Fuso Kawal Roadmap Implementasi Biodiesel B50

Strategi Mitsubishi Fuso Kawal Roadmap Implementasi Biodiesel B50

Otomotif | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 18:50 WIB

Bendera Merah Putih Mulai Menghiasi Jalanan, Mengapa Tradisi ini Penting?

Bendera Merah Putih Mulai Menghiasi Jalanan, Mengapa Tradisi ini Penting?

Your Say | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 18:50 WIB

Isu Dugaan Ancaman Kapolri, Aktivis Desak Kasus Eks Jampidsus Diusut Tuntas: Negara Tak Boleh Kalah

Isu Dugaan Ancaman Kapolri, Aktivis Desak Kasus Eks Jampidsus Diusut Tuntas: Negara Tak Boleh Kalah

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 18:48 WIB

60 Atlet Berebut Super Tiket PB Djarum 2026, GOR Dafest Makassar Makin Memanas

60 Atlet Berebut Super Tiket PB Djarum 2026, GOR Dafest Makassar Makin Memanas

Sport | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 18:48 WIB

Target Nol Keracunan, BGN Bakal Adopsi Teknologi Deteksi Makanan Basi Milik BRIN

Target Nol Keracunan, BGN Bakal Adopsi Teknologi Deteksi Makanan Basi Milik BRIN

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 18:45 WIB

×