Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Gubernur Bank Indonesia Ramal AS Resesi di 2026

Iwan Supriyatna | Rina Anggraeni | Suara.com

Jum'at, 04 Juli 2025 | 10:05 WIB
Gubernur Bank Indonesia Ramal AS Resesi di 2026
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) menilai bahwa ketidakpastian ekonomi global bakal berlanjut di 2026. Hal itu akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi global akan masih turun. Dia juga meramal Amerika Serikat juga akan mengalami resesi pada tahun 2026.

"Para tahun 2026 pertumbuhan ekonomi global stagnan di sekitar 3 persen. Di negara-negara mitra dagang utama pertumbuhan ekonomi akan menurun. Pertumbuhan ekonomi Amerika diperkirakan 2,1 persen pada tahun ini jadi 1,8 persen di 2026 bahkan risiko resesi," katanya dalam rapat Banggar di Gedung DPR.

Kata dia penyebab ekonomi dunia melambat dikarenakan tarif yang ditetapkan oleh Amerika Serikat. Selain itu geopolitik yang masih memanas di Timur Tengah.

"Kondisi global penuh ketidakpastian karena kebijakan tarif Amerika Serikat dan geopolitik Timur Tengah dan di beberapa belahan negara lain," katanya.

Dia menambahkan Eropa dan Jepang juga mengalami tekanan. Ekonomi Tiongkok juga melambat 4,3 persen di 2035. Namun, akan menurun 4,1 persen di 2026. Meskipun negara mitra dagang Indonesia cenderung melambat, India menjadi salah satu harapan Indonesia dalam mendorong ekspor.

"Yang diharapkan India 6,6, persen di 2026. Pertumbuhan ekonomi dan fragmentasi terganggunya pasokan dunia jadi tantangan kota dengan terus mendorong ekspor untuk pertumbuhan ekonomi nasional," jelasnya.

Dia menambahkan masih berpotensi menurunkan suku bunga acuan atau BI rate ke depan. Hal ini bertujuan untuk mendorong perekonomian pada 2025 dan 2026.

"Kami masih ada ruang menurunkan BI rate ke depan seiring dengan inflasi yang rendah dan salah satunya juga mendorong pertumbuhan ekonomi,"bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan konflik bersenjata hingga perang tarif dagang membuat ketidakpastian ekonomi semakin meningkat.

"Kondisi global kita semua melihat dinamis, ini akan mengubah banyak tatanan dunia, kita perlu waspada," katanya.

Menurut dia, ketidakpastian ekonomi pada kuartal II-2025 masih terus berlanjut. Ditandai dengan meningkatnya angka indeks ketidakpastian global (Global Uncertainty Index) yang bergerak ke level 472, beriringan dengan meroketnya kenaikan indeks biaya logistik (Baltic Dry Index) ke level 1605.

"Kuartal II secara global pemburukan di zona kontraktif, indeks ketidakpastian global melonjak, baltic dry index semuanya naik. Ini situasi yang tidak baik akan mempengaruhi kinerja ekonomi dunia," ucapnya.
Kata dia, pemerintah harus melakukan antisipasi terhadap berbagai risiko tekanan itu hingga 2026 mendatang.

"Implikasi posisi Indonesia terus non blok dan dampak imbas perekonomian karena ketidakpastian semua mengerucut, personalize, tidak mengikuti tatanan rule base international," jelasnya.

Sementara itu, dampak dari ketidakpastian global adalah pertumbuhan ekonomi dunia turun 2025 hanya 2,8%.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI, Intip Harta Ricky Perdana Gozali

Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI, Intip Harta Ricky Perdana Gozali

Bisnis | Kamis, 03 Juli 2025 | 11:26 WIB

Ricky Perdana Gozali Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI

Ricky Perdana Gozali Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI

Bisnis | Rabu, 02 Juli 2025 | 19:12 WIB

Nama Deputi Gubernur BI yang Baru Diumumkan Hari Ini, Intip Bocorannya

Nama Deputi Gubernur BI yang Baru Diumumkan Hari Ini, Intip Bocorannya

Bisnis | Rabu, 02 Juli 2025 | 07:54 WIB

Terkini

Pertamina Fasilitasi 1.346 Sertifikasi UMKM, MiniesQ Sukses Tembus Pasar Ritel Modern

Pertamina Fasilitasi 1.346 Sertifikasi UMKM, MiniesQ Sukses Tembus Pasar Ritel Modern

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 21:11 WIB

Lotte Chemical Indonesia Prioritaskan Pasokan Domestik di Tengah Krisis Rantai Pasok Global

Lotte Chemical Indonesia Prioritaskan Pasokan Domestik di Tengah Krisis Rantai Pasok Global

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 20:47 WIB

Purbaya Klaim MBG Bantu Dorong Ekonomi RI 1 Persen karena Serap 1 Juta Tenaga Kerja

Purbaya Klaim MBG Bantu Dorong Ekonomi RI 1 Persen karena Serap 1 Juta Tenaga Kerja

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 20:18 WIB

FTSE Pertahankan Status Indonesia, Reformasi Pasar Modal Diakui Dunia

FTSE Pertahankan Status Indonesia, Reformasi Pasar Modal Diakui Dunia

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 20:05 WIB

Purbaya Siapkan Lowongan Kerja Bea Cukai untuk 300 Lulusan SMA, Diumumkan Mei 2026

Purbaya Siapkan Lowongan Kerja Bea Cukai untuk 300 Lulusan SMA, Diumumkan Mei 2026

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 19:27 WIB

Gelar 206 Proyek di Bali, Kementerian PU Kucurkan Rp1,2 Triliun pada 2026

Gelar 206 Proyek di Bali, Kementerian PU Kucurkan Rp1,2 Triliun pada 2026

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 19:05 WIB

Ketergantungan Impor LPG RI Makin Dalam, Tembus 83,97% di 2026

Ketergantungan Impor LPG RI Makin Dalam, Tembus 83,97% di 2026

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 18:58 WIB

Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!

Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 18:57 WIB

OJK Yakin Pasar Modal RI Kembali Dibanjiri Investor Setelah Status FTSE

OJK Yakin Pasar Modal RI Kembali Dibanjiri Investor Setelah Status FTSE

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 18:51 WIB

Kemendag Rilis 2 Aturan Baru, Perizinan Ekspor Kini Nggak Berbelit-belit

Kemendag Rilis 2 Aturan Baru, Perizinan Ekspor Kini Nggak Berbelit-belit

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 18:17 WIB