Kandungan Etanol di BBM Pertamina Bikin Heboh, Ternyata Sudah jadi Tren Global

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 08 Oktober 2025 | 17:23 WIB
Kandungan Etanol di BBM Pertamina Bikin Heboh, Ternyata Sudah jadi Tren Global
Sejumlah negara di dunia semakin agresif mendorong penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) untuk menekan emisi karbon dari sektor transportasi. [Antara]
baca 10 detik
  • Sejumlah negara di dunia semakin agresif mendorong penggunaan etanol sebagai campuran BBM.
  • Langkah ini disebut menjadi bagian dari strategi global menuju transisi energi bersih.
  • AS disebut telah lama menggunakan campuran etanol dalam bensin dengan tiga varian utama.

Suara.com - Sejumlah negara di dunia semakin agresif mendorong penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) untuk menekan emisi karbon dari sektor transportasi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi global menuju transisi energi bersih dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Seperti dikutip dari Energy Information Administration (EIA), Amerika Serikat telah lama menggunakan campuran etanol dalam bensin dengan tiga varian utama, yakni E10 (etanol 10%), E15 (etanol 15%), dan E85 (etanol 85%). E10 yang mengandung 10 persen etanol kini menjadi standar nasional karena terbukti mampu menurunkan emisi gas rumah kaca tanpa mengorbankan performa mesin secara signifikan.

Tren serupa juga terlihat di Eropa dan Asia, di mana pemerintah dan industri energi berlomba memperluas penggunaan bioetanol sebagai bagian dari komitmen global mengurangi emisi, termasuk Indonesia yang baru menggunakan etanol 3,5% dalam kandungan BBM nya.

Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yus Widjajanto, bahkan menilai kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang akan menambah kadar etanol dalam BBM menjadi 10% merupakan langkah maju. “Etanol ini selain mengurangi CO, juga menaikkan angka oktan. Jadi kita bisa pakai bahan bakar RON rendah lalu ditambah etanol hingga menjadi RON tinggi,” ujarnya, Rabu (8/10/2025).

Di Eropa, Uni Eropa pun tengah mengkaji penerapan bensin E20 atau campuran 20 persen etanol yang dinilai mampu menurunkan emisi karbon hingga 6 persen dibandingkan E10. Seperti dikutip dari EU Research & Innovation, kebijakan ini masih dalam tahap uji karena memerlukan kesiapan teknologi kendaraan dan pasokan bioetanol yang memadai. Sementara itu, Argus Media mencatat peningkatan tajam konsumsi bensin E10 di Jerman berkat harga yang lebih kompetitif dan penerimaan masyarakat yang semakin baik terhadap bahan bakar ramah lingkungan.

India menjadi contoh negara berkembang yang agresif dalam mendorong program biofuel nasional. Seperti dikutip dari Press Information Bureau (PIB) Pemerintah India, negara tersebut menargetkan pencampuran 20 persen etanol dalam bensin (E20) pada tahun 2025 untuk menekan impor minyak mentah dan memberikan nilai tambah bagi petani tebu serta industri biomassa.

Lembaga energi internasional juga mencatat tren serupa. Laporan International Energy Agency (IEA) yang berjudul “Renewables 2023” menyebut, permintaan biofuel meningkat pesat di negara berkembang seperti Brasil, Indonesia, dan India. IEA memperkirakan konsumsi etanol global akan terus tumbuh seiring upaya dekarbonisasi transportasi yang kian masif.

Tri menjelaskan, kendaraan modern di Indonesia sudah kompatibel dengan E10 bahkan E20, seiring penerapan regulasi emisi Euro 4. “Setelah regulasi itu diterapkan, semua kendaraan bensin dan sepeda motor yang diproduksi di Indonesia sudah siap dengan E10,” katanya.

Ia menambahkan, kekhawatiran bahwa etanol dapat merusak mesin tidak berdasar. “Pengaruhnya terhadap tenaga mesin cuma sekitar 1%, tidak terasa, dan kendaraan tidak rusak,” tegasnya.

baca juga

Secara global, penerapan kebijakan biofuel kini menjadi arus utama di lebih dari 70 negara. Seperti dikutip dari ResourceWise, Amerika Serikat dan Uni Eropa menjadi pelopor dalam kebijakan wajib pencampuran etanol, sementara kawasan Asia Selatan dan Amerika Latin mulai mempercepat implementasinya. Tren ini menunjukkan bahwa etanol kini menjadi bagian penting dari masa depan energi bersih dunia.

Etanol sendiri merupakan hasil fermentasi bahan nabati seperti tebu, jagung, atau singkong. Di banyak negara, senyawa ini sudah menjadi komponen wajib dalam bensin karena terbukti membantu peningkatan oktan dan penurunan emisi. Dengan demikian, langkah Indonesia untuk mengadopsi kebijakan serupa bukan hanya aman secara teknis, tetapi juga selaras dengan arah transisi energi bersih yang sedang ditempuh komunitas global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Heboh Kabar Pertalite Dicampur Etanol, Pertamina Patra Niaga: Hoaks!

Heboh Kabar Pertalite Dicampur Etanol, Pertamina Patra Niaga: Hoaks!

News | Rabu, 08 Oktober 2025 | 16:36 WIB

Bukan Indonesia yang Pertama, Negara-negara Ini Sudah Pakai BBM Campuran Etanol

Bukan Indonesia yang Pertama, Negara-negara Ini Sudah Pakai BBM Campuran Etanol

Lifestyle | Rabu, 08 Oktober 2025 | 16:25 WIB

Bensin Campur Etanol Datang, Mesin Kendaraan Tua Terancam?

Bensin Campur Etanol Datang, Mesin Kendaraan Tua Terancam?

Otomotif | Rabu, 08 Oktober 2025 | 15:00 WIB

Terkini

Single Life Bukan Kegagalan: Saat Perempuan Tak Lagi Takut Hidup Melajang

Single Life Bukan Kegagalan: Saat Perempuan Tak Lagi Takut Hidup Melajang

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 08:45 WIB

Emil Audero Debut 7 Penyelamatan Saat Rayo Vallecano Dipermalukan Kylian Mbappe

Emil Audero Debut 7 Penyelamatan Saat Rayo Vallecano Dipermalukan Kylian Mbappe

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 08:40 WIB

7 Cara Memilih Kompor Portable untuk Camping dan Traveling yang Aman Sekaligus Praktis

7 Cara Memilih Kompor Portable untuk Camping dan Traveling yang Aman Sekaligus Praktis

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 08:25 WIB

Dihadiri Wali Kota dan Plt Gubernur Riau, PSPS Pekanbaru Malah Kalah di Semarang

Dihadiri Wali Kota dan Plt Gubernur Riau, PSPS Pekanbaru Malah Kalah di Semarang

Riau | Minggu, 13 September 2026 | 08:15 WIB

Apakah Puff Cushion yang Lembap Bisa Memicu Timbulnya Jerawat Baru?

Apakah Puff Cushion yang Lembap Bisa Memicu Timbulnya Jerawat Baru?

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 08:13 WIB

Iran Berjuang Menjadi Anggota NDB BRICS Demi Lepas dari Sanksi Amerika Serikat

Iran Berjuang Menjadi Anggota NDB BRICS Demi Lepas dari Sanksi Amerika Serikat

News | Minggu, 13 September 2026 | 08:05 WIB

Harga HP Tecno RAM 8 GB Terbaru, Mulai Rp1 Jutaan Spek Menawan

Harga HP Tecno RAM 8 GB Terbaru, Mulai Rp1 Jutaan Spek Menawan

Tekno | Minggu, 13 September 2026 | 08:05 WIB

Ponsel Lipat Harga Mulai Rp30 Juta! Apa Saja Kehebatan iPhone Duo?

Ponsel Lipat Harga Mulai Rp30 Juta! Apa Saja Kehebatan iPhone Duo?

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 08:00 WIB

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palangka Raya

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palangka Raya

Foto | Minggu, 13 September 2026 | 08:00 WIB

Hiu Paus 8 Meter Terdampar di Pantai Pengeragoan, Mati dan Dikubur

Hiu Paus 8 Meter Terdampar di Pantai Pengeragoan, Mati dan Dikubur

Bali | Minggu, 13 September 2026 | 07:58 WIB

×