Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.655.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

Metode Penghitungan Angka Kemiskinan BPS Beda dengan Bank Dunia

Liberty Jemadu, Lilis Varwati

Rabu, 18 Juni 2025 | 19:48 WIB
Metode Penghitungan Angka Kemiskinan BPS Beda dengan Bank Dunia
BPS mengatakan metode menghitung angka kemiskinan yang dilakukan pihaknya di Indonesia berbeda dengan pendekatan dari Bank Dunia. Foto: Warga beraktifitas di salah satu pemukiman padat penduduk di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (30/5/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa perbedaan angka kemiskinan antara versi pemerintah Indonesia dan Bank Dunia bukan disebabkan kesalahan, melainkan karena perbedaan metode penghitungan yang digunakan masing-masing lembaga.

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, menanggapi laporan Bank Dunia yang menyebut jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 194,6 juta jiwa atau sekitar 70 persen populasi.

Ateng menjelaskan bahwa BPS mengukur kemiskinan berdasarkan basic need approach atau pendekatan kebutuhan dasar, yang meliputi dua komponen utama yaitu pengeluaran untuk makanan dan pengeluaran non-makanan.

"Ini adalah basic need method dengan kita mengukur pengeluarannya dari pengeluaran makanan dan pengeluaran yang non-makanan," kata Ateng kepada suara.com, ditemui di Kantor Kemensos, Jakarta, Rabu (18/6/2025).

Ia menambahkan, pendekatan ini bertujuan mengidentifikasi masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Ateng menjelaskan bahwa penghitungan kemiskinan nasional oleh BPS juga dilakukan sesuai konteks sosial-ekonomi masyarakat Indonesia, karena hal itu akan berkaitan dengan strategi pemerintah dalam menentukan cara pengentasan kemiskinan.

"Nanti yang menarik kalau kemiskinan ya teman-teman melihat karakteristiknya aja. Kemiskinan itu adanya di kelapangan usaha apa, pendidikannya apa, sehingga otomatis kita akan bisa (menentukan cara) untuk mengentaskannya pemerintah tentunya," tuturnya.

Hal tersebut berbeda dengan pendekatan yang digunakan Bank Dunia karena lebih bersifat global.

"Kalau Bank Dunia menggunakan paritas daya beli dan tujuannya untuk compare di internasional juga. Kalau di masing-masing negara kan masing-masing ada yang mengukur kemiskinan nasional di situ," pungkasnya.

baca juga

Sementara itu, World Bank atau Bank Dunia mencatat kalau jumlah angka kemiskinan di Indonesia telah melonjak drastis hingga menyentuh angka 194,6 juta jiwa. Hal ini berdasarkan laporan bertajuk "June 2025 Update to the Poverty and Inequality Platform" secara resmi mengubah standar garis kemiskinan global.

Bank Dunia selama ini menggunakan indikator kemiskinan global berdasarkan paritas daya beli (Purchasing Power Parity/PPP), dengan ambang batas sekitar US$2,15 per hari per orang. Standar ini dirancang untuk memungkinkan perbandingan lintas negara.

Sebelumnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul juga telah merespons laporan Bank Dunia tersebut. Ia meminta publik tetap merujuk pada data resmi dari BPS, sembari menjelaskan bahwa perbedaan angka muncul akibat perbedaan metode pengukuran.

"Ya beda ukuran aja mungkin. Kita lihat itu BPS nanti ya," kata Gus Ipul kepada wartawan, ditemui usai menghadiri pembukaan acara retret Kepala Sekolah Rakyat di Jakarta Selatan, Selasa (17/6/2025).

Data yang disusun pemerintah RI melalui BPS mencatat kalau angka masyarakat miskin di Indonesia sebanyak 24 juta jiwa atau 8,57 persen dari total penduduk Indonesia. Angka itu berdasarkan perhitungan terbaru dari BPS yang disusun dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dipetakan pada 2025.

Indikator DTSEN itu memetakan jumlah masyarakat miskin dilihat dari pengeluaran per bulan per kapita sebesar Rp 600.000.

Selain itu, ada pula kategori masyarakat miskin ekstrem yang jumlahnya sekitar 3,57 juta jiwa atau sekitar 1,13 persen dari total penduduk Indonesia. Masyarakat miskin ekstrem itu dilihat dari pengeluaran per kapita per bulannya hanya Rp 400.000.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gus Ipul Balas Bank Dunia soal 194 Juta Penduduk Miskin: Mungkin Beda Ukuran

Gus Ipul Balas Bank Dunia soal 194 Juta Penduduk Miskin: Mungkin Beda Ukuran

Video | Rabu, 18 Juni 2025 | 09:28 WIB

Bank Dunia Ungkap Penduduk Miskin di Indonesia Tembus 194 Juta, Begini Respons Mensos Gus Ipul

Bank Dunia Ungkap Penduduk Miskin di Indonesia Tembus 194 Juta, Begini Respons Mensos Gus Ipul

News | Selasa, 17 Juni 2025 | 13:50 WIB

Bank Dunia Kucurkan Utang Buat RI Rp34,6 Triliun

Bank Dunia Kucurkan Utang Buat RI Rp34,6 Triliun

Bisnis | Selasa, 17 Juni 2025 | 12:55 WIB

Bank Dunia Buka Suara Usai Ungkap 194 Juta Rakyat RI Masuk Kategori Miskin!

Bank Dunia Buka Suara Usai Ungkap 194 Juta Rakyat RI Masuk Kategori Miskin!

Bisnis | Senin, 16 Juni 2025 | 15:50 WIB

Bank Dunia: Ekonomi RI Mentok di 4,7 Persen Tahun Ini

Bank Dunia: Ekonomi RI Mentok di 4,7 Persen Tahun Ini

Bisnis | Rabu, 11 Juni 2025 | 14:34 WIB

Terkini

3 Saham Paling 'Sibuk' pada Sesi I, IHSG Ambrol di Zona Merah

3 Saham Paling 'Sibuk' pada Sesi I, IHSG Ambrol di Zona Merah

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 13:35 WIB

Gubernur BI: UMKM Jangan Langsung Diberi Modal

Gubernur BI: UMKM Jangan Langsung Diberi Modal

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 13:29 WIB

Tak Mau Disalahkan, Bahlil Serahkan Urusan Mati Lampu ke PLN

Tak Mau Disalahkan, Bahlil Serahkan Urusan Mati Lampu ke PLN

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 13:13 WIB

Listrik Byar Pet, Pengamat UGM: PLN Jangan Jadi 'Perusahaan Lilin Negara'

Listrik Byar Pet, Pengamat UGM: PLN Jangan Jadi 'Perusahaan Lilin Negara'

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 13:09 WIB

IHSG Loyo Nyaris ke Level 5.900, 501 Saham Kebakaran

IHSG Loyo Nyaris ke Level 5.900, 501 Saham Kebakaran

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:54 WIB

Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran

Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:36 WIB

PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:03 WIB

Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga

Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:54 WIB

Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!

Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:40 WIB

YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen

YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:11 WIB