Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Setelah Larangan Ekspor Nikel, Indonesia Siap Jadi Pusat Baterai Dunia

Mohammad Fadil Djailani

Sabtu, 28 Juni 2025 | 15:14 WIB
Setelah Larangan Ekspor Nikel, Indonesia Siap Jadi Pusat Baterai Dunia
Ilustrasi. Indonesia kini benar-benar serius menggarap "harta karun" nikelnya.

Suara.com - Indonesia kini benar-benar serius menggarap "harta karun" nikelnya. Bukan lagi sekadar menjual bijih mentah, pemerintah terus memperkuat hilirisasi nikel sebagai fondasi kokoh untuk membangun industri baterai kendaraan listrik (EV).

Ini adalah langkah strategis ambisius menuju ekonomi hijau yang tidak hanya mendongkrak pendapatan negara, tapi juga menciptakan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Sejak kebijakan larangan ekspor bijih nikel diberlakukan pada 2014, hasilnya sungguh mencengangkan dimana nilai ekspor produk olahan nikel melonjak dari hanya sekitar USD 1 miliar menjadi lebih dari USD 33,64 miliar pada 2024.

Hilirisasi ini terbukti ampuh menyumbang pertumbuhan sektor industri pengolahan, menciptakan ribuan lapangan kerja baru, serta meningkatkan nilai tambah dalam negeri secara signifikan.

Kini, Indonesia tak berhenti di situ. Negara ini sedang melangkah ke fase berikutnya yang jauh lebih ambisius: membangun ekosistem industri EV Battery secara terintegrasi. Artinya, semua proses, mulai dari produksi prekursor hingga perakitan sel baterai dan kendaraan listrik, akan dilakukan di dalam negeri.

Proyek-proyek raksasa seperti pembangunan pabrik baterai di Karawang dan Morowali menjadi bukti nyata komitmen kuat untuk menciptakan rantai pasok domestik yang kompetitif di pasar global.

Bayangkan potensi nilai tambahnya! Sebagai pembanding, Tiongkok, yang sudah membangun rantai pasok EV sejak dekade lalu, pada 2023 mencatat kontribusi industri EV dan baterai mencapai lebih dari USD 150 miliar. Negara Tirai Bambu ini pun kini menjadi eksportir utama kendaraan listrik dunia. Indonesia optimis bisa menyusul kesuksesan tersebut.

Wakil Ketua Komite Hilirisasi Mineral dan Batubara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Djoko Widayatno, menegaskan bahwa hilirisasi nikel telah memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ia menekankan pentingnya mendorong hilirisasi ke tahap lanjutan, yakni pengembangan ekosistem baterai EV, untuk menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dan berkelanjutan.

Djoko mengungkapkan, sejak larangan ekspor bijih nikel diperkuat pada 2020, nilai ekspor nikel olahan Indonesia melesat tajam. Dari sekitar Rp17 triliun pada 2014, melesat menjadi Rp510 triliun pada 2023. Indonesia kini resmi menjadi eksportir nikel olahan terbesar di dunia.

baca juga

"Indonesia sudah mencetak capaian strategis dalam hilirisasi nikel. Namun, agar proses ini benar-benar berkelanjutan dan inklusif, perlu diperkuat dengan tata kelola yang baik dan pembangunan ekosistem industri yang komprehensif," kata Djoko, Sabtu (28/6/2025).

Menurut Djoko, langkah selanjutnya harus diarahkan pada pengembangan produk akhir seperti baterai EV dan stainless steel, bukan lagi sekadar produk setengah jadi. Dia mencatat, nilai tambah dari produk berbasis baterai bisa mencapai ratusan kali lipat dibandingkan bijih mentah. Sebagai contoh, mixed hydroxide precipitate (MHP) bernilai hingga 120 kali dari bijih nikel, sementara baterai sel EV bisa mencapai 642 kali lipat. Ini adalah potensi ekonomi yang tak bisa diremehkan!

Djoko melanjutkan, Indonesia harus belajar dari kesuksesan Tiongkok dalam mengembangkan industri baterai EV. Saat ini, Tiongkok menguasai sekitar 60% produksi EV global dan 80% pasar baterai dunia, serta menjadi pusat teknologi dan rantai pasok kendaraan listrik terbesar secara global.

"Untuk itu, kami mendorong pemerintah memperkuat tata kelola lingkungan, memperluas pelatihan SDM lokal, serta mendorong transfer teknologi agar industri hilir nikel memberikan manfaat maksimal bagi Indonesia," ujarnya.

Djoko juga menekankan pentingnya mengarahkan nikel kelas satu (high grade) untuk produk baterai EV, bukan hanya untuk stainless steel. Langkah ini krusial untuk memaksimalkan potensi nikel dalam transisi energi dan mendukung target Net Zero Emissions (NZE) 2060 Indonesia. Selain itu, ia juga mendorong penggunaan teknologi bersih seperti High Pressure Acid Leach (HPAL) dan penerapan standar Environment, Social, and Governance (ESG) di seluruh rantai pasok.

"Transportasi masa depan harus ditopang oleh industri yang berkelanjutan. Nikel kita harus menjadi tulang punggung transisi energi hijau, bukan sekadar komoditas ekspor jangka pendek," tutupnya, memberikan pesan kuat tentang visi jangka panjang Indonesia di kancah energi global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

SOS Maluku Utara: Senator Minta Prabowo Selamatkan Lingkungan dari Tambang Nikel yang Merusak

SOS Maluku Utara: Senator Minta Prabowo Selamatkan Lingkungan dari Tambang Nikel yang Merusak

News | Sabtu, 28 Juni 2025 | 01:33 WIB

Perusahaan Tambang PT Wana Kencana Mineral Dituding Beroperasi Ilegal di Malut

Perusahaan Tambang PT Wana Kencana Mineral Dituding Beroperasi Ilegal di Malut

News | Jum'at, 27 Juni 2025 | 23:44 WIB

Perang Tarif AS-China Dorong RI Jadi Pusat Manufaktur dan Rantai Pasok Global

Perang Tarif AS-China Dorong RI Jadi Pusat Manufaktur dan Rantai Pasok Global

Bisnis | Jum'at, 27 Juni 2025 | 13:38 WIB

Terkini

Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu

Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu

Jabar | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:46 WIB

Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama

Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:32 WIB

Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan

Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:24 WIB

Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?

Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:18 WIB

10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas

10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:07 WIB

Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja

Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja

Sport | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:54 WIB

Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?

Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:28 WIB

175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya

175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya

Riau | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:17 WIB

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:10 WIB

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:04 WIB

×